DJI Gugat Insta360 atas Paten, Perang Drone dan Kamera 360 Makin Memanas

Persaingan dua merek teknologi asal China, DJI dan Insta360, memasuki babak baru setelah DJI menggugat Insta360 atas dugaan pencurian paten. Sengketa ini muncul di tengah persaingan yang makin terbuka antara keduanya, terutama di pasar drone dan kamera 360 derajat.

Kasus ini menarik perhatian karena tidak hanya menyangkut hak kekayaan intelektual, tetapi juga perebutan posisi di dua kategori perangkat yang tumbuh cepat. DJI selama ini dikenal sebagai pemimpin pasar drone, sementara Insta360 kuat di kamera 360 derajat dan kini mulai menantang dominasi DJI di segmen udara.

DJI dan Insta360 saling bersinggungan di dua pasar utama

Dalam beberapa waktu terakhir, batas bisnis kedua perusahaan semakin kabur. DJI mulai agresif masuk ke kamera 360 derajat, sedangkan Insta360 memperluas langkah ke pasar drone melalui sub-merek baru.

Menurut referensi yang diberikan, DJI disebut telah mengajukan keluhan hukum terhadap Insta360. Di sisi lain, pendiri Insta360, JK Liu, justru melontarkan tudingan balik dengan menyatakan bahwa DJI juga tidak segan meniru komponen dan fitur perangkat lunak.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa konflik ini tidak sekadar soal satu produk. Sengketa paten berkembang menjadi simbol pertarungan dua perusahaan teknologi China yang kini saling menyerang di wilayah bisnis lawan.

Tudingan pelanggaran paten dari kedua arah

JK Liu menyebut survei internal Insta360 mengarah kuat pada dugaan bahwa DJI melanggar sejumlah paten milik perusahaannya. Dalam referensi disebutkan bahwa kamera DJI saat ini, termasuk Osmo 360, berpotensi melanggar 28 paten yang dimiliki Insta360.

Meski begitu, Liu mengatakan Insta360 tidak berencana melancarkan gugatan balasan. Perusahaan memilih mengalokasikan sumber daya untuk mengembangkan teknologi baru, bukan menghabiskannya pada proses hukum yang mahal.

Sikap ini penting karena menunjukkan strategi bisnis yang berbeda. Insta360 tampaknya ingin menjaga fokus pada inovasi produk, walau secara terbuka tetap mendorong narasi bahwa mereka juga memiliki dasar kuat dalam isu paten.

Rekam jejak hukum jadi modal kepercayaan diri Insta360

Di pasar Amerika Serikat, Insta360 sebelumnya mencatat hasil positif dalam sengketa serupa. Berdasarkan referensi, US International Trade Commission atau ITC telah menolak seluruh gugatan paten yang diajukan GoPro terhadap Insta360.

Fakta itu memberi bobot pada posisi Insta360 saat ini. Meski tidak membalas DJI lewat jalur hukum, perusahaan dapat menunjukkan bahwa mereka pernah menghadapi tekanan hukum besar dan lolos dari tuduhan pelanggaran.

Bagi pembaca dan pelaku industri, catatan tersebut juga memperkuat aspek kredibilitas. Sengketa paten di sektor perangkat keras sering kali rumit, sehingga hasil di lembaga seperti ITC menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kekuatan argumen suatu perusahaan.

Momen gugatan dinilai tidak kebetulan

Waktu munculnya perkara ini dinilai sangat strategis. Referensi menyebut sidang atau proses hukum tersebut terjadi saat kedua raksasa teknologi itu semakin dalam memasuki wilayah produk masing-masing.

DJI sedang membidik pasar kamera 360 derajat yang dinilai menguntungkan melalui model seperti Osmo 360. Sebaliknya, Insta360 mulai menantang DJI di pasar drone lewat merek Antigravity.

Antigravity disebut telah meluncurkan A1 pada akhir waktu yang disebut dalam referensi sebagai drone 360 derajat pertama yang benar-benar utuh. Produk itu memberi tekanan baru kepada DJI untuk segera merespons melalui lini produk yang relevan.

Menurut sumber yang sama, respons DJI dijadwalkan hadir pada hari Kamis, 26 Maret, lewat perangkat baru bernama Avata 360. Jika informasi itu akurat, maka sengketa hukum ini berlangsung beriringan dengan eskalasi kompetisi produk yang sangat langsung.

Dampak ke pasar dan sentimen investor

Perseteruan ini ternyata ikut memengaruhi pasar modal. Referensi menyebut harga saham Arashi Vision, induk Insta360, sempat turun hampir tujuh persen setelah keluhan DJI menjadi publik.

Pergerakan itu menunjukkan bahwa investor memandang sengketa paten sebagai risiko nyata. Dalam industri perangkat konsumen, gugatan semacam ini bisa berdampak pada reputasi, distribusi, hingga potensi peluncuran produk baru.

Berikut beberapa poin penting dari konflik ini:

  1. DJI menggugat Insta360 atas dugaan pencurian paten.
  2. JK Liu menuduh DJI juga meniru komponen dan fitur software.
  3. Survei internal Insta360 menyebut Osmo 360 berpotensi melanggar 28 paten.
  4. Insta360 tidak berencana mengajukan gugatan balasan.
  5. ITC di AS sebelumnya menolak seluruh gugatan GoPro terhadap Insta360.
  6. Konflik terjadi saat DJI dan Insta360 saling masuk ke pasar inti masing-masing.
  7. Saham Arashi Vision turun hampir tujuh persen setelah keluhan DJI terungkap.

Mengapa rivalitas ini penting untuk industri

Pertarungan DJI dan Insta360 mencerminkan perubahan peta persaingan teknologi konsumen di China. Perusahaan yang dulu fokus pada kategori berbeda kini bertemu langsung di pasar kamera imersif, drone pintar, dan ekosistem pencitraan berbasis perangkat lunak.

Persaingan ini juga menandakan bahwa inovasi tidak lagi berdiri sendiri dari urusan paten. Saat fitur kamera, stabilisasi, pemrosesan gambar, dan desain perangkat makin mirip, sengketa hukum berpotensi menjadi alat tekanan bisnis sekaligus senjata komunikasi ke pasar.

Bagi konsumen, rivalitas ini bisa mempercepat lahirnya produk baru yang lebih canggih. Namun bagi industri, perkembangan kasus ini akan diawasi ketat karena dapat memengaruhi peluncuran Osmo 360, langkah Insta360 lewat Antigravity A1, serta respons DJI melalui Avata 360 yang disebut akan diperkenalkan pada Kamis, 26 Maret.

Source: www.notebookcheck.net

Berita Terkait

Back to top button