Veteran macro investor Jordi Visser menilai Bitcoin dan SpaceX punya kemiripan yang tidak biasa: keduanya lebih digerakkan oleh keyakinan pada masa depan ketimbang metrik valuasi tradisional. Bagi Visser, dua aset seperti ini tidak mudah diukur dengan laba, arus kas, atau ukuran klasik lain yang biasa dipakai pasar.
Visser menyampaikan pandangan itu dalam podcast Anthony Pompliano pada Sabtu. Ia menegaskan bahwa ketika sesuatu tidak punya valuasi, aset itu juga tidak bisa disebut overvalued atau undervalued, karena semuanya kembali menjadi tebakan tentang masa depan.
Keyakinan, bukan angka
Menurut Visser, investor membeli SpaceX karena mereka percaya pada masa depan koloni Mars, infrastruktur bulan, dan ekspansi ruang angkasa komersial. Di sisi lain, pembeli Bitcoin bertaruh pada lahirnya sistem moneter alternatif yang bisa menyaingi struktur keuangan saat ini.
Meski keduanya sama-sama berbasis narasi masa depan, Visser melihat arah pasar mereka sedang berlawanan. Ia menilai modal investor justru mengalir ke saham-saham yang terkait artificial intelligence, sementara Bitcoin kehilangan daya tarik baru.
Bitcoin dinilai kehilangan tenaga
Visser berkata Bitcoin saat ini “tidak punya energi.” Ia mengaitkan kondisi itu dengan rotasi momentum dan modal ritel ke saham-saham terkait AI, bukan ke kripto.
Pandangan itu sejalan dengan narasi yang juga muncul dari sejumlah tokoh industri. Executive Chairman Strategy Inc. Michael Saylor menyebut kondisi ini sebagai “AI summer slump,” sementara CEO Galaxy Digital Mike Novogratz mengatakan pasar kripto saat ini “tidak punya energi” dan “tidak ada pembeli baru.”
Visser juga menyoroti lemahnya saham preferen STRC milik Strategy sebagai faktor lain yang menekan sentimen terhadap perusahaan-perusahaan treasury Bitcoin. Tekanan di area ini, menurutnya, ikut menambah perhatian negatif pada sektor tersebut.
Perhatian pasar bergeser ke SpaceX
Di saat Bitcoin terlihat lesu, SpaceX justru menarik minat investor. Perusahaan itu baru saja menyelesaikan IPO yang sangat dinanti pada harga $135 per saham, dengan valuasi sekitar $1.77 trillion.
Penawaran itu juga menghasilkan hingga $85.7 billion setelah underwriter menggunakan opsi greenshoe, yakni mekanisme yang memungkinkan bank menjual saham tambahan ketika permintaan investor melampaui ekspektasi. Di Stocktwits, sentimen ritel terhadap SPCX tetap berada di zona “bullish,” sementara tingkat percakapan berada di level “extremely high” dalam satu hari terakhir.
Saham SpaceX sendiri ditutup turun 3% pada Jumat. Namun, minat pasar ritel tampak masih kuat dan menjaga nama itu tetap ramai dibicarakan.
Bitcoin menunggu giliran
Visser menilai perbandingan antara SpaceX dan Bitcoin juga menunjukkan ke mana modal spekulatif sedang bergerak. Ia percaya kenaikan Bitcoin berikutnya mungkin baru datang setelah perdagangan AI mendingin dan investor kembali masuk ke aset berisiko lain.
Pandangan itu menandai perubahan dari sikapnya sebelumnya pada awal tahun, ketika ia menyebut Bitcoin sebagai “ultimate AI-era scarcity asset” dan memperkirakan rekor tertinggi baru pada 2026. Kini, ia melihat Bitcoin bisa tetap tertahan sampai antusiasme terhadap AI mulai mereda, mungkin lebih cepat jika pasar ekuitas yang lebih luas ikut kehilangan momentum.
Pada saat yang sama, harga Bitcoin tercatat berada di $64,065. Di Stocktwits, sentimen ritel terhadap BTC bergeser ke “neutral” dari “bullish,” sementara tingkat percakapan tetap berada di level “low” dalam satu hari terakhir.
