China Buru Teknologi AI Amerika, FBI Turun Tangan Hadapi Ancaman Baru

Perang kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China kini bergerak ke wilayah yang lebih sensitif: pencurian teknologi. Sejumlah dugaan serangan siber yang dikaitkan dengan entitas China memunculkan kekhawatiran bahwa Beijing berupaya mengejar ketertinggalan AI dengan mengambil harta karun intelektual dari perusahaan-perusahaan Amerika.

Matt Pearl, direktur program teknologi strategis di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, mengatakan China semakin menargetkan sektor teknologi seiring memanasnya persaingan AI. Menurut dia, fokus itu tidak lagi sebatas mencuri rahasia dagang tertentu, tetapi meluas ke upaya memahami peta jalan produk perusahaan dan mencari kelemahan di rantai pasokan.

Pola itu dinilai menjadi jalan pintas untuk mempersempit jarak kemampuan AI dengan AS dalam hitungan tiga hingga empat bulan. Dengan kata lain, ancaman yang dihadapi perusahaan teknologi bukan hanya kebocoran data biasa, tetapi juga risiko strategis yang bisa memengaruhi posisi kompetitif mereka di pasar global.

Sejumlah kasus yang mencuat belakangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Raksasa keamanan siber AS, Crowdstrike, pada Juni lalu menuding entitas China berada di balik lebih dari setengah serangan yang menargetkan perusahaan teknologi, khususnya di bidang AI, selama 12 bulan terakhir.

Tuduhan serupa juga datang dari Anthropic. Perusahaan itu menyebut sejumlah perusahaan China, termasuk Alibaba, berupaya mencuri kemampuan AI miliknya, memperlihatkan bahwa persaingan ini tidak hanya berlangsung di laboratorium riset, tetapi juga di ranah spionase digital yang sangat agresif.

Dari sisi lain, startup AI asal AS, Copyleaks, pernah menyoroti kemiripan model R1 milik DeepSeek dengan ChatGPT. Perusahaan itu mengatakan respons yang dihasilkan tampak hampir sama, sehingga memunculkan dugaan bahwa R1 kemungkinan telah dilatih dengan model AI asal AS.

CEO sekaligus salah satu pendiri Copyleaks, Alon Yamin, mengatakan pihaknya belum melihat kesamaan gaya dengan LLM lain. Pernyataan itu menambah bobot pada dugaan bahwa ada praktik pengambilan pengetahuan model yang lebih jauh daripada sekadar inspirasi teknis.

FBI masuk dan anggap ancaman serius

Di tengah meningkatnya tuduhan tersebut, FBI menyatakan kampanye spionase China sebagai ancaman keamanan nasional bagi AS. Lembaga itu juga memastikan sedang melakukan penyelidikan atas risiko pencurian teknologi oleh pihak asing.

FBI menegaskan prioritasnya adalah menyelidiki potensi pencurian teknologi AS yang dilakukan pihak asing dan melindungi tanah air. Sikap itu menunjukkan bahwa isu ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar sengketa bisnis antarkorporasi, melainkan persoalan keamanan nasional yang bisa berdampak luas.

Perhatian terhadap pencurian teknologi menjadi semakin penting karena sektor AI bergerak sangat cepat dan sangat bergantung pada riset, data, serta rantai pasokan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, kebocoran kecil sekalipun dapat memberi keuntungan besar bagi pesaing yang sedang mengejar posisi terdepan.

Di saat persaingan AI kian sengit, tuduhan pencurian teknologi, serangan terhadap perusahaan AI, dan langkah FBI memperlihatkan bahwa kompetisi AS-China sudah memasuki fase yang lebih keras. Pertaruhannya bukan hanya soal inovasi, tetapi juga siapa yang lebih dulu menguasai pengetahuan paling bernilai di industri yang sedang membentuk masa depan teknologi.

Source: www.cnbcindonesia.com

Terkait