QRIS kini memudahkan banyak transaksi karena cukup memakai satu kode untuk berbagai metode pembayaran. Pelanggan tidak perlu lagi membawa uang tunai, sementara pedagang bisa menerima pembayaran digital tanpa menyiapkan banyak perangkat atau aplikasi.
Namun, kemudahan itu belum otomatis membuat semua orang langsung memakainya. Di lapangan, QRIS masih menghadapi persoalan pemerataan pemahaman, kebiasaan, dan kepercayaan, sehingga penggunaannya belum merata di semua lapisan masyarakat.
Satu kode, banyak manfaat
QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard dirancang untuk menyatukan berbagai kanal pembayaran dalam satu sistem. Dengan format ini, transaksi bisa dilakukan lewat mobile banking maupun e-wallet tanpa penyesuaian yang rumit.
Bagi pelaku UMKM, kehadiran QRIS memberi efisiensi yang nyata. Pedagang kaki lima misalnya, dapat melayani pembayaran digital hanya dengan satu kode, tanpa harus menyediakan alat pembayaran yang berbeda-beda.
Keuntungan lain juga muncul dari sisi operasional. Transaksi bisa berlangsung lebih cepat, risiko menerima uang palsu berkurang, dan pencatatan keuangan menjadi lebih rapi.
Pengguna terus bertambah, tetapi belum merata
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 60 juta pengguna per 23 Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa QRIS sudah diterima luas dan menjadi bagian dari perubahan perilaku transaksi di Indonesia.
Meski begitu, besarnya jumlah pengguna tidak selalu mencerminkan pemerataan pemakaian di lapangan. Masih ada masyarakat yang belum benar-benar memahami cara kerja QRIS atau bahkan belum pernah mencoba menggunakannya.
Kondisi ini tidak hanya terlihat di daerah terpencil. Di sejumlah wilayah yang sudah cukup berkembang, masih ditemukan masyarakat yang memilih bertahan dengan cara pembayaran lama karena merasa lebih nyaman.
Literasi digital masih jadi penghambat
Salah satu hambatan utama datang dari literasi digital yang belum merata. Sebagian masyarakat masih belum yakin saat berhadapan dengan transaksi nontunai, terutama jika mereka belum terbiasa memakai aplikasi pembayaran.
Keraguan itu umumnya berkaitan dengan keamanan. Ada kekhawatiran soal penipuan, kebocoran data, hingga kesalahan transaksi yang membuat sebagian orang menahan diri untuk beralih.
Kekhawatiran tersebut wajar, terutama bagi pengguna yang baru mengenal sistem pembayaran digital. Karena itu, adopsi QRIS tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan teknologi, tetapi juga perlu disertai pemahaman yang mudah diterima masyarakat.
Adopsi teknologi tidak selalu secepat inovasinya
Perubahan perilaku pembayaran biasanya berjalan lebih lambat dibandingkan perkembangan teknologinya. QRIS memang menawarkan kemudahan yang jelas, tetapi kebiasaan lama, rasa aman, dan tingkat pemahaman pengguna tetap memengaruhi kecepatan adopsi.
Di sisi pelaku usaha kecil, QRIS bisa membantu mempercepat transaksi dan memberi kenyamanan dalam pencatatan. Di sisi konsumen, sistem ini mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan membuat pembayaran lebih praktis dalam aktivitas harian.
Tetapi, selama masih ada kelompok masyarakat yang belum percaya diri menggunakan pembayaran digital, QRIS belum akan digunakan secara merata. Tantangan utamanya bukan lagi pada ketersediaan sistem, melainkan pada bagaimana kemudahan itu benar-benar bisa dirasakan dan dipahami oleh lebih banyak orang.







