USB-C sering dipersepsikan sebagai jawaban untuk semua masalah pengisian daya. Kenyataannya, satu port USB-C belum tentu bisa dipakai mengisi laptop, karena kemampuan tiap port bergantung pada implementasi pabrikan dan dukungan Power Delivery.
Standar USB-C memang dirancang serbaguna. Konektor ini bisa membawa data berkecepatan tinggi, mendukung audio dan video, serta dipakai untuk menghubungkan perangkat eksternal dan periferal.
Di sisi daya, USB-C juga berkembang jauh. USB PD 3.1 mampu menyediakan tegangan dinamis antara 5V hingga 48V dengan daya maksimum 240W, sementara versi USB-C awal bersama USB PD 2.0 hanya mendukung 5V, 9V, 15V, dan 20V dengan daya maksimum 100W.
Masalahnya, tidak semua port USB-C memiliki kemampuan yang sama. Karena itu, laptop tidak bisa diisi dari sembarang port USB-C; port tersebut harus mendukung power delivery atau USB-C PD.
Kebingungan ini muncul karena identitas USB di banyak perangkat sering tidak jelas. Variasi nama seperti USB 3.2 Gen 1, USB 3.2 Gen 2, dan USB 3.2 Gen 2×2 sudah lama membuat pengguna sulit menebak fungsi port, apalagi ketika spesifikasi USB-C sendiri bisa berbeda-beda di setiap perangkat.
USB-IF memang menyediakan logo dan ikon untuk menjelaskan kemampuan port dan kabel. Namun, itu hanya pedoman, bukan kewajiban, sehingga produsen tidak selalu memakainya.
Di lapangan, identifikasi port juga tidak selalu membantu. Google memakai ikon yang sedikit berbeda pada sejumlah Chromebook, dan banyak model menyediakan USB-C di kedua sisi yang mendukung DisplayPort serta pengisian daya, tetapi kepastian tetap harus dilihat dari dokumentasi produk.
Contoh lain datang dari MacBook Air 2025. Perangkat itu memiliki dua port USB-C di dekat port MagSafe 3, dan keduanya merupakan Thunderbolt 4 dengan kemampuan mengisi daya hingga 100W, dukungan DisplayPort, serta kecepatan data 40Gbps.
Masalahnya, port itu tidak diberi penanda khusus. Pengguna harus memeriksa spesifikasi teknis untuk mengetahui kemampuan pastinya, karena dari tampilan luar saja port USB-C tidak selalu memberi petunjuk yang cukup.
Kabel juga tidak kalah penting. Tidak semua kabel USB-C dibuat setara, dan kabel yang tidak cocok bisa membatasi daya atau data yang masuk ke laptop.
Kabel USB-A ke USB-C lama juga sebaiknya dihindari karena banyak di antaranya tidak memiliki resistor pull-up 56k ohm yang dibutuhkan untuk keamanan. Saat USB-C PD mencapai pengisian 100W, kabel bersertifikasi USB-IF mulai diwajibkan memakai chip E-Marker untuk menegosiasikan daya yang didukung.
Persyaratan itu tetap berlaku pada USB PD 3.1 yang mendukung hingga 240W. Cara paling aman untuk mencari kabel yang sesuai adalah memakai alat pencarian USB-IF untuk menemukan kabel bersertifikasi yang cocok dengan spesifikasi perangkat.
Di tengah dorongan Eropa untuk menyederhanakan pengisian daya dan mengurangi e-waste, USB-C memang semakin dekat ke status pengisi daya universal. Namun, kemampuan universal itu tetap bergantung pada detail teknis di balik port dan kabel yang dipakai.
