Apple menawarkan MacBook Neo seharga $599 sebagai laptop ringan yang terlihat sangat menarik di kelasnya. Perangkat ini membawa chip A18 Pro, memori terpadu 8GB, dan penyimpanan 256GB, sehingga cukup untuk kebutuhan harian seperti browsing, menulis, rapat video, dan pekerjaan kantor ringan.
Namun, daya tarik harga murah itu mulai berubah saat laptop ini dipakai untuk pekerjaan kreatif yang lebih berat. Saat diuji untuk edit foto dan video, MacBook Neo menunjukkan batas yang jelas, terutama ketika harus menangani file besar, proses impor panjang, dan proyek beresolusi tinggi.
Kinerja dasar masih memadai
Pada penggunaan umum, MacBook Neo dinilai tetap nyaman dipakai. Layar 13 inci tampil cerah dengan warna yang hidup, dan kualitas bodinya terasa solid untuk ukuran laptop yang sangat tipis dan ringan.
Di sektor foto, pekerjaan dasar seperti mengubah exposure, warna, dan clarity berjalan lancar. File kamera 33MP masih bisa diedit tanpa hambatan berarti, dan bahkan gambar besar 100MP dari Hasselblad tetap dapat diproses untuk penyesuaian seperti texture, dehaze, dan upright correction.
Masalah muncul saat beban kerja meningkat
Batas performa mulai terasa ketika tugasnya menjadi lebih berat dan berulang. Mengimpor 80GB foto pernikahan pada MacBook Neo memakan waktu 71 menit, sedangkan MacBook Air M4 menyelesaikannya dalam 44 menit.
Perbedaan itu makin terlihat saat membuat preview file. MacBook Neo membutuhkan hampir 45 menit, sementara MacBook Pro melakukannya dalam waktu kurang dari 4 menit.
- Impor 80GB foto: 71 menit
- MacBook Air M4 untuk tugas sama: 44 menit
- Pembuatan preview: hampir 45 menit
- MacBook Pro untuk preview: kurang dari 4 menit
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa harga murah belum tentu efisien untuk alur kerja profesional. Untuk fotografer yang sering memindahkan banyak file atau memproses sesi pemotretan besar, selisih waktu seperti ini bisa mengganggu produktivitas secara signifikan.
Editing video 4K masih bisa, 8K mulai berat
Di sisi video, chip A18 Pro masih mampu menangani footage 4K dengan hasil yang cukup baik. Playback dalam Premiere Pro dan Final Cut berjalan mulus, export klip 6 menit selesai dalam 3 menit, dan pemakaian LUT, transisi, serta beberapa layer masih dapat dilakukan tanpa kendala besar.
Meski begitu, performa itu tidak bertahan saat file yang dipakai masuk ke level 8K. Pada skenario tersebut, MacBook Neo mulai tersendat berat, dan sinkronisasi audio ikut terganggu karena proses pemutaran yang tidak stabil.
Kapasitas penyimpanan 256GB juga cepat terasa sempit untuk pekerjaan video. Ruang internal dapat habis dalam waktu singkat, apalagi jika proyek membutuhkan cache, file mentah, dan hasil ekspor dalam jumlah besar.
Batas konektivitas ikut membatasi alur kerja
Apple juga hanya menyediakan port USB 3.2 yang terbatas, sehingga pengguna kemungkinan perlu hub tambahan untuk card reader dan drive eksternal. Dalam praktiknya, hal ini membuat perangkat lebih cocok sebagai laptop pendamping ketimbang mesin utama untuk produksi kreatif berat.
Situasi tersebut memperlihatkan pola yang umum pada laptop murah Apple: pengalaman harian terasa menyenangkan, tetapi beban kerja profesional memunculkan banyak kompromi. Untuk pengguna yang hanya butuh pengeditan ringan atau pemrosesan cepat di lapangan, perangkat ini masih masuk akal dan tetap nyaman dipakai.
Saat memilih, kebutuhan kerja harus jadi penentu
Berikut gambaran singkat kecocokan MacBook Neo berdasarkan jenis pekerjaan:
| Kebutuhan | Kecocokan |
|---|---|
| Browsing, email, dokumen | Sangat cocok |
| Editing foto ringan | Cocok |
| Import foto besar dan batch editing | Kurang cocok |
| Editing video 4K dasar | Cukup cocok |
| Editing 8K atau proyek besar | Tidak cocok |
Pada akhirnya, MacBook Neo menonjol sebagai laptop murah yang cepat memikat di atas kertas. Tetapi ketika dipakai untuk edit foto dan video secara serius, selisih performa dengan model yang lebih mahal menjadi sangat terasa dan dapat mengubah penghematan awal menjadi biaya waktu yang lebih besar.







