Meta sedang menghadapi tekanan ganda dalam transformasi besar ke kecerdasan buatan. Setelah memangkas sekitar 8.000 karyawan secara global, CTO Meta Andrew Bosworth mengakui peluncuran restrukturisasi AI di perusahaan itu berjalan “atrocious” atau sangat buruk.
Pengakuan itu penting karena datang saat Meta memindahkan ribuan pekerja ke struktur baru yang berfokus pada AI. Di tengah dorongan agresif perusahaan ke arah tim “AI-native”, Bosworth menyatakan Meta gagal menjelaskan visi, dukungan karier, dan arah perubahan kepada para pegawai.
Menurut laporan Wired, Bosworth menyampaikan evaluasi itu dalam memo internal kepada karyawan. Ia menulis bahwa perusahaan jelas melakukan pekerjaan yang buruk dalam menjelaskan visi, memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana karyawan akan didukung, dan menunjukkan bagaimana perubahan itu akan berkembang dari waktu ke waktu.
Pernyataan Bosworth muncul hanya beberapa hari setelah CEO Meta Mark Zuckerberg juga mengakui adanya kesalahan dalam proses perubahan tersebut. Dalam memo terpisah, Zuckerberg menyebut perubahan itu kompleks dan mengatakan perusahaan telah membuat kesalahan serta hampir pasti masih akan membuat kesalahan lain.
Restrukturisasi besar-besaran
Perubahan organisasi Meta dalam beberapa bulan terakhir berlangsung luas dan cepat. Pada Maret, perusahaan membentuk divisi Applied AI baru yang membuat sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk dipindahkan dari berbagai tim untuk mengerjakan proyek AI.
Namun, perpindahan itu dilaporkan tidak diterima dengan baik oleh sebagian karyawan. Seorang pekerja bahkan menggambarkan divisi baru tersebut sebagai “gulag”, menunjukkan tingkat ketidakpuasan yang serius terhadap cara transisi dijalankan.
Applied AI hanya satu bagian dari perombakan yang lebih besar. Pada Mei, Meta juga melakukan PHK terhadap sekitar 8.000 pekerja di seluruh dunia, memindahkan 7.000 karyawan lain ke tim baru yang berorientasi AI, dan menutup 6.000 lowongan yang sebelumnya sedang dibuka.
Skala perubahan ini memperlihatkan bahwa Meta tidak sekadar menambah proyek AI, tetapi sedang membentuk ulang struktur organisasinya. Dalam proses itu, perusahaan juga mengubah rantai manajemen dan arah kerja banyak tim secara bersamaan.
Kepercayaan karyawan ikut terguncang
Bosworth mengakui bahwa proses tersebut telah merusak kepercayaan internal. Ia mengatakan Meta telah merongrong keyakinan karyawan bahwa keahlian dan kontribusi spesifik mereka akan dihargai, bahwa mereka bisa tumbuh dan maju dalam karier, serta bahwa perusahaan tetap menjadi tempat di mana mereka dapat memberi dampak nyata.
Ia juga menilai banyak tim dibiarkan tanpa kepastian saat perubahan berlangsung. Menurut Bosworth, Meta mengguncang struktur manajemen yang sebelumnya memberi stabilitas, sementara perubahan strategi yang cepat, termasuk siklus perekrutan yang naik turun, membuat seluruh tim terlantar.
Laporan dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan moral karyawan di Meta menurun tajam. Perusahaan bahkan sempat harus melunakkan program pelacakan mouse karyawan setelah memicu penolakan internal.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan Meta bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal manajemen perubahan. Di perusahaan sebesar Meta, pergeseran strategi yang terlalu cepat bisa langsung terasa pada stabilitas tim dan persepsi pegawai terhadap masa depan mereka.
Langkah perbaikan yang dijanjikan
Ke depan, Bosworth mengatakan Meta akan memberi perhatian lebih besar kepada karyawan selama masa transisi. Perusahaan berencana membatasi jumlah bawahan langsung setiap manajer menjadi sekitar 20 orang.
Meta juga ingin mengurangi frekuensi perpindahan karyawan ke manajer baru ketika restrukturisasi terjadi. Selain itu, perusahaan berjanji akan menjelaskan alasan di balik perubahan strategi dan perubahan organisasi dengan lebih baik.
Karyawan juga akan diberi opsi menggunakan alat “AI coaching” bila mereka menginginkannya. Langkah ini menunjukkan Meta ingin menempatkan AI bukan hanya sebagai fokus bisnis, tetapi juga sebagai alat pendukung adaptasi internal.
Pesan keras soal AI dan pekerjaan
Di saat yang sama, Bosworth memberi sinyal bahwa kemampuan menggunakan AI akan semakin menentukan di tempat kerja. Ia menegaskan Meta tidak berencana menggantikan tenaga kerja manusia dengan AI, tetapi menambahkan peringatan yang tajam: “AI won’t take your job but someone who knows AI might.”
Pesan itu sejalan dengan dorongan Meta untuk memperluas penggunaan agen AI dalam pekerjaan. Bagi karyawan, arah ini memperjelas bahwa tuntutan keterampilan akan berubah bersamaan dengan restrukturisasi perusahaan.
Bosworth juga menyinggung masalah kapasitas komputasi sebagai hambatan lain dalam transisi AI Meta. Ia mengatakan akan ada “tough trade-offs for a while” terkait jumlah compute yang tersedia bagi berbagai tim yang memakai alat AI.
Menurutnya, perusahaan akan berusaha transparan dan berinvestasi secara bertanggung jawab untuk mengurangi hambatan tersebut. Isu ini relevan karena laporan terbaru menunjukkan Meta membatasi penggunaan AI bagi karyawan setelah biaya token meningkat, tantangan yang juga dihadapi perusahaan lain seperti Uber dan Microsoft.
Dengan pengakuan terbuka dari Bosworth dan Zuckerberg, Meta kini menghadapi ujian yang lebih besar dari sekadar mempercepat pengembangan AI. Perusahaan juga harus membuktikan bahwa reorganisasi besar yang sudah memindahkan ribuan orang itu bisa dijalankan tanpa terus mengikis kepercayaan tenaga kerjanya.
Source: www.indiatoday.in






