Airlangga vs Bank Dunia Soal Data Center, Taruhan Investasi AI di Indonesia

Pandangan berbeda muncul antara Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Bank Dunia soal derasnya investasi pusat data di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Bank Dunia menilai ada risiko kelebihan investasi karena pembangunan infrastruktur AI, seperti data center, tidak diimbangi pemakaian teknologi yang masih rendah di kawasan tersebut.

Airlangga justru melihat penambahan investasi data center sebagai sinyal positif bagi ekonomi Indonesia. Ia menilai kapasitas yang lebih besar akan makin menarik karena yang menghasilkan pendapatan dari data center adalah aplikasi yang berjalan di atasnya.

Airlangga: Semakin Banyak Kapasitas, Semakin Baik

Airlangga menyebut Indonesia punya modal kuat untuk menarik investasi pusat data. Menurut dia, biaya lahan lebih kompetitif, pasokan listrik tersedia, dan kebutuhan air juga relatif tercukupi dibandingkan banyak negara lain.

Ia juga menekankan ukuran pasar domestik sebagai daya tarik utama. Dengan jumlah penduduk sekitar 287 juta orang, Indonesia dinilai punya basis pengguna besar yang bisa menopang pertumbuhan layanan digital dan aplikasi berbasis AI.

Pernyataan itu menunjukkan pemerintah melihat data center bukan sekadar fasilitas penyimpanan data. Infrastruktur ini dipandang sebagai tulang punggung ekonomi digital yang bisa mendorong ekosistem aplikasi, layanan cloud, dan pengembangan AI.

Bank Dunia Soroti Risiko Ketimpangan Investasi

Dalam laporannya, Bank Dunia menyoroti lonjakan investasi swasta global di bidang AI generatif yang meningkat dari hampir nol pada 2019 menjadi US$34 miliar pada 2024. Namun, lembaga itu mengingatkan bahwa pertumbuhan investasi belum tentu sejalan dengan tingkat adopsi teknologi di lapangan.

Bank Dunia menilai kawasan Asia Timur dan Pasifik masih menghadapi ketimpangan. Hanya sekitar 13% hingga 17% anak perusahaan multinasional di kawasan ini yang menggunakan AI, jauh di bawah 37% di Amerika Serikat.

Kondisi itu membuat Bank Dunia khawatir investasi infrastruktur digital bisa melaju lebih cepat daripada pemanfaatannya. Jika pemakaian aplikasi AI masih rendah, maka kapasitas data center yang dibangun berpotensi tidak termanfaatkan optimal dalam jangka pendek.

Indonesia Tetap Jadi Pasar Menarik

Meski ada peringatan dari Bank Dunia, Indonesia tetap menjadi lokasi yang menarik bagi investor data center. Laporan yang sama menyebut investasi data center di Indonesia dan Thailand juga meningkat signifikan, sementara Malaysia memimpin kawasan dengan sekitar 700 MW data center beroperasi dan proyek yang sudah melebihi 3.000 MW.

Di sisi domestik, kebutuhan pusat data ikut terdorong oleh pertumbuhan internet dan adopsi digital. Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi pada 2025 menyebut jumlah pengguna jaringan internet di Indonesia mencapai 353,8 juta, angka yang melampaui populasi nasional.

Data itu memperkuat alasan bahwa permintaan terhadap penyimpanan data, komputasi awan, dan layanan AI di Indonesia masih akan naik. Kondisi ini membuat pusat data dipandang sebagai infrastruktur strategis, bukan lagi fasilitas pendukung biasa.

Faktor yang Membuat Data Center Diburu

Berikut sejumlah alasan mengapa Indonesia terus dilirik sebagai lokasi investasi data center:

  1. Pasar pengguna sangat besar dengan ratusan juta koneksi internet.
  2. Ketersediaan lahan, listrik, dan air dinilai lebih kompetitif.
  3. Pertumbuhan ekonomi digital mendorong kebutuhan komputasi yang makin tinggi.
  4. Adopsi AI memerlukan kapasitas data center yang besar dan stabil.

Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital, mengatakan tren adopsi AI menjadi salah satu pendorong utama peningkatan kebutuhan kapasitas. Ia menyebut kebutuhan kapasitas untuk mendukung teknologi AI diperkirakan naik dari sekitar 202 MW pada 2024 menjadi 743 MW dalam beberapa tahun ke depan.

Lonjakan kebutuhan itu memperlihatkan bahwa pusat data akan memegang peran penting dalam peta ekonomi digital Indonesia. Di tengah perdebatan soal potensi kelebihan investasi, Indonesia tetap berada di posisi yang strategis karena kombinasi pasar besar, pertumbuhan pengguna digital, dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button