Windows On ARM Makin Matang, 5 Game PC Di Snapdragon X2 Elite Extreme Ungkap Batasnya

Windows on ARM menunjukkan kemajuan nyata untuk game, tetapi hasilnya masih tidak merata. Pengujian pada ASUS Zenbook A16 dengan Snapdragon X2 Elite Extreme memperlihatkan bahwa judul yang punya dukungan native ARM64 kini bisa berjalan jauh lebih baik dibanding game x86-64 yang masih bergantung pada lapisan terjemahan Prism milik Microsoft.

Chip Qualcomm ini menampilkan kombinasi CPU Oryon, GPU Adreno, dan NPU Hexagon yang diklaim mampu mencapai hingga 80 TOPS untuk beban AI lokal. Di atas kertas, konfigurasi itu terdengar kuat untuk laptop tipis dan hemat daya, namun performa gaming tetap sangat ditentukan oleh apakah game tersebut punya build ARM64 asli atau harus diterjemahkan dari x86-64.

Game dengan dukungan native jauh lebih meyakinkan

World of Warcraft: Midnight menjadi contoh paling jelas bahwa ekosistem Windows on ARM bisa berjalan baik saat pengembang memberi dukungan langsung. Dalam pengujian, game MMO ini mampu mempertahankan 60 FPS yang stabil di area kota besar saat laptop berjalan dengan daya baterai, tanpa perlu scaling resolusi dan tetap menggunakan pengaturan grafis bawaan yang direkomendasikan game.

Hasil itu penting karena WoW sudah memiliki dukungan ARM64 sejak 2021. Artinya, ketika game dibuat dengan mempertimbangkan arsitektur ini, laptop seperti Zenbook A16 bisa tampil lebih meyakinkan, bahkan dengan kipas yang nyaris tak terdengar.

Minecraft: Bedrock Edition juga menunjukkan pola serupa. Dengan render distance default 12 chunks, game ini berjalan mulus di kisaran 55–60 FPS dan terasa sesuai ekspektasi untuk sebuah game ringan yang tetap memiliki beban rendering tersembunyi.

Namun, ada batas yang jelas. Ray tracing pada Minecraft terlihat tidak tersedia dan opsi itu bahkan grayed out di menu, karena dukungan untuk GPU Adreno belum memadai untuk fitur tersebut.

Game x86-64 masih bergantung pada Prism

Situasi berubah saat game yang diuji tidak memiliki build ARM64. Cyberpunk 2077 misalnya, tetap bisa dijalankan, tetapi pada preset “low” performanya hanya berada di kisaran 30–40 FPS meski sudah memakai upscaling dan pengaturan grafis yang lebih rendah.

Secara teknis game itu masih bisa dimainkan, tetapi hasilnya belum cukup nyaman untuk disarankan sebagai pengalaman utama di laptop produktivitas. Pada titik ini, perangkat yang memang dirancang untuk gaming tetap lebih masuk akal, baik itu konsol maupun handheld gaming khusus.

Counter-Strike 2 memberi gambaran yang lebih keras lagi. Pada setelan terendah, game ini tidak mampu menjaga frame rate stabil dan sering mengalami hitching yang terasa mengganggu saat pertandingan berlangsung.

Angka yang sempat menyentuh 100 FPS tidak bertahan lama, sehingga pengalaman bermain tetap buruk. Dalam pengujian ini, perubahan resolusi juga tidak banyak membantu frame pacing, membuat CS2 nyaris tidak layak dimainkan di perangkat ini.

Masalah paling nyata ada di ekosistem, bukan di chip

Kingdom Come: Deliverance II memperlihatkan hambatan lain yang lebih struktural. Versi yang tersedia di Xbox PC app tidak menyediakan build ARM64 seperti di Steam, sehingga game jatuh ke kode x64 dan harus bergantung pada Prism.

Situasi itu membuat pengujian berhenti lebih awal, karena beban emulasi untuk game RPG modern seperti ini dinilai kurang relevan saat dukungan native seharusnya bisa tersedia. Temuan tersebut menegaskan bahwa kemajuan Windows on ARM tidak hanya bergantung pada kemampuan chip Qualcomm, tetapi juga pada kesediaan pengembang dan penerbit menyediakan build ARM64 lintas platform.

Perbandingan dengan Proton di Linux juga ikut muncul sebagai pembanding tidak langsung. Prism dinilai membantu, tetapi belum memberi pengalaman seterarah dan seefektif Proton dalam menangani game lintas arsitektur.

Dari lima game yang diuji, kesannya jelas: Windows on ARM sudah bergerak maju, tetapi kemajuan itu paling terasa pada game yang benar-benar native. Selama dukungan ARM64 masih terbatas dan banyak judul besar tetap jatuh ke emulasi, performa gaming di laptop Windows berbasis ARM akan terus bergantung pada pilihan game, bukan semata pada kekuatan chipnya.

Terkait