Vivo X Fold 6 Siap Menyaingi PC, Multitasking 4 Jendela Jadi Senjata Utama

Vivo mulai menempatkan X Fold 6 sebagai penantang serius untuk peran komputer portabel lewat kombinasi software yang lebih agresif dan chipset yang dioptimalkan khusus untuk perangkat lipat. Fokusnya bukan lagi sekadar layar besar, tetapi pengalaman kerja yang lebih dekat ke PC saat menjalankan banyak aplikasi sekaligus.

Pendekatan ini penting karena pasar foldable kini makin sering dinilai dari seberapa jauh perangkat bisa menggantikan laptop untuk pekerjaan harian. Vivo tampak ingin membuktikan bahwa layar lipat bisa menjadi ruang kerja yang jauh lebih fleksibel, terutama saat dibarengi optimasi untuk AI dan multitasking.

Chipset dan AI yang dikejar untuk efisiensi

Menurut Vivo, chipset pada perangkat ini memang dirancang khusus untuk foldable dan beban kerja AI. Neural Processing Unit atau NPU-nya diklaim memberi performa 111% lebih tinggi sambil memangkas konsumsi daya hingga 56%.

Meski demikian, belum jelas apakah pembanding yang dipakai Vivo adalah Dimensity 9500 reguler atau Dimensity 9400. Detail itu membuat klaim performa tersebut tetap perlu dibaca hati-hati, walau arahnya menunjukkan optimasi yang cukup agresif.

Vivo juga menyiapkan fitur "AI file manager" yang dirancang untuk foldable. Fitur ini ditujukan agar pengelolaan file terasa lebih mirip komputer desktop, termasuk kemampuan chatbot yang bisa menjawab pertanyaan soal file yang tersimpan secara lokal.

Multitasking dibuat lebih dekat ke desktop

Dari sisi produktivitas, promo video di Weibo memperlihatkan peningkatan multitasking yang besar pada Vivo X Fold 6 dibanding pendahulunya. Sistem yang disebut "Atomic Workbench" dikabarkan memungkinkan empat jendela aplikasi tampil bersamaan dengan kemampuan resize yang mulus.

Pengguna juga bisa melihat empat jendela kecil di atas atau di samping aplikasi utama, lalu berpindah antarjendela dengan mudah. Dalam cuplikan video tersebut, alurnya terlihat sangat lancar dan praktis untuk pekerjaan yang melibatkan banyak aplikasi.

Jika fitur ini tampil konsisten di penggunaan nyata, pendekatan Vivo bisa menarik bagi pengguna yang terbiasa bekerja dengan beberapa panel aktif sekaligus. Itu juga memperkuat posisi foldable sebagai perangkat kerja, bukan hanya perangkat hiburan premium.

Masih ada tanda tanya untuk versi global

Meski demonstrasinya terdengar menjanjikan, masih ada pertanyaan besar soal cakupan rilis dan penerapannya di luar China. Belum jelas apakah Vivo akan membawa upaya software ini secara penuh ke versi global atau justru memfokuskannya terutama untuk pengguna di China.

Sisi ini penting karena pengalaman software sering menentukan apakah perangkat lipat benar-benar nyaman dipakai sebagai pengganti PC. Tanpa dukungan multitasking dan manajemen file yang matang, layar besar saja belum cukup untuk mengubah foldable menjadi alat kerja utama.

Dengan kombinasi chipset yang diklaim lebih efisien, fitur file manager berbasis AI, dan sistem multitasking yang lebih ambisius, Vivo X Fold 6 mulai terlihat sebagai salah satu rival foldable yang paling serius mengejar fungsi laptop ringkas. Tantangan berikutnya ada pada konsistensi implementasi, terutama jika Vivo ingin menjangkau pengguna yang mengharapkan pengalaman kerja setara PC di luar pasar domestik.

Source: www.notebookcheck.net

Terkait