Selama ini Apple kerap dikaitkan dengan dua nama besar, Steve Jobs dan Steve Wozniak. Padahal, ada satu pendiri lain yang ikut membentuk perusahaan itu sejak awal, yakni Ronald Wayne, sosok yang justru paling cepat keluar dan paling sedikit menikmati lonjakan nilai Apple.
Wayne masuk saat Apple masih berupa kemitraan sederhana, bukan raksasa teknologi seperti sekarang. Keputusannya untuk hengkang setelah 12 hari membuat namanya sering disebut sebagai contoh klasik orang yang melepas peluang besar terlalu dini.
Peran Ronald Wayne di awal berdirinya Apple
Ronald Wayne ikut mendirikan Apple pada 1 April 1976 bersama Steve Jobs dan Steve Wozniak. Saat itu usianya 41 tahun, jauh lebih tua dibanding Jobs yang berumur 21 tahun dan Wozniak yang 25 tahun, sehingga ia dianggap sebagai figur yang lebih matang di antara ketiganya.
Wayne tidak hanya menjadi pendiri di atas kertas. Ia juga menulis perjanjian kemitraan formal pertama yang secara hukum membentuk Apple Computer, serta membuat logo awal Apple yang menampilkan Isaac Newton duduk di bawah pohon apel.
Komposisi kepemilikan saham saat itu juga menunjukkan posisinya. Wayne mendapat 10% saham, sedangkan Jobs dan Wozniak masing-masing memegang 45%.
Mengapa Wayne memilih mundur
Keputusan Wayne keluar tidak semata-mata karena kurang percaya pada ide Apple. Ia disebut khawatir karena menjadi satu-satunya pendiri yang punya aset pribadi, sementara dua rekannya masih jauh lebih muda dan perusahaan belum berbentuk korporasi.
Dalam struktur kemitraan saat itu, tanggung jawab atas utang perusahaan dapat melekat secara pribadi kepada para mitra. Kondisi tersebut terlihat berisiko besar bagi Wayne, apalagi ia baru saja mengalami kegagalan bisnis sebelumnya.
Ketakutan itu membuatnya mengambil langkah yang kini tampak sangat mahal. Ia keluar hanya 12 hari setelah ikut mendirikan Apple.
Imbalan kecil yang diterima Wayne
Setelah mundur, Wayne hanya menerima US$800 untuk pekerjaan yang telah ia kerjakan sebelumnya. Setahun kemudian, jumlah itu bertambah US$1.770 setelah CEO pertama Apple, Mike Markkula, memutuskan membayar para mitra.
Jika Waynе tetap bertahan dengan porsi 10% sahamnya, nilainya bisa berubah menjadi angka yang luar biasa. Mengutip laporan Phone Arena, kepemilikan itu berpotensi bernilai sekitar US$377 miliar pada harga saham Apple modern.
Situasi itu membuat Wayne sering disebut sebagai salah satu orang paling sial dalam sejarah bisnis teknologi. Ia berada di titik awal yang sama dengan dua pendiri lain, tetapi keluar sebelum pertumbuhan besar terjadi.
Kesempatan kedua yang juga terlewat
Wayne sebenarnya masih punya peluang lain untuk mendapatkan keuntungan dari Apple. Namun, peluang itu juga tidak dimaksimalkan ketika ia menjual salinan asli perjanjian kemitraan Apple miliknya pada 1990-an.
Dokumen itu ia lepas dengan harga US$500. Dua puluh satu tahun kemudian, dokumen yang sama terjual dalam lelang senilai US$1,6 juta, sebelum kembali naik nilainya saat dilelang di Christie’s menjadi US$2,5 juta.
Perbandingan nilainya menunjukkan betapa besar daya tarik sejarah Apple bagi kolektor. Arsip asli yang terkait langsung dengan pendirian perusahaan teknologi besar sering kali dipandang sebagai benda bersejarah bernilai tinggi.
Fakta penting tentang tiga pendiri Apple
- Steve Jobs: ikut mendirikan Apple dan kemudian menjadi wajah paling terkenal perusahaan.
- Steve Wozniak: menjadi otak teknis di balik banyak inovasi awal Apple.
- Ronald Wayne: menulis perjanjian awal, membuat logo pertama, lalu keluar paling cepat.
Kisah tiga pendiri Apple ini memperlihatkan bahwa sejarah bisnis tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling lama bertahan. Dalam kasus Apple, dua orang menjadi sangat kaya raya, sementara satu orang justru dikenal sebagai figur yang melepas peluang besar di saat perusahaan baru memulai perjalanannya.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com