AI Jadi Alasan Utama PHK di Perusahaan Teknologi, Belanja AI Malah Melesat per Karyawan

Author: Qoo Media

Perusahaan teknologi di AS kini menghadapi dua arus besar yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, pemutusan hubungan kerja meningkat tajam, sementara di sisi lain belanja untuk kecerdasan buatan atau AI melonjak hingga ribuan dolar per karyawan setiap bulan.

Perkembangan ini menyorot perubahan besar dalam cara perusahaan mengalokasikan biaya operasional. AI tidak lagi sekadar alat bantu menulis kode atau menjawab pertanyaan pelanggan, tetapi juga makin sering disebut sebagai alasan utama di balik pengurangan tenaga kerja.

Menurut laporan terbaru dari firma outplacement Challenger, Gray & Christmas, AI menjadi alasan terbesar yang disebut perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan PHK pada tahun ini. Laju pengurangan karyawan yang dikaitkan dengan AI juga meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam lima bulan pertama 2026, jumlah PHK yang terkait AI sudah melampaui total gabungan yang tercatat sepanjang 2024 dan 2025. Data ini menunjukkan bahwa otomasi kini bukan lagi faktor tambahan, melainkan pusat dari restrukturisasi tenaga kerja di banyak perusahaan.

Kenaikan total PHK juga terlihat jelas dari tren bulanan. Setelah sempat turun di bawah 50.000 pengumuman PHK pada Februari, jumlahnya naik lagi menjadi lebih dari 60.000 pada Maret, 83.000 pada April, dan menembus lebih dari 97.000 pada Mei.

Challenger, Gray & Christmas menyebut angka Mei sebagai jumlah pengumuman PHK tertinggi untuk bulan Mei sejak gangguan besar era pandemi pada 2020. Lonjakan itu memperkuat sinyal bahwa tekanan terhadap tenaga kerja belum mereda.

Porsi AI dalam gelombang PHK makin besar

Yang paling menonjol bukan hanya kenaikan jumlah PHK, tetapi juga besarnya kontribusi AI di dalamnya. Pada Januari, otomasi dan AI hanya menyumbang 7 persen dari total PHK yang diumumkan.

Porsinya lalu naik menjadi 10 persen pada Februari, 25 persen pada Maret, 26 persen pada April, dan hampir 40 persen pada Mei. Kenaikan bertahap ini menunjukkan bahwa AI makin sering muncul dalam penjelasan resmi perusahaan saat memangkas tenaga kerja.

Dampak paling terlihat terjadi pada Mei. Dalam satu bulan itu saja, hampir 39.000 posisi dihapus karena otomasi, menyumbang bagian besar dari total PHK terkait AI tahun ini yang sudah melampaui 87.000.

Andy Challenger, chief revenue officer Challenger, Gray & Christmas, menyatakan bahwa AI kini menjadi alasan utama yang diberikan perusahaan untuk memangkas pekerjaan. Pernyataan itu sejalan dengan tren data bulanan yang terus menguat.

Sektor teknologi paling terpukul

Sektor teknologi menjadi wilayah yang paling berat terkena dampak. Perusahaan teknologi berbasis di AS mengumumkan 38.242 PHK pada Mei, menjadi total bulanan tertinggi sejak Agustus 2024.

Secara kumulatif, PHK di sektor teknologi tahun ini telah naik 66 persen menjadi sekitar 1,23 lakh posisi. Angka itu menempatkan industri teknologi sebagai penyumbang terbesar dalam gelombang pengurangan tenaga kerja saat ini.

Kondisi ini menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan lonjakan investasi AI di perusahaan yang sama. Hal itu memunculkan pertanyaan apakah sebagian perusahaan mulai mengganti pekerjaan manusia dengan perangkat lunak dan infrastruktur komputasi.

Belanja AI per karyawan menembus Rs 6,4 lakh per bulan

Riset baru dari Ramp AI Index menunjukkan gambaran yang kontras. Secara keseluruhan, perusahaan memang belum menghabiskan lebih banyak uang untuk AI daripada untuk gaji karyawan, tetapi sebagian kecil perusahaan sudah mendekati titik itu.

Tech Crunch, yang mengutip laporan tersebut, menyebut 1 persen perusahaan dengan adopsi AI tertinggi sebagai perusahaan “AI-pilled”. Kelompok ini menghabiskan rata-rata $7.500 per karyawan setiap bulan untuk alat AI dan sumber daya komputasi.

Dalam mata uang India, jumlah itu setara sekitar Rs 6,4 lakh per karyawan per bulan. Besaran ini membuat biaya AI per pegawai menjadi topik penting di kalangan industri teknologi.

Ramp juga mencatat bahwa pengeluaran AI belum melampaui kompensasi manusia. Rata-rata software engineer di AS masih menerima sekitar $16.000 per bulan, atau lebih dari dua kali lipat pengeluaran AI di perusahaan yang paling intensif menggunakan AI.

Namun, belanja AI sangat timpang antarperusahaan. Kelompok 10 persen teratas menghabiskan sekitar $611 per karyawan per bulan untuk AI, sementara perusahaan median hanya mengeluarkan $11,38 per karyawan, angka yang kira-kira setara dengan satu kursi perangkat lunak enterprise.

Biaya infrastruktur naik cepat

Di antara perusahaan yang paling fokus pada AI, pengeluaran per karyawan naik 14,1 persen hanya dalam satu bulan terakhir. Banyak dari perusahaan ini juga bereksperimen dengan banyak model dan platform AI sekaligus, berpindah antara opsi premium dan open-source untuk menekan biaya.

Kenaikan tagihan komputasi juga mulai diakui para eksekutif industri. Eksekutif Nvidia baru-baru ini menunjuk pada kasus ketika belanja infrastruktur AI melebihi biaya tenaga kerja, sementara chief executive startup rekrutmen Mercor mengatakan perusahaannya kini menghabiskan lebih banyak uang untuk penggunaan AI internal daripada untuk tenaga kerjanya.

Perpaduan antara PHK yang meningkat dan belanja AI yang melonjak menunjukkan perubahan besar dalam prioritas bisnis. Bagi sektor teknologi, tekanan itu kini tidak hanya datang dari efisiensi biaya, tetapi juga dari keputusan tentang seberapa jauh pekerjaan manusia akan digantikan oleh otomasi.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru