Taylor Swift mengambil langkah baru untuk melindungi suara dan penampilannya dari penggunaan oleh AI. Penyanyi itu mengajukan tiga permohonan merek dagang baru, termasuk dua “sound marks” yang memakai suaranya dan satu gambar Swift di atas panggung sambil memegang gitar pink.
Langkah ini menarik perhatian karena merek dagang suara masih tergolong jarang digunakan dibandingkan logo atau frasa. Menurut Josh Gerben, pengacara merek dagang dan pendiri Gerben IP, beberapa contoh sound mark yang paling dikenal adalah bunyi “ta-dum” Netflix dan lonceng NBC.
Perlindungan terhadap suara yang ditiru AI
Gerben menjelaskan bahwa permohonan Swift untuk sound mark atas suara lisannya tergolong baru. Ia menilai perkembangan teknologi AI telah membuka celah hukum yang belum sepenuhnya tertutup oleh perlindungan hak cipta.
“Secara historis, penyanyi mengandalkan hukum hak cipta untuk melindungi rekaman musik mereka,” kata Gerben dalam sebuah unggahan blog. “Namun, teknologi AI kini memungkinkan pengguna membuat konten baru yang meniru suara artis tanpa menyalin rekaman yang sudah ada.”
Pernyataan itu menyoroti masalah utama yang kini dihadapi banyak kreator, yaitu kemampuan AI menghasilkan suara yang terdengar mirip tanpa mengambil sampel langsung dari rekaman asli. Dalam situasi seperti ini, merek dagang bisa menjadi jalur perlindungan tambahan karena dapat dipakai untuk menantang penggunaan yang dianggap “confusingly similar” atau terlalu mirip dan berpotensi menyesatkan publik.
Tiga aplikasi merek dagang sekaligus
Dua permohonan sound mark Swift berfokus pada suaranya, sementara aplikasi ketiga memakai citra dirinya di panggung dengan gitar pink. Gerben mengatakan permohonan berbasis gambar itu juga bisa dipakai untuk menghadapi gambar buatan AI yang memanfaatkan kemiripan wajah atau penampilannya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perlindungan yang dicari Swift tidak hanya menyasar audio, tetapi juga identitas visual yang melekat pada dirinya. Dalam konteks industri hiburan, hal itu menjadi penting karena AI kini dapat menciptakan suara dan gambar yang sulit dibedakan dari sosok asli.
Meski begitu, pengajuan merek dagang tidak otomatis berarti perlindungan hukum akan langsung kuat di semua situasi. Seperti ditegaskan Gerben, ujian sebenarnya baru akan terlihat jika merek dagang itu benar-benar dipakai dalam proses hukum.
Bukan hanya Taylor Swift
Kasus Swift juga bukan yang pertama di kalangan selebritas. Aktor Matthew McConaughey sebelumnya mengajukan permohonan serupa untuk suara dan kemiripannya.
McConaughey mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pengajuan itu dimaksudkan untuk membuka jalan agar bisa mengambil tindakan terhadap tiruan AI di pengadilan. Pola ini memperlihatkan bahwa tokoh publik mulai mencari cara hukum yang lebih spesifik untuk menghadapi teknologi yang mampu menyalin identitas mereka secara digital.
Mengapa langkah ini penting
Upaya Swift menegaskan perubahan besar dalam perlindungan hak artis di era AI. Selama bertahun-tahun, rekaman suara dan karya musik dilindungi terutama lewat hak cipta, tetapi pendekatan itu tidak selalu cukup ketika AI menciptakan konten baru yang hanya meniru karakter suara atau penampilan seseorang.
Jika permohonan merek dagang ini diterima, Swift berpotensi memiliki dasar tambahan untuk menolak penggunaan suara atau citra yang dianggap terlalu mirip dengan dirinya. Bagi industri hiburan, langkah itu juga bisa menjadi sinyal bahwa perlindungan atas identitas artis kini harus mengikuti perkembangan teknologi yang semakin cepat.







