Sam Altman, CEO OpenAI, baru-baru ini meluncurkan aplikasi coding baru bernama Codex khusus untuk pengguna Mac. Setelah perilisan tersebut, Altman mengungkapkan perasaannya yang tak terduga yakni merasa sedih dan sedikit tidak berguna saat menggunakan produk AI buatannya sendiri.
Codex merupakan aplikasi mandiri yang dirancang untuk memudahkan proses “vibe coding”. Dengan aplikasi ini, para pengembang bisa mengelola beberapa agen AI secara paralel dalam satu proyek tanpa kehilangan fokus. Agen-agen ini dapat menjalankan berbagai tugas secara independen mulai dari menulis hingga memperbaiki kode, bahkan menghasilkan gambar.
Altman menjelaskan bahwa saat ia mencoba membangun aplikasi menggunakan Codex, AI memberikan beberapa ide yang dianggapnya lebih baik dari ide dia sendiri. “Saya merasa sedikit tidak berguna dan itu membuat saya sedih,” ujarnya dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter). Pernyataan ini langsung menarik perhatian banyak pihak karena sangat jujur dan muncul tepat setelah peluncuran Codex untuk Mac.
OpenAI menggambarkan Codex sebagai pusat komando bagi para pengembang. Aplikasi ini memungkinkan pengguna menjalankan berbagai agen AI yang bekerja di jalur berbeda tapi tetap terorganisir rapi menurut proyek masing-masing. Fitur ini memudahkan kolaborasi serta membantu menyelesaikan tugas yang berjalan lama tanpa kehilangan jejak.
Adapun agen AI di Codex bukan sekadar chatbot biasa. Mereka mampu melakukan tugas kompleks secara mandiri, termasuk menulis kode dan melakukan penyempurnaan. Codex juga menyediakan berbagai kemampuan bawaan, misalnya generasi gambar, yang memperluas fungsi AI di luar pemrograman biasa.
Dalam catatan OpenAI, penggunaan alat coding berbasis AI meningkat sangat pesat dalam setahun terakhir. Codex sendiri telah dipakai oleh lebih dari satu juta pengembang dalam satu bulan terakhir. OpenAI memperkenalkan Codex awal tahun dan memperluas aksesannya di bulan berikutnya. Peluncuran aplikasi Mac adalah langkah terbaru untuk memperkuat posisi Codex di tengah ketatnya persaingan, terutama dengan perusahaan seperti Anthropic dan Cursor yang juga menawarkan tools serupa bagi pengembang.
Di sisi internal perusahaan, Codex juga mendapat sambutan positif. Altman menyebut Codex sebagai “produk internal yang paling dicintai” sepanjang sejarah OpenAI. Tim perusahaan menggunakan Codex secara intensif dan merasakan pengalaman luar biasa dalam membangun berbagai hal. Altman bahkan mengaku sering begadang karena antusiasme mengembangkan inovasi menggunakan Codex.
Untuk akses Codex, biasanya pengguna harus berlangganan paket ChatGPT, antara lain Plus, Pro, Business, Enterprise, dan Edu, dengan opsi pembelian kredit tambahan. Namun, seiring peluncuran aplikasi ini, OpenAI juga membuka akses Codex kepada pengguna gratis dan paket Go dengan biaya lebih rendah untuk waktu yang terbatas. Pengguna berbayar pun menikmati peningkatan batas pemakaian yang dua kali lebih besar dari biasanya.
Berikut fitur utama Codex untuk Mac yang mendukung proses coding lebih efisien:
1. Kemampuan menjalankan beberapa agen AI sekaligus dalam proyek berbeda.
2. Pengorganisasian pekerjaan dalam thread terpisah agar mudah dipantau.
3. Tugas AI yang tidak hanya menulis kode, tapi juga menghasilkan gambar.
4. Kemudahan kolaborasi dan revisi kode secara real-time.
5. Dukungan luas untuk berbagai langganan ChatGPT dan akses gratis sementara.
Melalui Codex, OpenAI ingin menghadirkan alat bantu pengembangan yang revolusioner sekaligus mengubah cara pengembang berinteraksi dengan AI. Namun, pengalaman pribadi Altman menunjukkan bahwa meski kemajuan teknologi sangat pesat, dampaknya terhadap manusia pembuatnya bisa kompleks dan menyisakan berbagai perasaan. Hal ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana AI dan kreativitas manusia saling berhubungan dalam era digital saat ini.
