Baterai Koin China Bertahan 50 Tahun Tanpa Dicas, Awal Baru Perlombaan Energi Nuklir

Author: Qoo Media

China mempercepat pengembangan baterai nuklir yang bisa bertahan puluhan tahun tanpa perlu dicas ulang. Teknologi ini menarik perhatian karena ukurannya sangat kecil, tetapi berpotensi memberi pasokan listrik jangka panjang untuk perangkat yang sulit dijangkau atau dipakai di lingkungan ekstrem.

Sorotan utama datang dari Betavolt, perusahaan teknologi China yang pada awal 2024 memperkenalkan baterai nuklir mini bernama BV100. Bentuknya disebut hanya sebesar koin, namun masa pakainya diklaim bisa mencapai 50 tahun tanpa pengisian ulang, dan teknologi ini sudah masuk tahap produksi massal.

Cara kerja baterai betavoltaic

Baterai tersebut memakai prinsip betavoltaic battery, yaitu memanfaatkan partikel beta dari peluruhan radioaktif. Partikel itu menabrak semikonduktor khusus lalu menghasilkan arus listrik kecil yang stabil, sehingga baterai bisa terus bekerja dalam waktu yang sangat panjang.

Daya listriknya memang tidak sebesar baterai konvensional. Namun umur pakai menjadi keunggulan utama, terutama untuk kebutuhan yang menuntut sumber energi tahan lama dan minim perawatan.

Menurut informasi yang beredar, baterai betavoltaic bahkan berpotensi bertahan hingga 100 tahun, tergantung material radioaktif yang digunakan. Lapisan aluminium tipis juga disebut cukup untuk menghentikan radiasi beta, sehingga teknologi ini dinilai relatif aman.

Sasaran penggunaan yang sangat luas

Betavolt menyebut baterainya bisa dipakai untuk banyak sektor, mulai dari perangkat medis, teknologi dirgantara, hingga smartphone masa depan. Teknologi ini juga dinilai ideal untuk rover planet, sensor laut dalam, dan alat pacu jantung karena mampu bekerja dalam kondisi ekstrem.

Kebutuhan seperti itu memang sulit dipenuhi baterai biasa yang harus sering diisi ulang. Karena itu, baterai nuklir dipandang sebagai solusi untuk perangkat yang memerlukan operasi stabil dalam waktu sangat lama tanpa akses perawatan rutin.

China juga dorong riset lain

Langkah China tidak berhenti pada BV100 saja. Northwest Normal University di Gansu juga mengumumkan pengembangan baterai nuklir berbasis karbon-14 yang diklaim dapat bertahan hingga satu abad.

Di sisi industri, China mulai membangun rantai pasok baterai nuklir dari hulu hingga hilir di dalam negeri. Strategi ini disebut meniru pola sukses negara itu dalam industri panel surya, dengan tujuan memperkuat kendali produksi dan mempercepat adopsi teknologi.

Amerika Serikat ikut mengejar

Di Amerika Serikat, perusahaan City Labs yang berbasis di Miami juga mengembangkan baterai betavoltaic berbasis tritium. Teknologi itu ditujukan untuk misi luar angkasa dan alat pacu jantung, dengan perkiraan masa pakai sekitar 20 tahun.

AS sebenarnya punya sejarah panjang di bidang ini. City Labs disebut pernah membuat baterai betavoltaic pertama di dunia bernama Betacel pada 1970-an, tetapi keterbatasan teknologi dan stigma terhadap energi nuklir membuat pengembangannya tidak meluas.

Perlombaan teknologi memasuki fase baru

Teknologi baterai nuklir awalnya berkembang di Amerika Serikat sejak 1950-an, sehingga negara itu lama dipandang sebagai pionir. Namun kini peta persaingan berubah karena China tampil lebih agresif, sementara perusahaan di AS, Inggris, dan Eropa mulai kembali serius menggarap teknologi serupa.

Peluncuran baterai 50 tahun dari China dinilai menjadi sinyal penting bagi industri global. Setelah melalui lebih dari tujuh dekade riset, baterai nuklir kini memasuki fase baru dengan fokus pada ketahanan, keamanan, dan kegunaan praktis di berbagai sektor teknologi masa depan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru