Jakarta Concert Orchestra (JCO) bersama Batavia Madrigal Singers (BMS) membuka tur Eropa mereka dengan penampilan yang kuat di Festival Musik Internasional Ankara ke-40. Dalam konser di ruang utama CSO Ada Ankara itu, keduanya membawakan repertoar musik Indonesia selama sekitar 90 menit dan menuai sambutan hangat dari lebih dari 1.000 penonton.
Penampilan tersebut menjadi kelanjutan dari konser Symphony of Friendship di Jakarta yang digelar pada 7 April sebagai bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swiss. Di bawah arahan Avip Priatna, JCO dan BMS membawa warna musik Nusantara ke panggung internasional dan menegaskan peran seni sebagai jembatan diplomasi budaya.
Repertoar Nusantara yang Memikat
JCO dan BMS memilih karya-karya yang menonjolkan kekayaan musikal Indonesia. Mereka membuka dan mengisi konser dengan variasi “Sepasang Mata Bola” karya Ismail Marzuki, lalu menghadirkan variasi “Tanah Air” untuk klarinet karya Ibu Sud.
Mereka juga membawakan lagu-lagu daerah yang sudah akrab di telinga publik, seperti “Rampak Melayu”, “Tak Tong-Tong”, “Ayo Mama”, “Bubuy Bulan”, dan “Sik-Sik Batu Manikam”. Susunan lagu itu membuat penonton di Ankara mendapat pengalaman mendengar ragam warna budaya Indonesia dalam satu konser.
Respons Hangat Penonton dan Tuan Rumah
Festival Musik Internasional Ankara diselenggarakan oleh Sevda-Cenap and Music Foundation dengan dukungan penuh Pemerintah Turki. Sejak 1993, ajang ini menjadi bagian dari European Festival Association dan tahun ini menghadirkan peserta dari 17 negara dengan lebih dari 800 talenta selama satu bulan penyelenggaraan.
Ketua panitia festival, Pinar Alpay Yuksel, menyambut baik kehadiran musisi Indonesia. Ia menilai partisipasi JCO dan BMS mencerminkan music diplomacy yang lahir dari hubungan baik antarmasyarakat dan antarlembaga seni.
“Kami senang sekali Avip bersama JCO dan BMS dapat memenuhi undangan kami. Festival ini merupakan bentuk music diplomacy yang terbangun dari hubungan dan pertemanan yang baik,” ujarnya.
Apresiasi dari Dubes RI untuk Turki
Duta Besar RI untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, ikut menyaksikan penampilan tersebut dan menyampaikan rasa bangganya. Ia menilai pertunjukan JCO dan BMS berhasil memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia secara elegan di hadapan publik internasional.
Ia juga mengaku terharu saat lagu “Indonesia Pusaka” dibawakan di atas panggung. “Saya menitikkan air mata melihat penampilan malam ini. Penonton juga terlihat sangat menikmati lagu-lagu Indonesia yang dibawakan dengan apik,” katanya.
Menurut dia, penampilan ini memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan tradisi seni yang luas dan beragam. “Kami semua bangga Indonesia,” tambahnya.
Faktor yang Membuat Penampilan Ini Menonjol
- Repertoar berisi lagu-lagu Indonesia yang dekat dengan identitas budaya nasional.
- Penampilan berlangsung di festival internasional bergengsi yang diikuti 17 negara.
- Dukungan komunitas seni dan diplomasi resmi memperkuat dampak pertunjukan.
- Sambutan penonton mencapai standing ovation yang panjang usai lagu “Lisoi”.
- Penampilan ini menjadi bagian dari tur Eropa yang memperluas jangkauan musisi Indonesia.
Lagu “Lisoi” menjadi penutup yang paling berkesan malam itu karena berhasil mengundang standing ovation dari penonton yang bertahan cukup lama. Momen tersebut menegaskan bahwa musik daerah Indonesia masih memiliki daya tarik kuat ketika dibawakan dengan interpretasi artistik yang matang di panggung dunia.
Setelah Ankara, Avip Priatna bersama JCO dan BMS dijadwalkan melanjutkan tur Eropa ke Concertgebouw, Amsterdam, lalu Stadtcasino Basel, dan Auditorium Conciliazione di Roma. Rangkaian pertunjukan ini menunjukkan bahwa musik Indonesia terus mendapat ruang penting di forum internasional, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi diplomasi budaya melalui pertunjukan seni.
