Perubahan pasar kerja akibat AI mulai terasa di kalangan Gen Z
Kecerdasan buatan atau AI kini tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga mulai menekan peluang kerja bagi generasi muda. Di tengah gelombang efisiensi dan otomatisasi, muncul kekhawatiran bahwa Gen Z akan menjadi kelompok paling rentan terdampak, terutama di pekerjaan awal yang selama ini jadi pintu masuk ke dunia profesional.
CEO ServiceNow Bill McDermott bahkan menilai masa depan kerja untuk Gen Z berpotensi makin berat. Ia menyebut tingkat pengangguran anak muda yang baru lulus saat ini sudah berada di level 9%, dan angka itu bisa naik hingga 30% dalam beberapa tahun ke depan jika adopsi AI terus meluas tanpa penyesuaian di pasar tenaga kerja.
AI dan menyusutnya pekerjaan level awal
McDermott menjelaskan bahwa tantangan terbesar datang dari makin banyaknya pekerjaan yang kini bisa dikerjakan oleh agen AI. Pola ini membuat banyak tugas administratif, pemrosesan data, hingga layanan dasar bisa dipindahkan dari pekerja manusia ke sistem otomatis yang lebih cepat dan murah.
Situasi tersebut berbahaya bagi Gen Z karena banyak dari mereka masih mengandalkan posisi entry-level untuk membangun pengalaman kerja. Jika lapangan kerja pemula menyempit, maka jalur masuk ke dunia profesional juga ikut mengecil dan memperpanjang masa pencarian kerja.
Berikut dampak yang paling sering dibahas para pengamat tenaga kerja terkait otomatisasi AI:
- Pekerjaan rutin lebih mudah digantikan sistem.
- Persaingan untuk posisi pemula menjadi lebih ketat.
- Perusahaan cenderung mencari kandidat yang sudah siap kerja.
- Pengalaman praktis makin sulit diperoleh dari jalur awal karier.
- Ketimpangan akses kerja bisa melebar antara lulusan baru dan pekerja berpengalaman.
Risiko bagi lulusan baru semakin nyata
Data yang dikutip McDermott menunjukkan tingkat pengangguran anak muda yang baru lulus telah mencapai 9%. Angka itu belum menggambarkan seluruh tekanan pasar kerja, karena banyak lulusan juga masuk kategori underemployment, yakni bekerja di bawah kualifikasi atau di luar bidang yang dipelajari.
Dalam konteks ini, AI tidak hanya menghapus sebagian pekerjaan, tetapi juga mengubah standar rekrutmen. Perusahaan dapat menuntut keterampilan yang lebih tinggi, pengalaman lebih panjang, dan kemampuan adaptasi teknologi sejak awal, padahal banyak pencari kerja muda belum sempat membangun rekam jejak profesional yang kuat.
Mengapa Gen Z paling terpapar
Generasi Z tumbuh di tengah transformasi digital yang cepat, tetapi itu tidak otomatis membuat mereka aman dari disrupsi. Justru, banyak pekerjaan yang biasa menjadi titik awal karier mereka berada di sektor yang paling mudah diotomatisasi.
Pekerjaan di bidang dukungan pelanggan, administrasi, produksi konten dasar, analisis data sederhana, dan input informasi kini semakin sering dibantu AI. Jika perusahaan terus memperluas penggunaan sistem ini, maka kebutuhan terhadap tenaga kerja junior bisa menyusut lebih jauh.
Sikap industri masih mendorong percepatan AI
Meski dampaknya ke pekerja muda mendapat sorotan, McDermott tidak menunjukkan tanda perlambatan terhadap pengembangan AI. Ia justru melihat masa depan teknologi ini sangat besar dan menyebut akan ada miliaran pengguna di masa mendatang yang tidak mungkin sepenuhnya dilayani manusia.
Pernyataan itu memperlihatkan arah industri yang masih sangat optimistis terhadap AI. Namun, optimisme teknologi belum tentu sejalan dengan kesiapan pasar kerja menyerap tenaga muda yang kehilangan akses ke pekerjaan awal.
Tekanan yang perlu diantisipasi pencari kerja muda
Agar tidak semakin tertinggal, Gen Z perlu bersiap menghadapi pasar kerja yang berubah cepat. Sejumlah langkah yang kerap disarankan para analis ketenagakerjaan mencakup peningkatan keterampilan digital, penguasaan alat berbasis AI, dan kemampuan berpindah ke bidang yang masih membutuhkan sentuhan manusia.
Langkah yang paling relevan bagi pencari kerja muda antara lain:
- Memperkuat skill yang sulit digantikan AI.
- Mempelajari penggunaan alat AI untuk produktivitas kerja.
- Membangun portofolio, bukan hanya mengandalkan ijazah.
- Mengikuti pelatihan singkat yang sesuai kebutuhan industri.
- Membuka peluang di sektor yang masih tumbuh dan padat kreativitas.
Perubahan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sudah mengubah struktur pekerjaan saat ini. Jika tren otomatisasi terus berlanjut, tantangan terberat bagi Gen Z bukan hanya mencari kerja, tetapi juga menemukan pekerjaan pertama yang mampu menjadi pijakan karier di pasar yang makin sempit.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com








