Raksasa software Oracle dikabarkan akan memangkas ribuan karyawan di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan. Langkah ini muncul saat perusahaan milik Larry Ellison, salah satu orang terkaya dunia, terus menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan AI.
Kabar tersebut pertama kali dilaporkan CNBC International berdasarkan informasi dari dua sumber. Oracle belum mengumumkan keputusan itu secara resmi, dan perusahaan juga menolak memberi komentar ketika dimintai keterangan.
Tekanan AI dan biaya infrastruktur
Oracle menjadi salah satu perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat yang ikut bertarung di pasar AI. Persaingan itu mendorong perusahaan untuk memperbesar belanja modal, terutama pada pusat data yang mampu menangani beban kerja AI.
Di sisi lain, ekspansi itu tidak datang tanpa risiko. Oracle disebut mengandalkan utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur, sementara investor mulai mempertanyakan besarnya liabilitas yang terkumpul dan menipisnya arus kas perusahaan.
Ellison sendiri bukan nama kecil di industri teknologi. Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ke-6 di dunia dengan kekayaan US$188,7 miliar atau sekitar Rp3.200 triliun, sehingga setiap langkah strategis Oracle mendapat sorotan besar dari pasar.
Apa yang diketahui dari rencana PHK
Hingga kini belum ada angka pasti soal jumlah karyawan yang akan terdampak. Data terakhir yang tersedia menyebut Oracle memiliki 162.000 karyawan pada Mei, sehingga pemangkasan ribuan orang akan menjadi langkah yang signifikan.
Berikut poin penting yang sudah terungkap sejauh ini:
- Rencana PHK belum diumumkan resmi oleh Oracle.
- Informasi awal datang dari dua sumber yang dikutip CNBC International.
- Oracle menolak memberi komentar atas kabar tersebut.
- Jumlah karyawan yang terdampak belum dipastikan.
- Perusahaan tercatat memiliki 162.000 karyawan pada Mei.
Utang besar dan taruhan pada AI
Oracle sebelumnya merencanakan pengumpulan dana melalui utang dan ekuitas sebesar US$50 miliar atau Rp848,5 triliun pada Januari lalu. Setelah itu, para eksekutif menyampaikan tidak ada lagi rencana penggalangan utang tambahan pada tahun ini.
Meski investor cemas, manajemen Oracle tetap menilai investasi AI akan memberi hasil dalam jangka panjang. Pandangan itu juga ditegaskan oleh Clay Magouyrk, yang menggantikan Safra Catz sebagai CEO bersama Mike Sicilia.
Magouyrk menyebut permintaan terhadap infrastruktur AI sangat tinggi dan pasokannya belum mampu mengejar kebutuhan pasar. Ia mengatakan kewajiban kinerja tersisa perusahaan mencapai US$553 miliar atau Rp9.300 triliun, angka yang menunjukkan masih besarnya kontrak dan komitmen bisnis yang dimiliki Oracle.
Mengapa PHK bisa terjadi di tengah belanja AI
PHK di perusahaan teknologi besar seperti Oracle sering terjadi bukan semata karena bisnis melemah, melainkan karena perusahaan menggeser prioritas. Saat modal dialihkan ke pusat data, server, GPU, dan sistem pendukung AI, beban operasional lain biasanya ikut ditekan agar margin tidak tergerus lebih dalam.
Dalam konteks Oracle, tekanan itu datang dari dua arah sekaligus. Perusahaan harus menjaga kepercayaan investor yang khawatir terhadap utang, sambil tetap membiayai ambisi besar untuk memimpin infrastruktur AI di tengah pasar yang sangat kompetitif.
Situasi ini menunjukkan bahwa ledakan investasi AI tidak selalu berarti penambahan tenaga kerja. Bagi Oracle, efisiensi internal justru bisa menjadi syarat agar ekspansi teknologi tetap berjalan tanpa memperburuk kesehatan keuangan perusahaan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com