
Elon Musk kembali melontarkan kritik keras terhadap OpenAI, menuding perusahaan yang turut didirikannya itu telah gagal menjaga misi awal mereka demi kepentingan komersial. Ia menyebut teknologi chatbot ChatGPT dari OpenAI berisiko berbahaya, bahkan menyebutkan adanya dugaan keterkaitan ChatGPT dengan kasus kematian pengguna yang sedang diproses secara hukum di Amerika Serikat.
Musk menegtakan bahwa sampai saat ini, tidak ada kasus bunuh diri terkait penggunaan Grok, chatbot AI buatan perusahaannya sendiri, xAI. Ia membandingkan hal ini dengan ChatGPT, yang menurutnya tengah menghadapi tuntutan hukum. Dalam tuntutan tersebut, keluarga korban mengklaim percakapan yang bersifat manipulatif dan emosional berat dari ChatGPT mengakibatkan tekanan mental parah hingga berujung pada tindakan bunuh diri. Pernyataan ini terekam dalam video kesaksian Musk yang direkam pada September dan baru saja dipublikasikan sebagai bagian dari persiapan gugatan terhadap OpenAI.
Inti Sengketa Musk dan OpenAI
Inti dari konflik hukum antara Musk dan OpenAI terletak pada perubahan status OpenAI, dari lembaga penelitian nirlaba menjadi perusahaan berbasis keuntungan. Musk menegaskan bahwa perubahan ini telah menyimpang dari perjanjian dan visi awal mereka, yaitu memastikan perkembangan AI berjalan aman, transparan, dan tidak dikendalikan pihak tertentu.
Musk berkeyakinan, tekanan bisnis dan kemitraan besar bisa mempercepat pengembangan AI tanpa pertimbangan keamanan yang memadai.
Kekhawatiran Musk terhadap laju pengembangan AI telah ia sampaikan sebelumnya lewat surat terbuka bersama lebih dari 1.100 pakar AI di seluruh dunia. Dalam surat itu, mereka mendesak agar pengembangan sistem yang lebih canggih dari GPT-4 dihentikan sementara. Mereka menilai persaingan antar laboratorium AI berada di luar kendali tanpa adanya pemahaman risiko secara menyeluruh. Musk menyatakan alasan menandatangani surat tersebut adalah demi memastikan keamanan AI selalu menjadi prioritas utama.
Polemik Keamanan Grok
Walau memposisikan Grok sebagai alternatif AI yang lebih aman, Musk juga dihadapkan pada permasalahan seputar sistem buatannya sendiri. Pada akhir tahun lalu, Grok terseret dalam penyebaran gambar-gambar vulgar buatan AI di X (sebelumnya Twitter), termasuk konten eksplisit yang melibatkan anak di bawah umur.
Kejadian ini menarik perhatian otoritas hukum di California serta lembaga regulator di Uni Eropa. Beberapa negara mengambil langkah pemblokiran terhadap Grok. Isu ini mengindikasikan bahwa tantangan dan resiko keamanan bukan hanya milik OpenAI, tapi turut mengintai xAI dan seluruh pengembang chatbot AI.
Fakta Penting Seputar Latar Belakang Perseteruan
- Elon Musk merupakan salah satu pendiri OpenAI, namun mundur dari dewan pada awal tahun 2018 karena potensi benturan kepentingan dengan pengembangan AI di Tesla.
- Mundurnya Musk juga dipengaruhi ketidaksepahaman terkait arah dan manajemen OpenAI, ditambah kabar bahwa ia menginginkan kontrol lebih besar atas perusahaan.
- Salah satu alasan Musk memulai OpenAI adalah kekhawatirannya terhadap dominasi Google di bidang AI. Ia bahkan menyebut diskusinya dengan Larry Page, salah satu pendiri Google, sebagai "mencemaskan" karena minimnya perhatian Google pada masalah keamanan AI.
Perbandingan Respon Terhadap Kritik AI
| Aspek | ChatGPT (OpenAI) | Grok (xAI) |
|---|---|---|
| Kasus hukum | Terkait kematian pengguna & gangguan mental | Belum ada kasus terkait kematian langsung |
| Investigasi pemerintah | Beberapa negara dan regulator memantau pengaruh AI | Diselidiki atas kasus penyebaran konten tidak pantas |
| Visi pendiri | Awalnya nirlaba, kini profit-oriented | Menyatakan keamanan sebagai prioritas |
Musk menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama mendirikan OpenAI adalah sebagai penyeimbang agar AI tak dikendalikan oleh satu entitas besar. Ia menilai, setelah bertransformasi menjadi perusahaan untuk mengejar keuntungan, OpenAI dianggap melenceng jauh dari cita-cita tersebut.
Meskipun demikian, dinamika persaingan antar pengembang AI masih akan terus terjadi. Baik OpenAI maupun xAI menghadapi sorotan tajam mengenai transparansi, keamanan, dan tanggung jawab etis. Sampai saat ini, perhatian dunia terhadap dampak sosial dan keselamatan publik dari kecerdasan buatan semakin menguat, menuntut sikap terbuka dan regulasi yang jelas bagi semua aktor industri AI.
Source: www.indiatoday.in







