Seorang mantan karyawan Google, Linwei “Leon” Ding, dinyatakan bersalah atas pencurian rahasia teknologi kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan. Ding didakwa melakukan pencurian dan pembocoran informasi rahasia kepada entitas yang terkait pemerintah China.
Kasus ini mengungkapkan tindakan Ding yang mengakses dan menyalin lebih dari 1.000 file rahasia terkait teknologi chip dan perangkat keras AI Google. Ia menghadapi ancaman hukuman penjara yang sangat berat setelah dinyatakan bersalah atas 14 dakwaan, termasuk spionase ekonomi dan pencurian rahasia dagang.
Detail Dakwaan terhadap Linwei Ding
Berdasarkan berkas dakwaan resmi, Ding dituduh melakukan pencurian rahasia penting terkait chip Tensor Processing Unit (TPU), Graphics Processing Unit (GPU), dan komponen SmartNIC. Komponen ini sangat krusial bagi infrastruktur komputasi AI yang dikembangkan Google.
Jaksa penuntut dari Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa Ding bermaksud menguntungkan dua entitas yang dikendalikan oleh pemerintah China. Kedua entitas tersebut fokus mengembangkan superkomputer AI dan riset chip khusus untuk pembelajaran mesin.
Modus Operandi Pencurian Teknologi
Ding mulai bekerja di Google pada Mei 2019 dan memiliki akses ke sistem internal yang sensitif, termasuk perangkat lunak untuk mengoptimalkan GPU di Google Cloud. Pada Mei 2022, Ding melakukan aksinya dengan menyalin data rahasia tersebut.
Untuk menghindari sistem keamanan Google, Ding memindahkan data rahasia ke aplikasi Apple Notes di laptop kerjanya. Data kemudian diubah menjadi file PDF dan diunggah ke akun Google Cloud pribadi. Sistem keamanan berlapis Google sempat gagal mendeteksi tindakan Ding ini.
Keterlibatan Perusahaan di China
Satu bulan setelah memulai pencurian data, Ding sudah menerima tawaran posisi Chief Technology Officer (CTO) di Beijing Rongshu Lianzhi Technology Co. Ltd. Perusahaan startup ini bergerak di bidang akselerasi pembelajaran mesin di China. Gaji yang ditawarkan mencapai 100.000 yuan per bulan, ditambah bonus dan saham perusahaan.
Kemudian pada Mei 2023, Ding mendirikan Shanghai Zhisuan Technology Co. Ltd. dan menjabat sebagai CEO. Startup ini berfokus pada pengembangan sistem manajemen klaster untuk mempercepat beban kerja AI. Rencana perusahaan tersebut termasuk memasarkan teknologi yang dimilikinya ke entitas yang dikendalikan pemerintah China.
Pengungkapan Kasus dan Penyelidikan
Kasus ini mulai terungkap saat Ding kembali mengunggah data Google ke akun Google Drive pribadinya. Aksi ini berlangsung meski ia sudah menandatangani pernyataan tidak menyimpan data perusahaan.
Google melakukan investigasi internal setelah mengetahui Ding tampil sebagai CEO Zhisuan pada konferensi bisnis MiraclePlus. Akses jaringan Ding dibekukan dan perangkat kerjanya dikunci jarak jauh. Rekaman pengawasan menunjukkan Ding memanipulasi data kehadiran dengan berpura-pura berada di AS, padahal sebenarnya di China.
Pada Januari, perangkat Ding disita dan FBI melakukan penggeledahan. Dewan juri akhirnya mengajukan dakwaan resmi pada Maret dan kasus ini pun berlanjut ke persidangan.
Potensi Hukuman dan Dampak Kasus
Ding menghadapi ancaman hukuman maksimal hingga 10 tahun untuk masing-masing dakwaan pencurian rahasia dagang dan 15 tahun untuk dakwaan spionase ekonomi. Dengan total 14 dakwaan, hukuman bisa mencapai 175 tahun penjara jika dijatuhkan secara kumulatif.
Hakim akan mempertimbangkan pedoman hukum federal dalam menentukan apakah hukuman dijalankan bersamaan atau terpisah. Meski tim pembela berargumen Ding tidak secara langsung menyerahkan rahasia kepada pemerintah China, bukti yang diajukan penuntut dianggap cukup kuat oleh hakim.
Kasus Linwei Ding dalam Konteks Lebih Luas
Kasus pencurian rahasia AI ini mengingatkan pada kasus Anthony Levandowski, mantan insinyur Google yang dihukum 18 bulan penjara atas pencurian rahasia terkait teknologi kendaraan otonom. Namun, kasus Ding dinilai lebih serius karena menyangkut teknologi inti AI dan keterlibatan perusahaan China yang bekerja sama dengan pemerintah.
Kasus Linwei Ding menyoroti risiko kebocoran teknologi strategis dalam persaingan global AI yang semakin ketat. Hal ini juga mempertegas langkah serius pemerintah AS dan perusahaan teknologi untuk melindungi inovasi dan rahasia dagang dari ancaman spionase dan kebocoran informasi.
Data dan fakta lengkap mengenai perkara ini diperoleh dari berkas dakwaan pengadilan Amerika Serikat dan laporan investigasi internal Google, yang disajikan secara transparan dalam berbagai sumber media terpercaya.
