Meta memicu perdebatan baru setelah mulai melacak aktivitas kerja karyawannya untuk melatih model kecerdasan buatan atau AI. Sistem itu mencatat ketikan tombol hingga klik tetikus di komputer perusahaan dan aplikasi internal, lalu memakai data tersebut sebagai bahan pelatihan model AI terbaru.
Kebijakan ini disampaikan kepada karyawan pada Selasa (21/4/2026) melalui alat pelacak bernama Model Capability Initiative atau MCI. Langkah tersebut langsung memunculkan keluhan di internal, karena sejumlah staf menilai suasana kerja di perusahaan kini terasa makin menekan di tengah dorongan besar-besaran pada pengembangan AI.
Pelacakan kerja untuk latih agen digital
Juru bicara Meta mengatakan pengumpulan data itu dibutuhkan untuk membangun asisten digital yang bisa membantu pekerjaan sehari-hari di depan komputer. Ia menjelaskan bahwa model AI memerlukan contoh nyata tentang bagaimana orang benar-benar menggunakan perangkat kerja untuk menyelesaikan tugas.
Perusahaan juga menyatakan data yang terkumpul tidak akan dipakai untuk tujuan lain. Meta mengklaim ada perlindungan yang disiapkan untuk menjaga konten sensitif, meski pemakaian data aktivitas komputer karyawan untuk pelatihan AI disebut sebagai langkah baru yang jauh lebih masif.
Keluhan dari internal perusahaan
Seorang karyawan Meta yang tidak disebutkan namanya menggambarkan kebijakan ini sebagai sesuatu yang muram. Ia menilai perusahaan tampak makin obsesif terhadap AI, sementara para pekerja justru dibayangi kemungkinan pemangkasan tenaga kerja lanjutan.
“Perusahaan ini telah menjadi obsesif dengan AI. Tindakan sekecil apa pun di komputer digunakan untuk melatih model AI saat pekerja mengharapkan serangkaian pemangkasan pekerjaan tambahan, ini terasa sangat distopia,” ujarnya kepada BBC.
Keresahan itu muncul di tengah situasi internal yang memang tengah berubah cepat. Meta telah merumahkan sekitar 2.000 karyawan tahun ini, dan sinyal pengurangan tenaga kerja lebih lanjut menguat setelah perusahaan mengumumkan pembekuan perekrutan.
Tekanan restrukturisasi dan fokus AI
Gambaran restrukturisasi itu terlihat dari jumlah lowongan kerja yang dipublikasikan. Pada Maret lalu, situs lowongan Meta mencatat sekitar 800 posisi, tetapi kini hanya tersisa tujuh lowongan yang masih diiklankan.
Di saat yang sama, CEO Meta Mark Zuckerberg terus mendorong investasi besar ke sektor AI. Untuk 2026, Meta berencana mengucurkan dana sekitar 140 miliar dolar AS untuk AI, jumlah yang disebut hampir dua kali lipat dibanding investasi tahun lalu.
Zuckerberg sebelumnya juga menyebut 2026 akan menjadi tahun ketika AI mengubah cara kerja secara dramatis. Ia mengatakan proyek yang dulu memerlukan tim besar kini bisa diselesaikan oleh satu orang yang sangat berbakat, menegaskan arah strategi perusahaan yang makin terpusat pada automasi dan pengembangan agen digital.
Data internal untuk model baru Meta
Data dari pelacak aktivitas karyawan diharapkan memperkuat model AI baru dari grup Meta Superintelligence Labs. Langkah ini menyusul peluncuran model Muse Spark bulan lalu, yang menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan kemampuan AI internal Meta.
Bagi perusahaan, penggunaan data kerja nyata dianggap sebagai bahan penting untuk membangun sistem yang lebih berguna di lingkungan komputer. Namun bagi sebagian karyawan, cara itu justru menambah kesan bahwa budaya kerja Meta kini bergerak ke arah pengawasan yang ketat di tengah ambisi besar mengejar dominasi AI.
