Pemasok Senjata AI AS Bawa Ancaman Baru, Bank dan Regulator Diminta Waspada

Author: Qoo Media

Anthropic kembali menjadi sorotan setelah model AI terbaru mereka, Mythos, memicu kekhawatiran serius di kalangan otoritas keuangan dan keamanan siber. Di AS, Menteri Keuangan Scott Bessent dan Kepala The Fed Jerome Powell disebut telah memberi peringatan kepada para CEO bank soal potensi ancaman siber baru dari model tersebut.

Kekhawatiran itu tidak berhenti di AS. Di Inggris, regulator keuangan juga menggelar pembahasan darurat dengan lembaga keamanan siber pemerintah dan sejumlah bank besar untuk menilai risiko yang mungkin timbul dari kemampuan Mythos dalam menemukan celah pada sistem teknologi informasi kritis.

Ancaman baru dari model AI generasi terbaru

Anthropic sebelumnya menyatakan sedang berdiskusi dengan pejabat pemerintah AS terkait kemampuan siber ofensif dan defensif Mythos. Perusahaan itu kemudian menunda peluncuran luas model tersebut karena khawatir teknologi itu bisa mengungkap kerentanan keamanan siber yang sebelumnya belum diketahui.

Langkah penundaan ini menegaskan bahwa risiko AI tidak lagi hanya soal akurasi jawaban atau bias data. Model yang semakin canggih kini juga bisa dipakai untuk memetakan kelemahan sistem, mempercepat eksploitasi, atau membantu serangan siber berskala besar.

Sumber yang dekat dengan masalah itu mengatakan Anthropic telah secara proaktif memberi pengarahan kepada pejabat senior pemerintah AS dan pemangku kepentingan industri utama sebelum peluncuran Mythos. Informasi awal seperti ini biasanya penting, karena sektor perbankan dan infrastruktur digital sangat bergantung pada kecepatan deteksi ancaman.

Respons regulator di dua negara

Di Inggris, pembicaraan darurat melibatkan Bank of England, Financial Conduct Authority, Kementerian Keuangan, dan Pusat Keamanan Siber Nasional. Menurut laporan Financial Times yang dikutip Reuters, fokus utama diskusi adalah mengecek potensi kerentanan dalam sistem IT penting yang dapat disorot oleh Mythos.

Perwakilan bank-bank besar, perusahaan asuransi, dan bursa diperkirakan akan mendapat pengarahan dalam dua minggu mendatang. Bagi sektor keuangan, informasi semacam ini sangat krusial karena gangguan kecil pada sistem dapat berdampak luas ke layanan pembayaran, transaksi, dan kepercayaan publik.

Dalam situasi seperti ini, regulator biasanya bergerak cepat untuk menilai apakah risiko bersifat teoritis atau sudah mendekati ancaman operasional. Ketika model AI mampu mengidentifikasi titik lemah dengan lebih presisi, maka batas antara alat bantu keamanan dan alat serangan menjadi semakin tipis.

Hubungan rumit Anthropic dan pemerintah AS

Kasus Mythos juga menyoroti hubungan Anthropic yang sejak awal tegang dengan pemerintah AS. Sebelumnya, perusahaan itu menolak agar tool AI miliknya dipakai untuk membuat senjata otonom dan memata-matai warga AS.

Penolakan tersebut memicu kemarahan pemerintahan Trump, yang kemudian melarang penggunaan tool AI Anthropic di seluruh lembaga pemerintah. Anthropic bahkan sempat dimasukkan ke daftar hitam sebagai “risiko rantai pasok”, meski pengadilan belakangan menyebut penetapan itu tidak sah.

Di sisi lain, laporan Wall Street Journal menyebut tool AI Anthropic digunakan militer AS dalam perang melawan Iran pada 28 Februari 2026. Teknologi itu dikabarkan dipakai untuk simulasi perang, penargetan target, dan keperluan intelijen.

Poin penting yang perlu dicermati

  1. Mythos memicu kekhawatiran baru karena dinilai bisa menemukan celah keamanan siber yang belum diketahui.
  2. Regulator AS dan Inggris sama-sama bergerak untuk menilai dampak model terhadap sektor keuangan dan infrastruktur digital.
  3. Anthropic menunda perilisan luas Mythos karena alasan keamanan.
  4. Hubungan perusahaan dengan pemerintah AS sudah lama memanas akibat isu penggunaan AI untuk tujuan militer.
  5. Laporan penggunaan tool AI Anthropic oleh militer AS memperkuat debat soal batas etika dan risiko keamanan.

Situasi ini menunjukkan bahwa perkembangan AI canggih kini selalu berjalan beriringan dengan risiko baru di bidang keamanan nasional, perbankan, dan pertahanan. Saat pemerintah, regulator, dan perusahaan teknologi sama-sama menimbang manfaat serta bahayanya, kewaspadaan terhadap potensi serangan siber berbasis AI menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru