OpenAI kembali kehilangan sosok penting di lini keselamatan. Johannes Heidecke, yang menjabat sebagai Head of Safety Systems, menyatakan mundur dari posisinya di tengah gelombang pergantian petinggi yang terus berulang.
Kondisi ini menambah sorotan pada cara OpenAI mengatur tim keselamatannya saat perusahaan melaju cepat dalam pengembangan model AI. Di satu sisi, kebutuhan rilis produk makin singkat, tetapi di sisi lain, pengawasan keselamatan justru makin rumit.
Perombakan yang Tak Kunjung Tenang
Rangkaian perubahan di divisi keselamatan OpenAI sudah berlangsung sejak lama dan bergerak sangat cepat. Dari Mei 2024 hingga Juli 2026, beberapa nama besar di area ini tercatat mundur atau dialihkan perannya.
| Waktu | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|
| Mei 2024 | Jan Leike mundur | Pemimpin tim Superalignment, yang kemudian dibubarkan |
| Oktober 2024 | Miles Brundage hengkang | Kepala kesiapan AGI |
| Oktober 2025 | Andrea Vallone pergi | Memimpin riset keselamatan terkait kesehatan mental |
| Februari 2026 | Tim Mission Alignment dibubarkan | Penerus tim Superalignment, Josh Achiam dialihkan menjadi Chief Futurist |
| Juli 2026 | Josh Achiam mundur sepenuhnya, lalu Johannes Heidecke mundur | Heidecke menyusul setelah Achiam meninggalkan OpenAI |
Menurut laporan Wired yang dikutip Gizmodo pada Senin (13/7/2026), posisi yang ditinggalkan Heidecke akan diambil alih oleh Mia Glaese. Ia menjabat sebagai VP sekaligus Head of Alignment.
Sementara itu, peran operasional Heidecke akan diisi sementara oleh Saachi Jain sebagai Interim Head of Safety Systems di bawah komando Glaese.
Alasan yang Diberikan OpenAI
Research Chief OpenAI, Mark Chen, mengatakan perubahan ini tidak lepas dari tuntutan industri yang bergerak terlalu cepat. Ia menyebut proses pelatihan model AI berlangsung jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.
“Tuntutan terhadap aspek keselamatan terus meningkat. Kami melatih model AI dengan ritme yang jauh lebih cepat, dan siklus rilis produk menjadi sangat singkat,” kata Chen kepada Wired.
“Akibatnya, kami menghadapi tantangan koordinasi terkait keselamatan yang lebih besar daripada sebelumnya,” ia menambahkan.
Penjelasan itu menempatkan perombakan tim keselamatan sebagai bagian dari adaptasi internal. Namun, perubahan yang berulang juga membuat publik bertanya-tanya apakah prioritas keselamatan di OpenAI sedang berubah arah.
Spekulasi yang Sulit Dihindari
Dari luar, prosedur pengujian keselamatan bisa dianggap sebagai hambatan birokrasi yang memperlambat kerja. Tetapi bagi pengamat teknologi, gelombang pergantian petinggi ini juga memunculkan kekhawatiran lain.
Spekulasi yang muncul adalah bahwa restrukturisasi tersebut bisa menjadi cara OpenAI memangkas ketatnya prosedur keselamatan demi mengejar peluncuran produk yang lebih cepat. Hingga kini, belum ada bukti langsung yang mendukung dugaan itu.
Yang jelas, OpenAI sedang berada di titik sensitif ketika ekspansi teknologi dan disiplin keselamatan harus berjalan bersamaan. Dengan pergantian yang terus terjadi di level pimpinan, perhatian publik pada arah kebijakan perusahaan tampaknya belum akan reda dalam waktu dekat.
