Baru 10 Menit Pakai AI, Studi Ini Menyebut Otak Bisa Jadi Lebih Malas dan Mudah Menyerah

Penggunaan AI ternyata tidak selalu membawa dampak positif bagi cara orang berpikir. Sebuah studi menyebut bantuan AI selama sekitar 10 hingga 15 menit saja sudah dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk bertahan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Temuan itu menjadi sorotan karena chatbot AI kini dipakai luas untuk menjawab pertanyaan, menyelesaikan tugas, dan memberi solusi instan. Peneliti menilai kemudahan ini bisa membuat pengguna lebih cepat menyerah ketika bantuan tersebut tiba-tiba tidak lagi tersedia.

Studi berjudul AI Assistance Reduces Persistence and Hurts Independent Performance itu dilakukan oleh peneliti dari Carnegie Mellon University, MIT, University of Oxford, dan UCLA. Mereka menyimpulkan bahwa bantuan AI memang dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam jangka pendek, tetapi berpotensi melemahkan ketekunan, kebiasaan belajar, dan kemampuan memecahkan masalah secara independen.

Penelitian ini melibatkan 1.222 peserta dalam tiga eksperimen berskala besar. Para peserta diuji melalui tugas matematika dan pemahaman bacaan di platform online.

Dalam pengujian tersebut, sebagian peserta diberi akses ke asisten AI yang mampu langsung menyelesaikan soal. Sementara itu, kelompok lain harus mengerjakan seluruh tugas tanpa bantuan AI.

Pada tahap awal, kelompok yang dibantu AI terlihat lebih unggul. Mereka menjawab lebih cepat dan mencatat lebih banyak jawaban benar selama fase ketika bantuan AI masih tersedia.

Namun, hasilnya berubah ketika chatbot mendadak dihilangkan dari proses pengerjaan. Peserta yang sebelumnya mengandalkan AI justru menunjukkan performa lebih buruk saat dipaksa bekerja sendiri.

Skor turun setelah AI dicabut

Dalam eksperimen matematika, peserta yang sejak awal tidak pernah memakai AI mampu menyelesaikan sekitar 73 persen soal dengan benar pada fase pengujian mandiri. Sebaliknya, peserta yang sebelumnya bergantung pada AI hanya mencatat 57 persen jawaban benar.

Pola serupa muncul pada tugas pemahaman bacaan. Kelompok yang dibantu AI meraih skor 76 persen, sedangkan peserta yang terus bekerja tanpa bantuan AI mencapai 89 persen.

Menurut peneliti, masalah utamanya bukan hanya soal turunnya skor. Dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah berkurangnya persistensi, atau kemauan untuk tetap berusaha saat menghadapi soal yang sulit.

Peserta yang memakai AI tercatat jauh lebih sering melewati pertanyaan sulit atau berhenti mencoba sama sekali. Kebiasaan menerima jawaban instan diduga membuat mereka kurang siap menghadapi tantangan ketika harus berpikir tanpa penopang digital.

Makalah itu menyatakan bahwa bantuan AI meningkatkan performa sesaat, tetapi dibayar dengan biaya kognitif yang besar. Setelah sekitar 10 menit memecahkan masalah dengan bantuan AI, peserta yang kehilangan akses ke AI tampil lebih buruk dan lebih sering menyerah dibanding mereka yang tidak pernah menggunakan AI.

Bukan sekadar soal benar atau salah

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa dampak AI tidak berhenti pada hasil akhir pekerjaan. Peneliti melihat ada perubahan dalam cara peserta menghadapi kesulitan, termasuk kecenderungan untuk tidak lagi berjuang mencari jawaban sendiri.

Mereka menggambarkan kondisi ini sebagai kemungkinan efek “boiling frog”. Satu kali interaksi dengan AI mungkin terasa tidak berbahaya, tetapi ketergantungan yang berulang dapat perlahan mengikis kemauan untuk berpikir mendalam dan bekerja mandiri.

Meski begitu, studi ini tidak menempatkan semua penggunaan AI dalam posisi yang sama. Dampak negatif paling kuat muncul pada peserta yang meminta AI memberikan jawaban langsung.

Sebaliknya, peserta yang menggunakan AI terutama untuk petunjuk, penjelasan, atau klarifikasi tidak menunjukkan penurunan dengan tingkat yang sama. Temuan ini memberi sinyal bahwa cara memakai AI sangat menentukan dampaknya terhadap kemampuan berpikir.

Cara penggunaan AI jadi faktor penentu

Peneliti menilai sistem AI yang berfungsi sebagai pelatih atau pemandu kemungkinan lebih sehat dalam jangka panjang. Model seperti ini membantu pengguna memahami proses, bukan sekadar menuntaskan tugas secara instan.

Artinya, AI mungkin tetap berguna bila diposisikan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikannya. Ketika AI hanya dipakai untuk memberi jawaban akhir, pengguna berisiko kehilangan latihan mental yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan secara mandiri.

Temuan tersebut hadir di tengah penggunaan chatbot yang semakin normal dalam aktivitas harian. Dari pekerjaan kantor hingga tugas belajar, AI kini sering menjadi jalan tercepat untuk memperoleh solusi.

Studi ini menunjukkan bahwa kecepatan tidak selalu sejalan dengan pembelajaran yang bertahan lama. Bagi pengguna, perbedaan antara meminta petunjuk dan meminta jawaban penuh bisa menjadi batas penting antara AI sebagai alat bantu dan AI sebagai pemicu kemalasan mental.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait

Back to top button