Profesi Bergaji Tinggi Tak Lagi Aman, AI Dan Inflasi Memicu Gelombang PHK Baru

Author: Qoo Media

Profesi bergaji tinggi di sektor teknologi kini justru masuk fase sulit. Perusahaan menahan perekrutan, sebagian bahkan memangkas tenaga kerja, ketika tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi keputusan bisnis.

Perubahan ini juga menyentuh posisi yang terkait kecerdasan buatan atau AI. Padahal, beberapa waktu lalu kemampuan AI sempat menjadi salah satu daya tarik utama di pasar kerja teknologi.

CEO Janco Victor Janulaitis mengatakan perusahaan kini lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga teknologi informasi. Menurut dia, banyak perusahaan memilih menahan ekspansi karena belum yakin perekrutan spesialis AI akan langsung menghasilkan keuntungan.

Pernyataan itu sejalan dengan tren yang terlihat di lapangan. Platform layanan transportasi online Lyft, misalnya, meninjau ulang seluruh posisi yang ada untuk melihat bagaimana AI bisa mengubah peran di dalam perusahaan.

Menariknya, sikap Lyft terhadap AI juga berubah dalam waktu singkat. Enam bulan lalu, Wakil Presiden Eksekutif Lyft Jason Vogrinec sempat menjelaskan bahwa insinyur perangkat lunak tidak diizinkan menggunakan alat AI dalam wawancara kerja.

Di saat yang sama, pasar kerja teknologi informasi menunjukkan pelemahan. Analisis Janco Associates berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mencatat tingkat pengangguran di sektor TI berada di 3,8% pada April, naik tipis dari 3,6% pada Maret.

PHK masih berlanjut di banyak perusahaan

Gelombang pemutusan hubungan kerja juga belum mereda pada awal tahun 2026. Sejumlah bisnis di sektor teknologi menyebut AI sebagai salah satu alasan pengurangan pegawai, meski perusahaan juga memakai alasan efisiensi dan penataan ulang operasi.

Meta memangkas sekitar 8.000 pegawai atau 10% dan menyebut langkah itu sebagai upaya merampingkan operasional sekaligus membiayai investasi di bidang AI. Nike juga mengurangi 2% karyawan atau 1.400 orang, dengan sebagian besar pemotongan berasal dari departemen teknologi.

Snap turut melakukan langkah serupa. Perusahaan itu akan memecat 16% karyawan atau sekitar 1.000 peranan dengan alasan meningkatkan efisiensi.

Dampaknya tidak berhenti pada perusahaan teknologi murni. Bidang lain seperti telekomunikasi dan pengolahan data juga mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan, dengan puncak kondisi terjadi pada November 2022.

AI tetap dibutuhkan, tetapi tidak cukup untuk menjamin pekerjaan

Meski menjadi salah satu pemicu kehati-hatian perekrutan, AI belum sepenuhnya ditinggalkan perusahaan. Teknologi itu justru ikut dipakai untuk menilai ulang struktur kerja, fungsi jabatan, dan kebutuhan tenaga kerja di dalam organisasi.

Kondisi tersebut membuat profesi yang sebelumnya dianggap bernilai tinggi tidak otomatis aman dari tekanan pasar. Perusahaan kini lebih fokus pada efisiensi, penghematan, dan hasil yang bisa langsung dibuktikan di tengah kondisi bisnis yang belum stabil.

Di sisi pekerja, perubahan ini berarti persaingan di bidang teknologi menjadi lebih ketat. Permintaan atas talenta AI masih ada, tetapi perusahaan tampak jauh lebih selektif sebelum membuka rekrutmen baru.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru