
Apple memperluas jangkauan pasar laptopnya lewat MacBook Neo, model entry-level yang diperkenalkan pada Mei 2026. Perangkat ini langsung mencuri perhatian karena menjadi MacBook dengan harga paling rendah sepanjang sejarah Apple.
Di Amerika Serikat, MacBook Neo dibanderol mulai 599 dolar AS atau sekitar Rp10 jutaan. Harga itu membuat perangkat ini masuk ke wilayah pasar yang selama ini lebih sering diisi laptop Windows kelas menengah.
Langkah Apple ini dinilai penting karena perusahaan tidak lagi hanya bermain di segmen premium. MacBook Neo secara terbuka menyasar pelajar dan pengguna umum yang ingin masuk ke ekosistem macOS dengan biaya lebih terjangkau.
Momentum peluncurannya juga sejalan dengan pertumbuhan pasar laptop untuk pendidikan dan pekerja hybrid sejak awal 2026. Di beberapa negara, Apple bahkan menambah daya tarik lewat diskon edukasi hingga 20 persen bagi pelajar dan tenaga pengajar.
Strategi baru Apple di kelas harga terjangkau
Masuknya MacBook Neo menandai upaya Apple menembus segmen laptop menengah yang selama ini didominasi perangkat berbasis Windows. Dengan harga agresif, Apple tampak ingin memperluas basis pengguna tanpa melepas citra desain premium yang sudah melekat pada lini MacBook.
Strategi ini terlihat dari perpaduan antara pemangkasan fitur tertentu dan tetap dipertahankannya elemen inti khas Apple. Hasilnya adalah laptop yang lebih murah, tetapi masih membawa bahasa desain yang familiar bagi pengguna produk Apple.
MacBook Neo memakai bodi aluminium tipis dengan pilihan warna cerah seperti Citrus, Indigo, Blush, dan hijau. Apple juga tetap menjaga kualitas fisik perangkat, termasuk engsel yang diklaim kokoh dan bisa dibuka dengan satu tangan tanpa mengangkat bagian bawah laptop.
Pendekatan itu penting karena banyak pembeli di kelas menengah kini tidak hanya mempertimbangkan performa, tetapi juga desain dan pengalaman pakai. Di titik inilah MacBook Neo berusaha membedakan diri dari banyak laptop Windows murah yang sering berkompromi di material dan tampilan.
Chip ponsel flagship jadi andalan
Salah satu keputusan paling menarik ada di bagian dapur pacu. Apple membekali MacBook Neo dengan chip A18 Pro, prosesor yang sebelumnya digunakan pada lini ponsel flagship perusahaan.
Pemakaian chip ini disebut sebagai cara untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga efisiensi daya. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana Apple memanfaatkan integrasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk menghadirkan produk yang lebih murah tanpa sepenuhnya meninggalkan performa khas produknya.
Untuk varian standar, MacBook Neo hadir dengan RAM 8GB dan penyimpanan 256GB. Versi lebih tinggi menawarkan kapasitas 512GB serta fitur pemindai sidik jari Touch ID.
Dalam pengujian multitasking, laptop ini disebut mampu membuka banyak aplikasi tanpa mengalami hang. Pengeditan video 4K juga masih bisa dijalankan melalui aplikasi editing populer, meski waktu rendering lebih lama dibanding MacBook Air kelas atas.
Sistem pendinginnya dibuat fanless, sehingga perangkat tetap senyap saat digunakan. Suhu operasionalnya juga masih tergolong aman untuk kebutuhan harian, yang membuatnya relevan untuk pelajar maupun pekerja yang membutuhkan laptop tenang dan hemat daya.
Layar menarik, tetapi ada kompromi
MacBook Neo membawa layar Retina Display 13 inci dengan tingkat kecerahan 500 nits. Reproduksi warnanya diklaim mencapai 98 persen sRGB, angka yang cukup menarik untuk konsumsi konten, belajar, dan pekerjaan visual ringan.
Namun, Apple tetap melakukan sejumlah pengorbanan agar harga jual bisa ditekan. Bezel layar masih terlihat cukup tebal bila dibandingkan dengan laptop premium modern.
Kompromi lain muncul pada keyboard. Perangkat ini belum dibekali lampu backlit, sehingga penggunaan di ruangan gelap bisa terasa kurang nyaman.
Dari sisi konektivitas, MacBook Neo juga hadir dengan pemangkasan fitur. Laptop ini hanya menyediakan dua port USB-C dan satu jack audio 3,5 mm.
Dukungan monitor eksternal pun dibatasi hanya untuk satu layar. Resolusi maksimalnya juga mentok di 4K 60Hz, yang menunjukkan bahwa perangkat ini memang ditujukan untuk kebutuhan umum, bukan setup kerja profesional yang lebih kompleks.
Meski begitu, kombinasi harga rendah, desain premium, dan akses ke macOS membuat MacBook Neo punya daya tarik tersendiri. Untuk banyak pengguna, kompromi tersebut bisa dianggap wajar jika dibandingkan dengan harga masuk yang jauh lebih rendah dari standar MacBook selama ini.
Pasar Asia seperti Malaysia dan Jepang juga disebut mendapatkan harga yang relatif agresif. Jika nantinya MacBook Neo benar-benar hadir di Indonesia dengan banderol di bawah Rp10 juta, perangkat ini berpotensi menjadi penantang serius bagi laptop Windows di kelas menengah.









