Bhutan Lepas 70% Cadangan Bitcoin, Sinyal Mati-Nyalanya Operasi Tambang Negeri Himalaya

Bhutan mempercepat penjualan cadangan Bitcoin miliknya dan telah melepas lebih dari 70% kepemilikan BTC dalam 18 bulan terakhir. Data on-chain dari Arkham Intelligence menunjukkan langkah ini berlangsung bertahap melalui dompet yang dikelola lengan investasi milik negara, Druk Holding and Investments (DHI).

Wu Blockchain melaporkan bahwa Bhutan memindahkan sekitar $215.7 million dalam BTC sepanjang 2026, termasuk tambahan 250 BTC yang keluar dari dompet negara sekitar 18 jam sebelum data terbaru dirilis. Setelah rangkaian transfer itu, saldo Bhutan tersisa hampir 3,774 BTC, turun tajam dari 13,000 BTC pada Oktober 2024.

Mining yang dulu jadi andalan mulai melemah

Bhutan membangun posisi Bitcoin-nya lewat penambangan yang dimulai pada 2019 dengan memanfaatkan kelebihan listrik tenaga air. Strategi ini sempat membuat negara kecil di Himalaya itu masuk daftar pemegang Bitcoin sovereign terbesar di dunia.

Namun, data terbaru memperlihatkan arus masuk dari mining nyaris mengering. Arkham mencatat Bhutan tidak menerima inflow mining di atas $100,000 selama lebih dari setahun, sehingga memunculkan dugaan bahwa operasi mining berbasis hidro tersebut sudah berhenti sepenuhnya.

Arkham juga menyebut, “Bhutan appears to have ceased mining as of ~November 2024.” Pernyataan itu menguatkan sinyal bahwa aset BTC negara itu kini lebih banyak keluar daripada bertambah dari aktivitas produksi baru.

Apa arti penjualan besar ini bagi Bhutan

Langkah Bhutan mencerminkan perubahan besar pada strategi pengelolaan aset digital negara. Penjualan cadangan dalam skala besar biasanya menandakan kebutuhan likuiditas, perubahan kebijakan investasi, atau penyesuaian terhadap kondisi operasional yang tidak lagi mendukung penambangan.

Dalam konteks Bhutan, melemahnya penambangan bisa terkait dengan berkurangnya kelebihan energi yang sebelumnya menjadi bahan bakar utama operasi BTC. Jika pasokan listrik yang murah dan stabil tidak lagi tersedia dalam jumlah yang sama, maka model bisnis mining negara itu ikut kehilangan daya tarik.

Gelombang jual juga melanda pemain besar lain

Bhutan bukan satu-satunya pihak yang mengurangi eksposur ke Bitcoin. Sejumlah perusahaan tambang publik dan perusahaan treasury kripto juga menjual sebagian kepemilikan mereka, meski alasan masing-masing berbeda.

  1. Cango menjual 2,000 BTC pada Maret untuk melunasi pinjaman yang didukung Bitcoin, sehingga treasury-nya turun menjadi 1,025 BTC.
  2. MARA menjual 15,133 BTC senilai sekitar $1.1 billion antara 4 Maret dan 25 Maret untuk membeli kembali obligasi konversi senilai $1 billion.
  3. Riot Platforms melepas 3,778 BTC pada kuartal pertama 2026 dengan nilai sekitar $289.5 million, dan transfer tambahan dari perusahaan itu juga tercatat pada April.
  4. Genius Group melikuidasi seluruh 84.15 BTC yang dimiliki pada 1 April untuk membayar utang $8.5 million.
  5. Nakamoto Holdings menjual sekitar 284 BTC pada Maret senilai kurang lebih $20 million dan mencatat kerugian dari biaya perolehan rata-rata.

Pergerakan itu kontras dengan langkah MicroStrategy, yang justru membeli 44,377 BTC pada Maret dan kini menguasai lebih dari 766,970 BTC. Perbedaan strategi ini menunjukkan pasar Bitcoin sedang berada dalam fase yang sangat beragam, dari deleveraging hingga akumulasi agresif.

Bhutan di persimpangan strategi aset digital

Penurunan cadangan Bhutan menandai berakhirnya fase pertumbuhan cepat yang dulu lahir dari kombinasi energi berlebih dan peluang harga Bitcoin yang menarik. Jika arus mining memang sudah berhenti, maka negara itu kemungkinan akan lebih bergantung pada keputusan pengelolaan cadangan yang tersisa ketimbang produksi baru.

Saat ini, perhatian pasar masih tertuju pada apakah Bhutan akan terus menjual sebagian BTC-nya, mempertahankan sisa cadangan sebagai aset strategis, atau mencari model baru untuk memanfaatkan infrastruktur energi dan aset digital yang masih dimiliki.

Berita Terkait

Back to top button