Transformasi besar sedang terjadi di industri IT India. Tata Consultancy Services (TCS), perusahaan layanan TI terbesar di negara itu, meminta karyawannya untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara maksimal, bahkan jika langkah ini berdampak pada penurunan pendapatan jangka pendek.
Instruksi ini datang langsung dari CEO TCS, K Krithivasan, saat berbicara dalam forum teknologi di Mumbai. Langkah radikal tersebut dianggap perlu di tengah ketidakpastian industri dan kekhawatiran karyawan atas masa depan pekerjaan mereka.
Dorongan TCS untuk AI dan Efisiensi
Krithivasan menegaskan TCS mendorong stafnya untuk menggunakan alat AI dalam setiap proses yang memungkinkan. Penerapan AI bertujuan membuat pekerjaan selesai lebih cepat, lebih efisien, dan biaya lebih rendah.
Secara terbuka, Krithivasan meminta agar tim TCS tidak ragu melaporkan efisiensi kerja kepada klien. Meski hal tersebut dapat mengurangi jumlah tagihan, transparansi ini dinilai sangat penting dalam membangun kepercayaan pelanggan.
CEO TCS berkata, “Jika dengan AI suatu pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan murah, Anda harus segera memberitahukan hal itu kepada pelanggan, meski mungkin memangkas pendapatan.”
Latar Belakang Ketidakpastian di Industri IT India
Gelombang perubahan yang diinisiasi TCS terjadi pada saat sektor IT India tengah dilanda kecemasan. Fenomena pemutusan hubungan kerja (layoff) telah terjadi secara masif.
Data TCS menunjukan hampir 20,000 karyawan keluar dari perusahaan dalam kuartal kedua tahun fiskal 2025-26. Jumlah total pekerja TCS menurun dari 613,069 menjadi 593,314 pada periode yang sama.
Penurunan tenaga kerja tersebut menjadi sorotan utama. Banyak pihak bertanya-tanya apakah AI benar-benar memicu PHK atau sekadar kebetulan bersamaan dengan efisiensi internal perusahaan.
Namun, TCS membantah bahwa pemangkasan pekerja hanya disebabkan oleh otomatisasi. Dalam presentasi ke investor, TCS mengungkapkan bahwa perputaran karyawan (attrition) juga mengalami penurunan. Tingkat attrition turun menjadi 13,3 persen dari sebelumnya 13,8 persen.
Sudeep Kunnumal, Chief Human Resources Officer TCS, menjelaskan penurunan jumlah karyawan disebabkan oleh banyak faktor, tidak semata-mata karena automatisasi. Perusahaan mencatat baik attrition sukarela maupun tidak sukarela berkontribusi terhadap total angka tersebut.
Respons Pasar dan Tekanan Saham
Langkah TCS menggenjot pemanfaatan AI memicu reaksi keras di pasar modal. Ketidakpastian masa depan pekerjaan di sektor IT membuat harga saham perusahaan-perusahaan TI India tertekan tajam.
Dalam satu bulan terakhir, kapitalisasi pasar perusahaan IT India anjlok senilai $68,6 miliar. Indeks Nifty IT bahkan turun hingga 21 persen, penurunan bulanan paling tajam dalam hampir 23 tahun terakhir.
Analis melihat kecemasan utama investor terletak pada potensi AI menggantikan kebutuhan tenaga kerja dalam skala besar. Peningkatan efisiensi berarti kebutuhan tim besar untuk sebuah proyek tidak lagi mutlak, sehingga model bisnis lawas yang mengandalkan jam kerja dan billing cycles panjang mulai terancam.
Pandangan Optimis Soal AI dan Masa Depan Pekerja
Meski ada kekhawatiran, CEO TCS menekankan AI bukan ancaman bagi keberlangsungan pekerjaan. Krithivasan menyampaikan bahwa AI harus dipandang sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Menurutnya, perusahaan yang mengadopsi AI secara terbuka akan lebih siap menghadapi perubahan bisnis ke depan. Dengan AI, karyawan justru dapat memaksimalkan potensi diri tanpa kehilangan kesempatan pekerjaan.
Krithivasan berkata, “Kami tidak khawatir teknologi ini akan merebut nafkah kami. Justru, teknologi ini bisa membuka peluang lebih luas dan memberikan manfaat lebih besar jika dikelola dengan tepat.”
Fakta Penting Mengenai AI dan Proses Transformasi di TCS
- Perusahaan mendorong penggunaan AI di seluruh lini pekerjaan, meski memangkas pendapatan dalam jangka pendek.
- Hampir 20,000 pegawai meninggalkan TCS selama kuartal kedua tahun fiskal 2025-26.
- Tingkat attrition turun menjadi 13,3 persen pada periode yang sama.
- Saham perusahaan IT tertekan hingga penurunan sebesar 21 persen di indeks Nifty IT dalam sebulan terakhir.
- TCS menegaskan penurunan pegawai terjadi karena berbagai faktor, bukan otomatisasi semata.
Transformasi yang dilakukan TCS akan menjadi tolok ukur strategi berbasis AI di industri IT global. Bagi pekerja dan investor, inisiatif ini merupakan ujian nyata pada cara lama dan masa depan teknologi dalam dunia kerja serta layanan digital.
