Elon Musk Tarik Langkah Nekat Rp 962 Triliun, Terafab Bisa Ubah Peta Chip Dunia

Krisis kelangkaan chip memori kini mulai menekan pasar elektronik global dan membuat harga perangkat konsumen ikut tertekan. Di tengah situasi itu, Elon Musk justru mendorong langkah yang jauh lebih agresif: membangun megaproyek chip mandiri bernama Terafab dengan nilai investasi US$ 55 miliar atau setara Rp 962 triliun.

Rencana ini langsung menarik perhatian dunia karena skalanya sangat besar dan waktunya bertepatan dengan gangguan pasokan chip yang diperkirakan masih berlanjut hingga 2027. SpaceX, perusahaan antariksa milik Musk, dilaporkan telah mengajukan usulan investasi awal untuk proyek tersebut.

Target besar di Texas

Dana jumbo itu akan dipakai untuk membangun fasilitas manufaktur semikonduktor mutakhir di Texas, Amerika Serikat. Terafab diproyeksikan menjadi titik temu bagi unit bisnis Musk lainnya, yakni SpaceX, xAI, dan Tesla.

Rencana awalnya mencakup dua pabrik chip canggih di Grimes County. Keduanya akan memproduksi komponen untuk kebutuhan yang berbeda sesuai kebutuhan bisnis Musk yang semakin luas.

Fasilitas pertama akan diprioritaskan untuk memasok chip bagi kendaraan listrik Tesla dan robot humanoid Optimus. Fasilitas lainnya akan mendukung data center kecerdasan buatan atau AI di luar angkasa, salah satu ambisi besar Musk belakangan ini.

Bukan sekadar pabrik chip

Dalam presentasinya di Austin, Musk menegaskan urgensi proyek ini dengan kalimat, “Kita harus membangun Terafab atau kita tidak akan memiliki chip sama sekali.” Pernyataan itu menunjukkan betapa seriusnya ia melihat ketergantungan industrinya terhadap pasokan chip global.

Musk berpendapat kapasitas produksi chip dunia saat ini hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan bisnisnya. Ia juga menilai permintaan di masa depan akan melampaui total kapasitas produksi global yang tersedia sekarang.

Terafab tidak dirancang hanya sebagai pabrik perakitan. Proyek ini akan menangani seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir, termasuk desain arsitektur chip secara mandiri.

Musk mengklaim Terafab bisa menghasilkan kapasitas komputasi hingga 1 terawatt per tahun. Angka itu disebut melampaui total produksi AS saat ini yang berada di kisaran setengah terawatt.

Biaya dan keraguan para analis

Di sisi lain, ambisi ini memicu catatan hati-hati dari pasar dan analis. Bernstein memperkirakan biaya membangun fasilitas berkapasitas satu terawatt dapat membengkak antara US$ 5 triliun hingga US$ 13 triliun.

Perbedaan besar antara nilai investasi awal dan estimasi biaya tersebut membuat proyek ini tampak sangat berisiko. Hingga kini, detail jadwal operasional Terafab juga belum jelas.

Situasi itu membuat banyak pihak menunggu apakah proyek ini benar-benar akan menjadi jawaban atas krisis chip dunia. Rekam jejak Musk yang kerap melontarkan proyek visioner namun berujung penundaan atau kegagalan ikut menambah tanda tanya besar.

Dampak krisis chip yang lebih luas

Sorotan terhadap Terafab tidak lepas dari kondisi pasar yang sedang rapuh. Kelangkaan chip memori sudah mulai terasa dampaknya pada lonjakan harga smartphone hingga laptop.

Sejumlah raksasa teknologi dan produsen semikonduktor global bahkan telah memberi peringatan keras bahwa dampak krisis ini bisa terus berlanjut sampai 2027. Karena itu, rencana Musk dinilai muncul di momen yang sangat sensitif bagi industri teknologi dunia.

Terafab kini berada di persimpangan antara ambisi industri yang ekstrem dan keraguan soal realisasinya. Jika berhasil, proyek ini bisa mengubah peta pasokan chip untuk bisnis Musk dan industri teknologi yang lebih luas.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version