Soundtrack Invisible War Dipuji, Sutradara Audionya Akui Ada Banyak yang Ingin Diubah

Deus Ex: Invisible War kembali jadi bahan perbincangan setelah audio director-nya, Alexander Brandon, mengakui masih ada “room for improvement” pada game tersebut. Pengakuan itu menarik perhatian karena selama ini soundtrack game itu justru sering dianggap sebagai salah satu elemen terbaik di tengah reputasinya yang memecah penggemar.

Dalam wawancara dengan PC Gamer, Brandon tidak menutup-nutupi kekurangan proyek itu. Namun, ia tetap membela kualitas musik dan pencapaian tim yang menurutnya lahir di bawah tenggat ketat serta tantangan teknis yang tidak ringan.

Pengakuan jujur dari sosok penting di balik audio

Deus Ex: Invisible War dirilis pada 2003 sebagai sekuel dari Deus Ex yang sangat berpengaruh. Sejak awal, game ini memicu debat panjang karena desain level yang lebih kecil dan sistem yang dinilai lebih sederhana, meski tetap menawarkan cerita yang lebih kaya dan pilihan faksi yang kompleks.

Pemain bisa bersekutu dengan kelompok tertentu, mengkhianati sekutu, atau mempertemukan berbagai faksi dalam konflik. Ruang pilihan itu membuat narasinya tetap punya identitas kuat, walau banyak penggemar lama menilai sekuelnya menjauh dari kedalaman desain game pertama.

Alexander Brandon bukan nama asing dalam seri ini. Pada game Deus Ex pertama, ia dikenal sebagai komposer musik dan juga sempat terlibat dalam pengisian suara.

Untuk Invisible War, perannya meningkat menjadi audio lead. Menurut informasi dari artikel referensi, itu menjadi kali pertama Brandon memegang tanggung jawab yang lebih besar dalam proyek tersebut.

Dalam wawancara terbarunya, Brandon berkata, “There was room for improvement, I will just put it that way.” Pernyataan itu menunjukkan evaluasi yang jujur terhadap hasil akhir game, tanpa menafikan hal-hal yang menurutnya tetap berhasil dicapai.

Ia juga menegaskan bahwa dari sisi konten, tim telah bekerja sangat baik. Brandon menyebut dirinya bangga dengan tema utama game itu, termasuk kontribusi vokal dari mantan istrinya yang menurutnya “did an amazing job”.

Mengapa soundtrack-nya tetap dipuji

Di tengah kritik pada aspek desain dan sistem permainan, musik Invisible War justru bertahan sebagai elemen yang paling sering dikenang. Sejumlah penggemar menilai pendekatan audionya lebih matang dan lebih sesuai dengan nuansa dunia yang kelam.

Brandon menjelaskan bahwa ia mendapat ruang lebih besar untuk mengekspresikan ide tematik dan melodi. Meski begitu, ia menyadari pendekatannya dibuat lebih tertahan jika dibandingkan dengan tema orisinal Deus Ex yang sangat lekat dengan gaya cyberpunk era 1990-an.

Ia mengatakan musik sekuel ini tidak dibuat sebagai “Johnny Mnemonic cheese fest” seperti yang banyak dirayakan pada masa itu. Komentar itu menunjukkan arah kreatif yang sengaja diambil tim, yakni menjauh dari kesan berlebihan dan bergerak ke nada yang lebih serius.

Menurut Brandon, kualitas audio yang lebih tinggi membantu mendukung cerita yang lebih rumit dan lebih gelap. Ia menyebut game ini sejak awal ditujukan untuk memiliki suasana yang “more serious” dan “more immersive”, walau elemen visualnya dalam beberapa sisi tampak lebih ringan.

Pernyataan itu penting karena menjelaskan mengapa soundtrack Invisible War terdengar berbeda dari pendahulunya. Musiknya tidak sekadar menjadi latar, tetapi diposisikan sebagai alat untuk memperkuat atmosfer dunia futuristik yang lebih suram.

Faktor yang membuat musik Invisible War menonjol

Beberapa unsur berikut menjadi alasan soundtrack game ini masih sering dipuji:

  1. Pendekatan musik yang lebih dewasa dan atmosferik.
  2. Kesesuaian kuat antara audio dengan tone cerita yang lebih gelap.
  3. Peningkatan fidelity audio dibanding era sebelumnya.
  4. Eksperimen kolaboratif dengan musik industrial rock.

Salah satu sorotan utama datang dari keterlibatan band industrial rock Kidneythieves. Kehadiran lagu-lagu band ini memberi warna yang lebih tajam pada klub-klub futuristik di dalam game.

Vokalis Kidneythieves, Free Dominguez, juga mengisi suara karakter bintang pop holografik NG Resonance. Detail ini memperkuat identitas audio game dan memberi lapisan dunia fiksi yang terasa lebih hidup.

Di antara kritik dan apresiasi

Brandon tetap mengakui ada banyak hal yang ingin ia ubah jika diberi kesempatan mengerjakan ulang game tersebut. Ia berkata, “There is a lot I would change if I could,” lalu menambahkan bahwa secara keseluruhan ia tetap bangga dengan hasil akhirnya.

Sikap itu mencerminkan posisi Invisible War dalam sejarah seri Deus Ex. Game ini tidak pernah sepenuhnya lepas dari kritik, tetapi juga tidak kehilangan kelompok penggemar yang melihat nilai artistik dan ambisi naratifnya.

Dalam konteks industri game, penilaian ulang seperti ini sering muncul ketika sebuah karya sudah cukup lama beredar dan bisa dilihat dengan jarak yang lebih tenang. Invisible War menjadi contoh bagaimana sebuah game dapat diperdebatkan karena desainnya, tetapi tetap dipertahankan reputasinya melalui musik, suasana, dan identitas audio yang khas.

Wawancara Brandon memberi gambaran bahwa soundtrack Invisible War bukan hasil kebetulan, melainkan bagian dari arah kreatif yang disengaja. Itu sebabnya, lebih dari dua dekade setelah rilisnya, musik game ini masih terus dibahas sebagai salah satu kekuatan paling menonjol dari sekuel Deus Ex yang paling kontroversial.

Source: www.notebookcheck.net

Berita Terkait

Back to top button