Centang Biru Mojtaba Khamenei Kembali Muncul, Akun X Iran Kebanjiran Followers

Akun X milik Mojtaba Khamenei kembali menarik perhatian setelah centang biru berbayar terlihat lagi di profil berbahasa Inggris yang dikaitkan dengannya. Akun itu disebut berbasis di Iran dan kini sudah mengumpulkan sekitar 175 ribu pengikut, meski baru dibuat pada Maret.

Kemunculan kembali status verifikasi itu memicu sorotan karena akun tersebut muncul di tengah sensitifnya hubungan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. CNBC Internasional melaporkan akun itu aktif mengunggah konten terkait konflik terbaru dan masih dapat diakses hingga kini.

Akun berbahasa Inggris dengan pertumbuhan cepat

Profil yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei tampil berbeda dari akun politik Iran lain yang umumnya berbahasa Persia. Akun ini menggunakan bahasa Inggris, memiliki centang biru premium, dan langsung mendapat lonjakan perhatian dari pengguna X di berbagai negara.

Lonjakan followers dalam jumlah besar biasanya terjadi ketika sebuah akun dikaitkan dengan figur politik tingkat tinggi atau isu geopolitik yang sedang panas. Dalam kasus ini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi unggahan, tetapi juga pada status verifikasi dan sumber monetisasi yang melekat pada akun tersebut.

Berikut ringkasan informasi utama yang dilaporkan:

  1. Akun dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
  2. Profil menggunakan bahasa Inggris dan berlokasi di Iran.
  3. Akun dibuat pada Maret dan kini memiliki sekitar 175 ribu followers.
  4. Akun masih aktif dan memuat unggahan soal konflik Iran dengan AS dan Israel.
  5. Centang biru yang terlihat merupakan status premium di X.

Sorotan soal sanksi dan kebijakan X

Isu ini menjadi lebih sensitif karena nama Khamenei sudah masuk daftar sanksi OFAC Departemen Keuangan AS sejak 2019. Artinya, warga dan entitas AS tidak diperbolehkan bertransaksi dengan pihak yang tercantum dalam daftar tersebut.

Kebijakan X juga menyatakan bahwa centang biru tidak boleh dibeli melalui X Premium jika pengguna dilarang bertransaksi berdasarkan sanksi ekonomi dan aturan perdagangan AS atau negara lain yang berlaku. Di sisi lain, X memang masih memungkinkan centang biru diberikan gratis kepada sejumlah figur, termasuk pejabat pemerintah.

Namun, jika centang biru muncul sebagai bagian dari layanan berbayar, maka muncul pertanyaan soal kepatuhan platform terhadap aturan sanksi. Pertanyaan ini semakin kuat setelah Tech Transparency Project (TPP) lebih dulu mengungkap akun-akun pejabat, lembaga, dan media milik pemerintah Iran yang juga memiliki centang biru.

Temuan TPP menambah tekanan pada platform

Pada 12 Februari 2026, TPP melaporkan bahwa akun pejabat, lembaga, dan media yang dikelola pemerintah Iran terlihat menggunakan centang biru layanan premium X. Lembaga itu menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pelanggaran sanksi ekonomi AS karena platform memperoleh pemasukan dari layanan berbayar.

TPP menyebut, “Karena X mensyaratkan layanan berbayar mendapatkan layanan premium, kemungkinan besar perusahaan menerima pendapatan dari individu dan kelompok Iran, yang berpotensi melanggar sanksi ekonomi AS.”

Pernyataan itu membuka diskusi yang lebih luas soal bagaimana platform global menegakkan kebijakan kepatuhan di negara yang terkena pembatasan transaksi. Di saat yang sama, X tetap menjadi ruang utama bagi aktor politik dan institusi negara untuk menyebarkan pesan ke audiens internasional.

Posisi perusahaan dan respons pemerintah AS

SpaceX, perusahaan milik Elon Musk yang kini memiliki X dan xAI, tidak merespons permintaan komentar atas laporan tersebut. Sementara itu, Departemen Keuangan AS mengatakan kepada CNBC International bahwa tuduhan pelanggaran oleh perusahaan Elon Musk akan ditanggapi dengan serius.

Situasi ini menempatkan X dalam sorotan ganda, yakni sebagai platform komunikasi global dan sebagai perusahaan yang harus mematuhi aturan sanksi lintas negara. Di tengah itu, munculnya lagi akun centang biru yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei menambah perhatian publik terhadap bagaimana verifikasi, monetisasi, dan kepatuhan regulasi berjalan di platform tersebut.

Perkembangan akun ini masih terus dipantau karena status aktif, jumlah pengikut yang melonjak, serta kaitannya dengan isu geopolitik membuatnya menjadi salah satu profil paling disorot di X saat ini.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version