Lebih Dari Separuh Korban Pelecehan Digital Tak Cari Bantuan, Kenapa Mereka Diam?

Author: Qoo Media

Lebih dari separuh korban pelecehan digital di Asia Pasifik memilih diam dan tidak mencari bantuan, meski dampaknya meluas ke kesehatan mental, hubungan sosial, hingga kehidupan kerja dan sekolah. Laporan terbaru Kaspersky menunjukkan bahwa pelecehan di ruang digital tidak berhenti di layar perangkat, karena banyak korban mengalami tekanan psikologis yang berat dan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan itu datang dari studi terhadap 7.600 responden di 19 negara. Hasilnya, 79% responden mengaku mengalami dampak psikologis seperti depresi, trauma, dan stres jangka panjang, sementara di Asia Pasifik angkanya mencapai 80%.

Dampak yang Meluas di Luar Dunia Maya

Pelecehan digital tidak hanya meninggalkan luka emosional, tetapi juga mengganggu stabilitas hidup korban secara offline. Di Asia Pasifik, 55% korban menjadi lebih waspada saat online, 18% membatasi komunikasi dengan orang terdekat, dan 12% mengakhiri hubungan personal mereka.

Dalam kasus yang lebih berat, dampaknya merembet ke urusan pendidikan dan pekerjaan. Laporan itu menyebut 4% korban kehilangan pekerjaan dan 3% lainnya putus sekolah akibat pelecehan digital.

Kesenjangan Pemahaman soal Risiko

Meski dampaknya besar, masih ada jarak besar dalam pemahaman publik mengenai bahaya pelecehan digital. Di Asia Pasifik, hanya 59% responden yang menyadari potensi kerugian ekonomi, dan hanya 53% yang memahami bahwa pelecehan digital bisa berkembang menjadi kekerasan fisik di dunia nyata.

Kondisi ini membuat banyak orang belum melihat pelecehan digital sebagai ancaman serius yang memerlukan respons cepat. Padahal, efeknya bisa menyentuh banyak aspek kehidupan korban dan memicu kerusakan yang berkepanjangan.

Banyak Korban dan Saksi Sama-Sama Diam

Laporan Kaspersky juga menemukan bahwa sekitar 13% korban di Asia Pasifik tidak mengambil tindakan apa pun. Sikap serupa muncul pada saksi mata, karena 9% dari mereka yang mengenal korban juga memilih diam.

Keengganan bertindak itu bukan semata-mata karena tidak peduli, melainkan karena kebingungan. Sebanyak 32% responden mengaku tidak tahu cara membantu, sedangkan 23% ragu apakah ikut campur akan dianggap tepat secara sosial.

Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky, menilai situasi ini sebagai persoalan serius. Ia mengatakan korban sering tidak bergerak karena tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.

Perlindungan dan Dukungan yang Dibutuhkan

Kaspersky merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan, mulai dari mempercayai insting ketika melihat perilaku mencurigakan, mendokumentasikan setiap insiden, hingga memperkuat keamanan akun dengan otentikasi dua faktor. Langkah-langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko dan membantu korban memiliki bukti saat membutuhkan tindak lanjut.

Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menekankan perlunya tanggung jawab kolektif untuk menciptakan lingkungan digital yang aman. Ia juga mendorong masyarakat agar aktif memberi dukungan atau mengarahkan korban ke sumber daya yang tepat, supaya penyalahgunaan teknologi tidak dianggap sebagai hal yang normal.

Source: www.medcom.id
Terbaru