Di kalangan keluarga kaya di Amerika Serikat, sekolah formal mulai kehilangan daya tarik sebagai satu-satunya pilihan. Mereka kini melirik sekolah alternatif yang memadukan kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis proyek, dan latihan keterampilan hidup seperti negosiasi, berbicara di depan umum, serta membangun bisnis.
Perubahan ini didorong kekhawatiran bahwa AI akan mengubah pasar kerja dengan sangat cepat. Banyak orang tua kaya mulai bertanya apakah sistem pendidikan tradisional masih cukup relevan untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan.
Ankur Jain, presiden hedge fund di New Jersey, termasuk yang mengambil langkah itu. Anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun sebenarnya berprestasi dan nyaman di sekolah negeri, tetapi Jain memindahkannya ke Forge Prep.
Di sekolah baru itu, siswa dilatih memecahkan masalah nyata, merancang produk, dan membangun perusahaan sejak usia dini. Jain menilai kemampuan seperti negosiasi, penjualan, dan public speaking justru sangat penting, meski ia sendiri baru mempelajarinya saat berusia 20-an tahun.
Sekolah AI yang diburu kalangan tajir
Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Alpha School di Austin, Texas, yang berdiri sekitar 12 tahun lalu. Sekolah ini menggabungkan dua jam pembelajaran berbasis AI setiap hari dengan lokakarya proyek secara langsung.
Model ini juga menyasar personalisasi belajar. Platform AI di Alpha mencatat interaksi setiap siswa, termasuk tingkat fokus saat belajar, lalu menyesuaikan kurikulum untuk hari-hari berikutnya.
Seorang investor modal ventura asal San Francisco, Shaun Johnson, memilih Alpha School setelah tak puas dengan sekolah negeri yang didapat lewat sistem undian. Ia menilai pendidikan perlu dirombak karena dunia kerja akan berubah akibat AI.
Johnson menegaskan AI di sekolah itu bukan sekadar ikut tren. Menurut dia, teknologi tersebut dipakai untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal.
Biaya sekolah itu tidak kecil. Di San Francisco, uang sekolah Alpha School mencapai US$75.000 per tahun, atau sekitar Rp1,2 miliar dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.
Alpha School juga sempat mendapat sorotan karena didukung sejumlah tokoh ternama, termasuk miliarder Bill Ackman. Kehadiran nama besar itu ikut menambah perhatian terhadap model pendidikan berbasis AI yang sedang naik daun.
Forge Prep ikut masuk peta pendidikan baru
Forge Prep, sekolah yang baru dibuka di New Jersey, juga ikut menumpang gelombang ini. Sekolah tersebut menerima sekitar 600 pendaftar untuk tahun ajaran pertamanya, padahal kursi yang tersedia hanya 34 untuk siswa kelas 5 sampai kelas 8.
Pendiri Forge Prep, Anand Sanwal, optimistis pendekatan itu akan menjadi masa depan pendidikan. Ia mengatakan sekolahnya akan berkembang hingga jenjang kelas 12 dengan sekitar 400 siswa, dan lulusan yang memilih membangun perusahaan bisa berpeluang memperoleh investasi awal hingga US$200.000 dari Forge.
Biaya sekolah angkatan pertama berada di kisaran US$24.000-36.000 per tahun. Sekitar 30% siswa menerima bantuan keuangan, sementara biaya sekolah akan naik menjadi US$60.000 per tahun pada tahun depan.
Sanwal menegaskan sekolahnya tetap membatasi penggunaan teknologi. Ponsel dilarang di lingkungan sekolah dan penggunaan Chromebook juga dibatasi, karena AI hanya dipakai untuk membantu siswa menciptakan sesuatu, bukan sekadar mengonsumsi informasi.
Kritik atas model baru
Meski populer di kalangan keluarga kaya, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Caroline Hoxby, profesor pendidikan dari Stanford University, mengatakan pembelajaran berbasis proyek sebenarnya bukan hal baru, sedangkan yang membedakan saat ini adalah integrasi AI ke dalam proses belajar.
Hoxby mengingatkan bahwa efektivitas model tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Ia menolak mendukung model pendidikan apa pun yang belum didukung bukti empiris memadai.
Victor Lee, profesor pendidikan Stanford lainnya, juga menyoroti penggunaan istilah “guide” sebagai pengganti guru. Menurut dia, istilah itu berpotensi mengurangi penghargaan terhadap keahlian dan profesionalisme pendidik.
Di sisi lain, para pendukungnya menilai dunia berubah terlalu cepat untuk tetap bertahan pada pola sekolah lama. Bagi mereka, sekolah AI bukan sekadar alternatif, tetapi jawaban atas kebutuhan baru di tengah perubahan besar pasar kerja.
Source: www.cnbcindonesia.com






