Kelompok bank besar di Amerika Serikat mulai menekan kembali proposal baru dalam CLARITY Act karena menilai aturan stablecoin yang diusulkan belum cukup melindungi simpanan bank. Mereka khawatir celah pada bahasa rancangan undang-undang itu justru membuka risiko yang ingin dicegah.
Dalam pernyataan bersama pada Senin, 4 Mei, American Bankers Association dan Bank Policy Institute mengatakan ketentuan soal imbal hasil stablecoin masih menyisakan ruang bagi arus dana keluar dari bank tradisional. Mereka menegaskan bahwa Kongres perlu merancang aturan ini dengan tepat.
Sengketa soal imbal hasil stablecoin
Perdebatan utamanya berkisar pada apakah stablecoin, token digital yang biasanya dipatok ke dolar AS, boleh menawarkan yield atau reward. Bank menilai jika stablecoin memberikan imbalan mirip tabungan, nasabah bisa memindahkan simpanan dari bank ke aset digital itu.
Mereka memperingatkan dampaknya tidak hanya terasa di sektor perbankan, tetapi juga pada penyaluran kredit di ekonomi yang lebih luas. Kelompok bank bahkan mengutip penelitian yang menyebut stablecoin berbunga dapat memangkas pinjaman untuk konsumen, usaha kecil, dan pertanian hingga seperlima atau lebih.
Menurut mereka, rancangan saat ini masih menyisakan celah karena platform kripto dapat menawarkan reward lewat program keanggotaan selama pembayarannya tidak dikemas seperti bunga bank. Draf juga masih memperbolehkan reward yang dikaitkan dengan saldo akun atau lama aset disimpan.
Bank menilai skema seperti itu tetap mendorong orang menahan stablecoin lebih lama. Mereka menyebut dorongan untuk menyimpan stablecoin dalam jangka panjang sebagai ancaman langsung bagi simpanan yang menopang aktivitas ekonomi lokal.
Crypto menyambut kompromi
Di sisi lain, industri kripto menyambut kompromi itu. Coinbase, yang sebelumnya sempat menarik diri dari pembahasan pada Januari, kini menyatakan dukungan penuh terhadap rancangan tersebut.
Chief Policy Officer Coinbase, Faryar Shirzad, menilai kekhawatiran industri perbankan tidak berdasar. Ia mengatakan perdebatan selama ini terlalu banyak bertumpu pada risiko yang dibayangkan, bukan pada bukti nyata atau pemahaman yang tepat tentang cara kerja kripto.
Shirzad juga menyebut teks akhir soal rewards dalam CLARITY Act sudah dipublikasikan. Menurutnya, kompromi itu tetap menjaga kemampuan warga Amerika untuk memperoleh reward berdasarkan penggunaan nyata platform dan jaringan kripto.
Dampak pada masa depan CLARITY Act
CLARITY Act menjadi prioritas utama sektor kripto karena bertujuan melegalkan dan mengatur aset digital secara resmi di Amerika Serikat. Rancangan itu sudah lolos dari House pada Juli lalu dengan suara 294 berbanding 134, tetapi masih mandek di Senat akibat perbedaan soal stablecoin.
Perbedaan pandangan antara bank dan perusahaan kripto kini menjadi penghambat utama pembahasan. Dengan pemilu paruh waktu AS dijadwalkan pada November 2026, muncul kekhawatiran bahwa rancangan undang-undang itu tidak akan lolos tepat waktu.
Meski begitu, kedua kubu masih membuka ruang negosiasi. Kelompok perbankan mengatakan mereka akan mengirim rekomendasi rinci kepada para legislator dalam beberapa hari mendatang dan terus bekerja dengan Kongres untuk menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas keuangan.
Yang dipertaruhkan adalah posisi stablecoin, salah satu segmen yang tumbuh paling cepat di pasar kripto, di dalam sistem keuangan tradisional. Cara pembuat undang-undang menyelesaikan ketegangan ini berpotensi membentuk arah masa depan kedua industri di Amerika Serikat.







