
Elon Musk kembali memicu kontroversi setelah menyebut Instagram sebagai “platform untuk perempuan” dalam sebuah komentar singkat di X. Pernyataan itu langsung viral karena muncul di tengah diskusi tentang kebiasaan orang memakai media sosial dan apa yang dianggap mencerminkan fase hidup seseorang.
Komentar itu tidak berhenti pada satu kalimat. Saat reaksi bermunculan, Musk menambahkan unggahan lain yang menyinggung pria dewasa yang mengirim profil Instagram kepadanya, lalu mempertanyakan identitas mereka dengan nada yang menuai kritik.
Pernyataan tersebut muncul ketika Musk membalas sebuah thread viral yang membahas pola penggunaan media sosial. Thread itu menyinggung kebiasaan seperti mengunggah konten menggoda, membuat story tanpa henti, atau membagikan foto masakan rumahan dan roti sourdough.
Di tengah percakapan itu, Musk menulis singkat, “Instagram is for girls.” Kalimat pendek itu cepat menyebar dan menjadi bahan perdebatan luas karena dianggap merendahkan pengguna platform tersebut berdasarkan gender.
Kontroversi makin besar setelah Musk menulis komentar lanjutan yang dinilai lebih problematik. Ia mengaitkan penggunaan Instagram oleh pria dengan isu transisi gender, sehingga memicu tudingan bahwa komentarnya bernada misoginis dan meremehkan identitas gender.
Di luar reaksi terhadap isi komentarnya, pernyataan Musk juga dibaca sebagai bagian dari pola komunikasi yang sudah lama melekat pada dirinya di media sosial. Ia dikenal kerap melontarkan komentar provokatif yang memancing kemarahan, perdebatan, dan perhatian besar dari pengguna internet.
Dalam banyak unggahannya, Musk juga terlihat sering menyerang platform pesaing sambil mengangkat citra X. Pola itu terlihat lagi dalam momen yang hampir bersamaan ketika ia ikut membahas algoritma rekomendasi dan mengeklaim hanya X yang terbuka, sementara perusahaan media sosial lain disebut memanipulasi hasil di balik layar tertutup.
Konteks ini penting karena Musk bukan sekadar pengguna biasa di X. Ia membeli Twitter pada 2022, lalu mengubah namanya menjadi X, dan sejak itu berulang kali memosisikan platform tersebut sebagai tempat untuk percakapan yang ia anggap lebih serius dan relevan.
Sikap itu membantu menjelaskan mengapa ia kerap merendahkan platform lain. Dalam narasi yang sering ia bangun, X diposisikan sebagai ruang diskusi penting, sedangkan layanan lain dianggap kurang substansial atau terlalu berfokus pada konten yang ringan.
Instagram menjadi sasaran yang mudah dalam kerangka itu. Platform tersebut identik dengan foto, story, gaya hidup, dan jenis konten visual yang oleh Musk tampaknya diasosiasikan dengan sesuatu yang ia anggap tidak serius, bergosip, dan remeh.
Pandangan itulah yang ikut menjelaskan mengapa komentarnya dinilai bukan sekadar lelucon. Musk, setidaknya lewat unggahan-unggahannya di media sosial, kerap memperlihatkan pandangan yang dianggap problematik soal gender, termasuk kritik terhadap praktik transisi gender.
Karena itu, banyak pembacaan atas komentarnya tidak berhenti pada persaingan platform. Ucapan tersebut juga dipandang mencerminkan cara Musk melihat peran gender dan menempelkan nilai tertentu pada jenis konten yang populer di Instagram.
Hubungan Musk dengan Meta juga memberi lapisan konteks lain pada pernyataan ini. Meta adalah pemilik Instagram dan WhatsApp, dua layanan yang beberapa kali menjadi target kritik terbuka dari Musk.
Beberapa pekan sebelum komentar soal Instagram itu ramai, Musk lebih dulu menyasar WhatsApp. Saat itu ia menulis bahwa WhatsApp tidak bisa dipercaya, lalu menyarankan pengguna beralih ke X untuk panggilan audio dan video yang lebih aman.
Riwayat perseteruan Musk dengan CEO Meta Mark Zuckerberg juga membuat setiap kritik terhadap layanan Meta cepat dibaca sebagai bagian dari rivalitas yang lebih besar. Karena itu, komentar soal Instagram tidak berdiri sendiri, melainkan masuk ke rangkaian serangan verbal terhadap ekosistem Meta.
Meski demikian, komentar kali ini memicu perhatian lebih tajam karena menyentuh isu gender secara langsung. Ketika sebuah platform diberi label berdasarkan stereotip pengguna perempuan, perdebatan biasanya bergeser dari soal teknologi menjadi soal representasi, bias, dan penghinaan.
Bagi Musk, efek viral seperti ini bukan hal baru. Ia sering memanfaatkan arus percakapan yang sedang ramai lalu menyelipkan komentar tajam yang mudah dipotong, dibagikan, dan diperdebatkan ulang dalam skala besar.
Itu membuat satu unggahan pendek bisa berfungsi ganda. Di satu sisi, ia memancing kemarahan dan keterlibatan pengguna; di sisi lain, ia kembali menempatkan X di pusat percakapan publik sambil menyudutkan pesaingnya.
Dinamika itu memperlihatkan bagaimana pernyataan seorang pemilik platform dapat langsung berdampak pada percakapan lintas layanan. Ketika komentar menyasar Instagram, sorotan tidak hanya tertuju pada isi ucapannya, tetapi juga pada strategi Musk dalam memosisikan X sebagai lawan dari platform milik Meta.
Pada akhirnya, kontroversi ini mempertegas dua hal yang terus mengikuti Musk di ruang digital. Ia tetap menjadi figur yang mengandalkan pernyataan ekstrem untuk mengendalikan perhatian publik, dan X tetap menjadi panggung utama tempat ia menyerang rival sambil membentuk narasi tentang media sosial yang menurutnya paling layak untuk percakapan serius.
Source: www.indiatoday.in








