RI Punya Harta Karun Baru, Data Center Tropis Diserbu Raksasa Asing

Infrastruktur pusat data kini naik kelas menjadi aset strategis baru di era kecerdasan buatan. Di Asia Tenggara, gelombang investasi ini mulai terlihat jelas karena kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan data center terbesar di dunia.

Permintaan pusat data di Asia Tenggara diperkirakan tumbuh 20% per tahun hingga 2028, menurut Dewan Bisnis AS-ASEAN. Saat ini ada 370 data center di kawasan tersebut, dengan konsentrasi terbesar di Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Mengapa data center disebut “harta karun” baru

Ledakan AI membuat kebutuhan komputasi melonjak tajam. Perusahaan teknologi memerlukan ruang penyimpanan, daya listrik, dan sistem pendingin yang besar untuk melatih model AI dan menjalankan layanan digital berskala masif.

Mayank Shrivastava, CEO BDx Data Centers yang berbasis di Singapura, mengatakan kepada Fortune bahwa ekosistem teknologi sadar mereka harus ikut masuk ke gelombang berikutnya. Ia menilai keuntungan ekonomi akan mengalir ke negara yang bisa mengubah “bahan mentah” data menjadi layanan bernilai tinggi.

Pernyataan itu menegaskan perubahan besar dalam ekonomi digital. Data kini tidak lagi sekadar hasil aktivitas internet, tetapi sudah menjadi komoditas yang mendorong investasi infrastruktur dengan nilai strategis tinggi.

Asia Tenggara menarik investor asing

Minat asing ke kawasan ini datang dari raksasa teknologi global. Amazon, Microsoft, Alibaba, dan Tencent disebut telah menanamkan investasi miliaran dolar AS untuk membangun data center hyperscale di Asia Tenggara.

Eric Fan, CEO Bridge Data Centers, menilai AS masih menjadi pasar data center terbesar, tetapi banyak proyek tertunda karena persoalan infrastruktur listrik dan perbedaan regulasi antarnegeri bagian. Menurut dia, kondisi itu membuka ruang bagi kawasan lain untuk mengambil peran lebih besar.

Asia Tenggara dipandang menarik karena tiga faktor utama berikut:

  1. Populasi yang besar dan terus terkoneksi ke layanan digital.
  2. Posisi geografis yang strategis di antara pasar digital Asia Selatan dan Asia Utara.
  3. Masih tersedianya ruang untuk pembangunan pusat data baru.

Lee Poh Seng dari Universitas Nasional Singapura menjelaskan bahwa kawasan ini masih punya peluang besar untuk ekspansi. Namun, ia menekankan bahwa pertumbuhan itu harus diiringi dengan efisiensi energi dan strategi pendinginan yang lebih cerdas.

Indonesia ikut masuk peta besar data center

BDx Data Centers menjadi salah satu operator yang memperlihatkan potensi Indonesia di industri ini. Perusahaan yang berdiri pada 2019 itu kini menjangkau Singapura, Hong Kong, China, dan Indonesia.

Operasi terbesarnya berada di Indonesia, dengan enam data center termasuk kampus berkapasitas 100MW di Jakarta. Keberadaan fasilitas ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai dilihat sebagai pasar penting untuk infrastruktur digital kawasan.

Di sisi lain, Bridge Data Centers yang berdiri pada 2017 juga ekspan ke India, Malaysia, dan Thailand. Perusahaan itu didukung Bain Capital dan sebelumnya terlibat dalam transaksi besar saat Chindata dijual ke konsorsium yang dipimpin China senilai US$4 miliar.

Tantangan besar di iklim tropis

Meski peluangnya besar, Asia Tenggara menghadapi persoalan teknis yang tidak ringan. Suhu panas dan kelembapan tinggi membuat data center membutuhkan energi lebih besar untuk menjaga server tetap stabil.

Rata-rata temperatur kawasan ini berada di kisaran 80-95 derajat Fahrenheit, sementara data center idealnya dijaga pada 64-81 derajat Fahrenheit menurut Perhimpunan Engineer Pemanas, Pendingin, dan Pengkondisian Udara Amerika Serikat. Kondisi tersebut menambah beban pada sistem pendingin dan pasokan listrik.

Lee Poh Seng menegaskan bahwa masalah utama di iklim tropis bukan hanya panas, tetapi kombinasi panas dan kelembapan. Ia menyebut kelembapan tinggi dapat meningkatkan risiko kondensasi, korosi, dan gangguan keandalan jangka panjang.

Langkah efisiensi dan energi alternatif

Untuk menjawab tantangan itu, BDx menjadi perusahaan pertama yang menerapkan Standar Data Center Tropis Singapura pada 11 Maret lalu. Standar ini dirancang agar suhu operasional data center bisa dinaikkan bertahap hingga 26 derajat Celcius.

Bridge Data Centers juga mencari solusi serupa dengan mempelajari tenaga hidrogen dan nuklir untuk mengejar target netralitas karbon pada 2040. Salah satu fasilitasnya di Malaysia bahkan sudah memperoleh setengah kebutuhan energinya dari tenaga surya.

Faktor yang menentukan daya saing data center Asia Tenggara

  1. Efisiensi penggunaan daya.
  2. Penggunaan air yang lebih terkendali.
  3. Intensitas karbon yang rendah.
  4. Kesesuaian dengan jaringan listrik lokal.
  5. Akses ke energi bersih dan desain pendingin yang tepat.

Lee menyebut proyek yang sukses bukan yang paling cepat dibangun, melainkan yang paling kredibel dalam efisiensi dan ketahanan energi. Pandangan itu semakin relevan karena tekanan pada energi tradisional meningkat seiring dinamika geopolitik.

Eric Fan juga menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dan memperbesar kekhawatiran atas keandalan energi. Situasi itu membuat perusahaan AI dan operator data center semakin terdorong mencari sumber energi yang lebih stabil dan ramah lingkungan, sementara Indonesia dan negara tetangga terus menjadi incaran utama investor yang memburu ruang tumbuh baru di ekonomi digital kawasan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version