Qualcomm Siapkan Penantang MacBook Neo, Laptop Windows Murah Kini Tak Lagi Terkesan Murahan

Qualcomm meluncurkan Snapdragon C untuk mendorong hadirnya laptop Windows murah yang bisa menantang MacBook Neo di segmen harga terjangkau. Chip ini ditujukan untuk perangkat dengan banderol mulai sekitar $300, jauh di bawah harga MacBook Neo yang dibuka di $599.

Langkah ini penting karena Apple lebih dulu mengguncang pasar lewat MacBook Neo, laptop Mac paling terjangkau yang diperkenalkan pada Maret. Perangkat itu disebut laris kuat, bahkan Apple dilaporkan kesulitan memenuhi permintaan, sehingga kubu Windows kini bergerak menyiapkan tandingan yang lebih agresif di kelas entry-level.

Snapdragon C diperkenalkan menjelang Computex 2026 sebagai platform ARM baru dari Qualcomm. Fokusnya jelas, yaitu memperbaiki pengalaman laptop murah Windows yang selama ini sering dikritik karena performa lemah, baterai biasa saja, dan sistem pendingin yang berisik.

Qualcomm menargetkan produsen besar seperti Acer, HP, dan Lenovo untuk mempercepat adopsi chip ini. Ketiga merek tersebut termasuk di antara mitra awal yang disiapkan untuk meluncurkan perangkat berbasis Snapdragon C pada tahun ini.

Menyasar laptop Windows paling terjangkau

Selama ini, kebanyakan laptop Windows dengan chip Snapdragon berada di rentang harga $600 hingga $1,000. Dengan Snapdragon C, Qualcomm kini masuk ke pasar budget yang biasanya diisi prosesor entry-level dari Intel atau AMD.

Strategi itu membuka peluang baru bagi produsen laptop Windows untuk menawarkan perangkat yang lebih murah tanpa sepenuhnya bergantung pada platform x86 tradisional. Di saat yang sama, Qualcomm juga mencoba memperluas jangkauan Snapdragon dari kelas premium ke segmen yang volumenya jauh lebih besar.

Jika rencana harga itu terwujud, Snapdragon C bisa menjadi salah satu upaya paling serius Qualcomm untuk menekan biaya laptop Windows modern. Bagi pasar, ini berarti pilihan yang lebih luas untuk konsumen yang mencari perangkat kerja atau belajar dengan harga rendah.

Dirancang untuk kebutuhan komputasi dasar

Qualcomm menyebut platform ini dibangun untuk tugas komputasi dasar sehari-hari. Penggunaan yang disasar mencakup penjelajahan web, pekerjaan kantor, streaming, dan kelas online.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Snapdragon C bukan chip untuk laptop performa tinggi. Ia lebih diposisikan sebagai solusi praktis untuk kebutuhan umum yang paling sering dijalankan pengguna laptop murah.

Di atas kertas, Qualcomm juga menonjolkan dua nilai jual utama lain. Laptop berbasis Snapdragon C diklaim mampu menawarkan daya tahan baterai seharian dan operasi yang lebih senyap dibanding banyak laptop Windows murah konvensional.

Klaim itu relevan karena dua masalah tersebut memang kerap melekat pada laptop entry-level. Banyak perangkat murah di pasaran masih identik dengan kipas yang mudah terdengar dan daya tahan yang terbatas saat dipakai untuk aktivitas harian.

Ada kompromi agar harga bisa ditekan

Untuk mencapai harga yang lebih rendah, Qualcomm melakukan sejumlah pengorbanan pada desain chip ini. Snapdragon C tidak memakai inti CPU Oryon yang dipakai pada chip premium terbaru Qualcomm.

Sebagai gantinya, platform ini menggunakan inti Kryo yang lebih lama. Inti tersebut sebelumnya sudah dipakai di smartphone dan Chromebook, sehingga pendekatan yang diambil jelas mengarah pada efisiensi biaya dan kebutuhan komputasi ringan.

Keputusan ini menegaskan posisi Snapdragon C sebagai produk budget, bukan turunan langsung dari platform laptop premium Qualcomm. Artinya, konsumen bisa berharap pada efisiensi dan harga rendah, tetapi tidak pada level performa yang sama dengan seri Snapdragon kelas atas.

Tetap bawa AI, tetapi bukan Copilot+ PC

Meski diposisikan untuk kelas murah, laptop Snapdragon C tetap akan membawa kemampuan AI melalui neural processing unit atau NPU bawaan. Kehadiran NPU ini membuat perangkat tetap mengikuti tren komputasi modern yang mulai mengandalkan pemrosesan AI di perangkat.

Namun ada batasan penting yang perlu dicatat. Laptop dengan Snapdragon C tidak akan masuk kategori Copilot+ PC dari Microsoft, sehingga pengguna tidak akan mendapatkan sebagian fitur AI Windows yang lebih canggih.

Dengan kata lain, Qualcomm tetap memberi fondasi AI dasar, tetapi belum sampai ke tingkat pengalaman AI premium yang saat ini dipakai sebagai pembeda di segmen laptop yang lebih mahal. Kompromi ini sejalan dengan strategi menekan harga jual perangkat.

Apple sendiri membangun MacBook Neo dengan pendekatan yang berbeda. Laptop itu memakai chip A18 Pro dari iPhone 16 Pro, sebuah pilihan spesifikasi yang sempat terlihat tidak lazim di atas kertas, tetapi kemudian dinilai berhasil secara teknis.

Keberhasilan MacBook Neo itulah yang membuat persaingan di kelas laptop murah menjadi semakin serius. Qualcomm kini mencoba memberi produsen Windows senjata baru agar dapat merespons cepat dengan perangkat yang lebih terjangkau, lebih hemat daya, dan lebih sesuai untuk kebutuhan dasar pengguna massal.

Jika jadwal peluncurannya berjalan sesuai rencana, laptop Windows berbasis Snapdragon C akan mulai masuk pasar pada tahun ini. Kehadiran perangkat dari Acer, HP, dan Lenovo akan menjadi penanda awal apakah strategi Qualcomm benar-benar mampu mengubah segmen laptop murah yang selama ini didominasi kompromi besar pada performa dan daya tahan baterai.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait

Back to top button