Shiba Inu Dan Dogecoin Terancam Anjlok Lagi, Mengapa Dua Meme Coin Ini Rapuh Jangka Panjang?

Pasar kripto kembali menghadapi tekanan besar setelah nilai total aset digital yang beredar turun dari puncak $4.4 triliun pada Oktober lalu menjadi $2.4 triliun. Di tengah adopsi yang masih lambat dan meningkatnya kekhawatiran ekonomi, dua koin meme populer, Shiba Inu dan Dogecoin, dinilai rentan melemah lebih dalam dalam jangka panjang.

Keduanya memang pernah mencatat lonjakan harga yang luar biasa, tetapi kenaikan itu lebih banyak ditopang spekulasi ketimbang penggunaan yang benar-benar kuat. Saat minat pasar terhadap aset berisiko menurun, token yang tidak memiliki permintaan berkelanjutan cenderung menjadi yang paling dulu tersingkir.

Tekanan penurunan masih besar di pasar kripto

Hampir semua aset kripto besar berada di bawah level tertinggi mereka. Bitcoin saja sudah turun 43% dari puncaknya, sementara Shiba Inu dan Dogecoin masing-masing merosot hampir 70% dari level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.

Kondisi ini menunjukkan bahwa koreksi tidak hanya menekan aset kecil, tetapi juga menggerus kepercayaan terhadap token yang bergantung pada narasi komunitas. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung fokus pada aset yang punya utilitas jelas dan basis permintaan yang lebih stabil.

Kenapa Shiba Inu dinilai berisiko turun lebih jauh

Shiba Inu lahir pada 2020 sebagai alternatif Dogecoin dan dibangun di atas jaringan Ethereum. Struktur itu memberi legitimasi teknis karena memanfaatkan salah satu jaringan blockchain terbesar, likuid, dan aman di dunia.

Namun, reli gila-gilaan Shiba Inu pada 2021, ketika nilainya melesat 45,278,000%, justru menjadi tanda paling kuat bahwa kenaikan itu tidak bertumpu pada fondasi permintaan yang sehat. Token ini kini disebut sudah turun 93% dari puncaknya pada 2021, sehingga ruang pemulihannya sangat bergantung pada perubahan besar dalam adopsi.

Agar aset kripto bisa naik secara berkelanjutan, dibutuhkan sumber permintaan yang konsisten. Sumber itu bisa datang dari penggunaan dalam pembayaran atau dari persepsi sebagai penyimpan nilai, tetapi Shiba Inu belum menunjukkan kekuatan di dua area tersebut.

Menurut direktori kripto Cryptwerk, hanya 1,144 bisnis di seluruh dunia yang menerima Shiba Inu sebagai alat pembayaran. Angka itu kecil untuk token yang ingin diposisikan sebagai mata uang, apalagi volatilitasnya sangat tinggi sehingga menyulitkan pengelolaan arus kas bagi pelaku usaha.

Shibarium belum cukup mengubah cerita

Pada 2023, pengembang meluncurkan Shibarium, solusi blockchain layer-2 yang dirancang untuk membuat transaksi lebih cepat dan lebih murah. Langkah itu bertujuan mendorong penggunaan yang lebih luas, tetapi sejauh ini belum menghasilkan perubahan berarti pada tingkat adopsi.

Masalah utamanya tetap sama, yaitu kegunaan yang terbatas dan permintaan yang tidak cukup kuat untuk menopang valuasi jangka panjang. Jika tidak ada dorongan penggunaan nyata, tekanan turun menjadi skenario yang paling mungkin bagi Shiba Inu.

Dogecoin juga menghadapi masalah struktural

Dogecoin punya cerita berbeda, tetapi risikonya mirip. Dibuat pada 2013 oleh dua pengembang sebagai lelucon atas industri kripto yang dianggap terlalu serius, Dogecoin kemudian melonjak ketika tokoh seperti Elon Musk mulai rutin membicarakannya pada 2019.

Pada 2021, kapitalisasi pasarnya sempat menembus lebih dari $90 miliar dan menjadikannya salah satu kripto terbesar di dunia. Akan tetapi, kenaikan itu juga sangat bergantung pada spekulasi dan perhatian publik, bukan pada utilitas yang mendalam.

Saat ini Dogecoin sudah turun 87% dari rekor 2021. Masalah yang paling membebani nilainya dalam jangka panjang adalah pasokan yang terus bertambah melalui penambangan.

Faktor pasokan Dogecoin bisa menekan harga

Dogecoin memiliki mekanisme sendiri yang membuat koin baru terus masuk ke sirkulasi. Setiap tahun, maksimal 5 miliar koin dapat ditambang, dan saat ini ada 153.7 miliar koin yang beredar.

Dalam jangka tiga dekade, jumlah itu secara kasar bisa berlipat dua jika tidak ada perubahan besar pada struktur pasar. Artinya, agar kapitalisasi pasar tetap konstan, nilai per koin harus turun untuk mengimbangi pertumbuhan pasokan, kecuali muncul permintaan baru yang jauh lebih kuat.

Berikut ringkasan risiko utama dua aset tersebut:

AsetPenurunan dari puncakMasalah utamaRisiko jangka panjang
Shiba Inu93% dari puncak 2021Adopsi pembayaran sangat kecilPotensi turun 50% atau lebih
Dogecoin87% dari puncak 2021Pasokan terus bertambahHarga per koin tertekan oleh suplai

Mengapa dua koin meme ini sulit mempertahankan valuasi

Baik Shiba Inu maupun Dogecoin bergantung pada narasi populer, komunitas kuat, dan momentum spekulatif. Namun, pasar cenderung memberi valuasi tinggi hanya jika ada demand yang nyata dan berulang.

Shiba Inu belum berhasil menjadi alat pembayaran yang luas meski sudah mencoba memperkuat ekosistem lewat Shibarium. Dogecoin juga belum mampu meyakinkan banyak konsumen dan bisnis bahwa ia layak dipakai sebagai metode pembayaran yang stabil.

Di sisi lain, keduanya juga bukan penyimpan nilai yang solid karena volatilitasnya tinggi dan pergerakan harganya sangat mudah dipengaruhi sentimen. Dalam kondisi pasar yang makin berhati-hati, karakter seperti ini justru meningkatkan risiko penurunan lebih lanjut.

Apa arti proyeksi penurunan 50% atau lebih

Prediksi penurunan 50% atau lebih tidak berarti harga akan jatuh dalam garis lurus. Pasar kripto kerap bergerak tajam naik dan turun, terutama saat ada kabar baru, pergerakan Bitcoin, atau lonjakan minat ritel.

Namun, jika dilihat dari fondasi fundamental, kedua token ini memang menghadapi tantangan yang sulit diatasi. Shiba Inu butuh adopsi nyata yang jauh lebih besar, sementara Dogecoin perlu sumber permintaan yang mampu mengimbangi pertumbuhan pasokan.

Tanpa perkembangan seperti itu, valuasi keduanya tetap rentan tergerus oleh waktu. Di pasar yang kini lebih selektif terhadap aset spekulatif, tekanan pada Shiba Inu dan Dogecoin tampaknya belum selesai.

Terkait