Samsung memang dikenal sebagai produsen yang banyak menggarap perangkat dan komponen sendiri, tetapi HP mereka tidak sepenuhnya bergantung pada produksi internal. Sejumlah komponen penting justru berasal dari perusahaan lain, mulai dari sensor kamera, panel layar, chipset, modem, hingga kaca pelindung layar.
Pola ini menunjukkan bahwa industri smartphone bekerja lewat rantai pasok yang saling terhubung. Bagi Samsung, keputusan memakai komponen dari pemasok eksternal bukan sekadar kompromi, melainkan strategi untuk menjaga performa, variasi produk, dan efisiensi produksi di berbagai kelas ponsel.
Sensor kamera dari Sony masih dipakai di beberapa model
Samsung punya lini sensor kamera sendiri lewat ISOCELL, tetapi perusahaan ini tetap memakai sensor buatan Sony di sejumlah perangkat. Data dari GSMArena menyebut Samsung Galaxy A56 5G dan Galaxy A55 5G menggunakan sensor Sony IMX906 dan Sony IMX258.
Di kelas flagship, Samsung juga memanfaatkan sensor Sony pada model tertentu seperti Galaxy S20 FE dan Galaxy S20 Ultra. Dua contoh yang tercatat adalah Sony IMX616 dan Sony IMX555, yang menunjukkan Samsung tidak menutup diri dari teknologi kamera pihak ketiga meski sudah memiliki solusi internal.
Layar OLED fleksibel mulai dipasok TCL
Samsung selama ini identik dengan panel layar buatannya sendiri, terutama untuk lini premium. Namun, arah pasokan mulai berubah ketika Samsung Galaxy A57 5G disebut memakai layar OLED fleksibel dari TCL CSOT, seperti dilaporkan JagatReview.
Perubahan ini penting karena layar menjadi salah satu komponen paling mahal dan paling menentukan pengalaman pengguna. PhoneArena juga menyebut peluang Samsung menggandeng pemasok lain seperti BOE untuk kebutuhan layar smartphone di masa depan, terutama jika permintaan produksi terus meningkat.
Chipset Samsung datang dari beberapa perusahaan
Komponen inti lain yang banyak menyita perhatian adalah chipset. Samsung memakai tiga nama besar dalam ekosistem prosesor mereka, yaitu Snapdragon, Exynos, dan MediaTek, sehingga performa tiap model bisa berbeda meski masih satu merek.
Snapdragon dan MediaTek dikembangkan oleh Qualcomm dan MediaTek, lalu diproduksi oleh TSMC, sementara Exynos dibuat oleh Samsung Semiconductor. Perbedaan sumber ini membuat Samsung bisa menyesuaikan perangkat berdasarkan segmen pasar, kebutuhan daya, serta target harga jual.
- Snapdragon: dipakai di banyak model premium karena performanya kuat.
- MediaTek: umum hadir di kelas menengah dan beberapa varian entry level.
- Exynos: dikembangkan internal Samsung untuk sebagian seri tertentu.
Modem 5G tetap mengandalkan Qualcomm
Komponen penting lain adalah modem, karena bagian ini menentukan kualitas koneksi seluler. Samsung disebut senantiasa menggunakan modem Qualcomm, khususnya modem 5G, untuk memastikan dukungan jaringan yang stabil dan kompatibel di berbagai wilayah.
Di laman resmi Samsung, Qualcomm dan Samsung juga tercatat bekerja sama dalam pengembangan jaringan 5G melalui modem Snapdragon X75. Kerja sama ini memperlihatkan bahwa konektivitas menjadi area yang masih sangat bergantung pada keahlian perusahaan luar, meski Samsung memiliki kemampuan besar di sisi perangkat dan software.
Kaca layar dibuat Corning
Untuk perlindungan layar, Samsung mengandalkan Corning sebagai pemasok utama. Corning Gorilla Armor dan Armor 2 diketahui dipakai pada Samsung Galaxy S24 series dan Galaxy S25 series, berdasarkan informasi resmi dari Corning.
Kerja sama itu juga melibatkan pengembangan bersama agar kaca pelindung lebih cocok dengan kebutuhan perangkat Samsung. Langkah ini penting karena ketahanan layar menjadi faktor utama yang memengaruhi daya tahan smartphone dan kepuasan pengguna.
Rantai pasok yang saling bergantung
Komponen dari perusahaan lain bukan tanda Samsung kehilangan kendali atas produknya. Sebaliknya, model ini memperlihatkan bagaimana industri smartphone modern dibangun lewat kolaborasi antara produsen perangkat, pembuat chip, pemasok panel, dan spesialis material.
Dengan memadukan komponen internal dan eksternal, Samsung bisa mempertahankan inovasi di berbagai lini HP, dari kelas menengah hingga flagship. Struktur seperti ini juga membantu perusahaan menyesuaikan spesifikasi lebih cepat saat teknologi baru muncul, sekaligus menjaga daya saing di pasar global yang sangat ketat.
Source: www.idntimes.com