MARA Holdings memangkas sekitar 15% tenaga kerjanya saat perusahaan mempercepat pergeseran dari penambangan Bitcoin menuju infrastruktur kecerdasan buatan. Langkah ini menyentuh staf tetap di sejumlah divisi, dan dalam beberapa kasus bahkan menghapus satu tim secara penuh menurut laporan media.
Perubahan arah bisnis itu menunjukkan tekanan yang kini dihadapi para penambang kripto besar, yang mulai mencari sumber pendapatan di luar Bitcoin. MARA, yang sebelumnya dikenal sebagai Marathon Digital, tetap menjadi operator penambangan Bitcoin terbesar di antara perusahaan publik dengan porsi sekitar 5% hashrate jaringan Bitcoin.
Restrukturisasi untuk fokus baru
Dalam memo internal yang bocor ke media, CEO MARA Holdings Fred Thiel menyebut perusahaan sedang menata ulang bentuk organisasinya. Ia menegaskan bahwa perusahaan bergerak ke arah baru dan struktur tim harus ikut berubah.
Pemangkasan ini bukan sekadar efisiensi biaya, tetapi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menyiapkan bisnis di sektor energi dan infrastruktur AI. Di tengah persaingan yang makin ketat dan kebutuhan modal yang besar, langkah seperti ini sering dipakai perusahaan agar tetap relevan saat pasar utama mereka berubah cepat.
Apa yang diterima karyawan terdampak
Memo tersebut menjelaskan bahwa karyawan yang terdampak akan menerima satu bulan cuti berbayar dan tunjangan hingga 30 April. Mereka juga mendapat pesangon 13 minggu serta pembayaran penuh untuk sisa cuti yang belum digunakan.
Berikut ringkasan kompensasi yang disebut dalam laporan:
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Cuti berbayar | 1 bulan |
| Tunjangan kesehatan | Hingga 30 April |
| Pesangon | 13 minggu |
| Cuti belum terpakai | Dibayar penuh |
Kebijakan itu memberi sinyal bahwa MARA ingin meredam dampak sosial dari restrukturisasi sekaligus menjaga transisi bisnis tetap berjalan. Namun, pengurangan tenaga kerja dalam skala ini tetap menunjukkan bahwa pergeseran strategi dilakukan dengan tegas.
Dari Bitcoin ke AI dan infrastruktur energi
MARA tidak sendirian dalam langkah ini karena banyak penambang kripto mulai melirik pusat data dan komputasi berperforma tinggi. Perubahan ini muncul ketika infrastruktur penambangan Bitcoin dinilai punya potensi besar untuk dialihkan ke beban kerja AI yang membutuhkan daya listrik dan kapasitas komputasi tinggi.
Pada Februari, MARA mengambil langkah awal ke layanan AI dan high-performance computing melalui pembelian saham mayoritas Exaion, anak usaha pusat data milik perusahaan energi nasional Prancis. Perusahaan juga menandatangani kesepakatan dengan pengembang pusat data Starwood untuk mengalihkan satu gigawatt infrastruktur penambangan Bitcoin miliknya ke beban kerja AI.
Langkah bisnis yang sudah ditempuh MARA
- Mengambil saham mayoritas di Exaion untuk masuk ke layanan AI dan HPC.
- Menjalin kerja sama dengan Starwood untuk repurposing satu gigawatt infrastruktur.
- Menjual 15.133 BTC senilai $1.1 miliar U.S. untuk mendanai pergeseran strategi.
- Melakukan penyesuaian tenaga kerja agar organisasi sesuai dengan fokus baru.
Rangkaian langkah itu memperlihatkan bahwa MARA sedang mengubah identitas bisnisnya dari murni penambang Bitcoin menjadi penyedia infrastruktur digital yang lebih luas. Strategi ini juga mencerminkan upaya perusahaan publik untuk mencari pertumbuhan baru di luar volatilitas harga aset kripto.
Kinerja saham dan posisi bisnis
Di sisi pasar, saham MARA tercatat turun 22% dalam 12 bulan terakhir dan diperdagangkan di $8.71 U.S. per saham. Penurunan ini menambah tekanan pada perusahaan untuk menunjukkan bahwa strategi baru mereka bisa menghasilkan nilai jangka panjang.
Dengan 266 karyawan penuh waktu pada akhir kuartal pertama tahun ini, pemangkasan 15% berarti perubahan organisasi yang cukup signifikan. Bagi investor, fokus utama kini bergeser pada sejauh mana aset penambangan yang ada bisa menghasilkan pendapatan dari AI dan layanan komputasi, bukan hanya dari Bitcoin.









