Gagasan bahwa agen AI kelak bisa berdagang saham layaknya manusia kini mulai didorong secara terbuka oleh Robinhood. CEO Robinhood, Vlad Tenev, menilai kemampuan itu pada akhirnya dapat membuka akses investor ritel ke alat transaksi yang selama ini lebih identik dengan perusahaan keuangan besar.
Pernyataan itu menempatkan AI bukan lagi sekadar alat bantu analisis, melainkan calon pelaksana transaksi atas nama pengguna. Bagi pembaca pasar retail, isu ini penting karena menyentuh langsung arah masa depan investasi digital dan siapa yang akan mendapat akses ke teknologi perdagangan paling canggih.
Tenev mengatakan visi “agentic trading” adalah menghadirkan seluruh kemampuan yang bisa dilakukan manusia ke dalam agen AI. Menurut dia, tujuan akhirnya di Robinhood adalah memberi orang biasa akses ke alat, komputasi, dan daya yang sama seperti yang telah dinikmati investor institusional dan firma perdagangan frekuensi tinggi selama beberapa dekade.
Robinhood sendiri sudah mulai bergerak ke arah itu. Pada Mei, perusahaan memperkenalkan alat berbasis AI yang dapat memperdagangkan saham dan melakukan pembelian untuk pengguna, yang oleh Tenev disebut sebagai bagian dari visi yang jauh lebih besar.
Agen AI dirancang untuk menyelesaikan tugas atas nama pengguna, dan teknologi ini kini menjadi fokus penting di banyak perusahaan AI besar seperti OpenAI dan Anthropic. Perkembangannya juga meluas cepat ke berbagai sektor, dari penulisan kode perangkat lunak hingga potensi penggunaan di bidang layanan pelanggan dan kesehatan.
Dari coding ke pasar saham
Dalam pengembangan perangkat lunak, Meta, Microsoft, dan Google telah menyatakan bahwa AI kini berkontribusi pada porsi besar kode mereka. Tren itu memperkuat keyakinan bahwa agen AI tidak hanya akan bertahan di satu fungsi teknis, tetapi bisa meluas ke pekerjaan lain yang sebelumnya dikerjakan manusia.
Startup AI Cognition baru-baru ini menggalang dana sebesar $1 miliar untuk agen coding miliknya, Devin. Agen tersebut disebut sudah digunakan secara luas di dalam perusahaan itu sendiri.
CEO Cognition, Scott Wu, mengatakan kepada TechCrunch bahwa AI seharusnya bekerja berdampingan dengan pengembang, bukan menggantikan mereka. Menurut dia, agen AI dapat mengambil alih tugas-tugas berulang sehingga programmer punya lebih banyak waktu untuk membangun produk baru.
Pandangan serupa tampaknya juga menjadi dasar pemikiran Robinhood. Alih-alih sekadar mengganti investor, agen AI diposisikan sebagai alat yang bisa menjalankan tugas kompleks dan berulang dengan tingkat kemampuan yang sebelumnya sulit dijangkau investor individu.
Mengapa Robinhood melihat pasar keuangan cocok untuk AI
Tenev menilai pasar keuangan adalah lahan yang alami untuk penerapan agen AI. Ia merujuk pada pengalamannya di perdagangan institusional sebelum mendirikan Robinhood, saat sistem perdagangan terprogram sudah digunakan secara nyata.
Menurut Tenev, sebagian besar transaksi dalam praktik profesional sebenarnya sudah otomatis dan didukung AI. Namun, kecerdasan dan kompleksitas seperti itu selama ini masih berada di luar jangkauan masyarakat umum.
Di titik inilah Robinhood ingin mengambil posisi. Perusahaan itu ingin membuat alat perdagangan yang canggih menjadi lebih mudah diakses investor individu, bukan hanya pemain besar di pasar.
Gagasan tersebut juga sejalan dengan identitas Robinhood sebagai platform yang sejak awal menargetkan perluasan akses ke pasar keuangan. Jika visi Tenev terwujud, batas antara alat investasi institusional dan alat bagi investor retail bisa semakin menipis.
Ekspansi bisnis tetap berjalan
Di tengah dorongan pada AI, Robinhood juga melanjutkan ekspansi internasionalnya. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan perdagangan kripto di Inggris sebagai bagian dari perluasan bisnisnya di Eropa.
Robinhood menyebut saat ini melayani hampir 28 juta pelanggan di 38 negara dan tiga benua. Skala itu memberi perusahaan basis pengguna yang besar untuk menguji dan memperluas layanan baru berbasis AI.
Saham Robinhood naik sekitar 8% pada Rabu dan bertambah 2% lagi dalam perdagangan premarket pada Kamis. Meski begitu, saham perusahaan masih turun sekitar 5% sepanjang tahun ini.
Pada April, Robinhood gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal pertama karena aktivitas perdagangan kripto yang lebih lemah. Namun, kondisi pasar kemudian membaik seiring penguatan pasar ekuitas dan meredanya ketegangan geopolitik.
Di saat yang sama, Robinhood juga memangkas tenaga kerja sebesar 10% pada awal bulan ini untuk meningkatkan efisiensi. Meski ada PHK, Tenev mengatakan bisnis Robinhood belum pernah sekuat sekarang dan perusahaan tidak bisa beroperasi sebagai organisasi yang terlalu berlapis.
Pesan yang muncul dari langkah-langkah itu cukup jelas. Robinhood sedang berusaha menjadi lebih ramping sambil bertaruh pada gelombang AI sebagai mesin pertumbuhan berikutnya, dengan ambisi membawa teknologi perdagangan tingkat institusi ke tangan investor sehari-hari.
Source: www.indiatoday.in






