Lebih dari 200 ekonom, peneliti, dan pemimpin industri menyerukan pemerintah di berbagai negara untuk segera bersiap menghadapi dampak kecerdasan buatan atau AI. Mereka menilai perubahan pada pasar tenaga kerja dapat datang sangat cepat, sementara aturan dan lembaga untuk mengelolanya belum memadai.
Peringatan itu dituangkan dalam surat terbuka bertajuk Kita Harus Bertindak Sekarang, yang juga ditandatangani 16 peraih Nobel Ekonomi. Para penandatangan melihat AI berpotensi mengubah perekonomian dalam satu dekade ke depan secara lebih radikal dibanding Revolusi Industri.
Perbedaan utama terletak pada kecepatan perubahan yang dikhawatirkan terjadi. Jika pergeseran pekerjaan berlangsung dalam waktu singkat, banyak pekerja berisiko kehilangan mata pencaharian sebelum sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kebijakan ketenagakerjaan mampu menyesuaikan diri.
| Faktor | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah penandatangan | Lebih dari 200 ekonom, peneliti, dan pemimpin industri |
| Peraih Nobel Ekonomi | 16 orang |
| Horizon perubahan | Kemajuan kemampuan AI dalam 10 tahun ke depan |
| Risiko utama | Pergeseran tenaga kerja besar yang dapat mengganggu mata pencaharian |
AI Diminta Melengkapi, Bukan Menggantikan Manusia
Isi surat tersebut tidak menempatkan AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan taraf hidup dan membuka peluang ekonomi baru, tetapi manfaatnya tidak akan tersebar dan risikonya tidak akan terkendali tanpa persiapan kebijakan.
Para ahli meminta pemerintah membangun insentif, pagar pembatas, serta institusi yang mampu mengarahkan pemanfaatan AI. Arah yang mereka dorong adalah teknologi yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya secara paksa.
“Ekonom, pembuat kebijakan, dan pemimpin teknologi harus segera bertindak untuk memahami dampak ekonomi AI transformatif, serta membangun insentif, pagar pembatas, dan institusi yang dibutuhkan,” bunyi surat tersebut. Seruan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa keputusan penting tidak bisa menunggu sampai dampak buruk sudah meluas.
Menurut CNBC Indonesia, dukungan terhadap surat ini datang dari tokoh dengan pandangan yang beragam mengenai perkembangan AI. Ada pihak yang optimistis terhadap peluang teknologi tersebut, tetapi ada pula pengkritik yang selama ini menyoroti risiko sosial dan ekonomi dari otomatisasi.
Nama Besar Bersatu di Tengah Perbedaan Pandangan
Sejumlah nama yang tercantum di antara penandatangan adalah ekonom MIT peraih Nobel Daron Acemoglu dan Simon Johnson, serta ekonom Universitas New York Michael Spence. Daftar itu juga mencakup mantan CEO Google Eric Schmidt, peneliti OpenAI Sarah Friar, dan salah satu pendiri Anthropic Jack Clark.
Ekonom Stanford Erik Brynjolfsson, yang menjadi kepala penyusun pernyataan itu, menilai kesepakatan lintas pandangan tersebut tidak biasa dalam dunia akademik. Kepada The New York Times, ia mengatakan, “Saya masih melihat kesenjangan pemahaman yang besar, dan saya khawatir kita tidak akan siap menghadapi gelombang besar yang akan datang.”
Acemoglu, yang dikenal skeptis terhadap dampak AI, menyoroti kemungkinan tekanan yang lebih besar terhadap pekerja. “Jika robot telah mengubah sektor manufaktur secara drastis, dan AI melakukan hal serupa namun dalam waktu yang jauh lebih singkat, dampaknya akan sangat mengganggu dan merugikan mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.
Gejala Perubahan Mulai Terlihat
Perubahan di pasar tenaga kerja disebut mulai terasa, terutama di sektor teknologi yang mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja akibat restrukturisasi berbasis AI. Beberapa laporan juga menyebut teknologi ini mulai mendorong pekerja berusia lebih lanjut keluar dari lapangan kerja.
Di sisi lain, peluang bagi lulusan baru atau fresh graduate dilaporkan semakin terbatas. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa kelompok pekerja dengan posisi rentan dapat menghadapi tekanan lebih awal dalam masa transisi AI.
Meski demikian, belum ada kesepakatan mengenai besarnya dampak keseluruhan AI terhadap jumlah lapangan kerja. Sebagian pihak menilai pengaruhnya belum terlihat nyata, sementara pihak lain memperingatkan efek yang lebih besar mungkin baru tampak beberapa tahun mendatang.
Para penandatangan surat terbuka itu juga belum menawarkan solusi terperinci untuk setiap risiko yang muncul. Fokus mereka adalah mendorong para pemimpin dunia agar tidak menunda persiapan hingga kerusakan terhadap pekerjaan dan mata pencaharian sudah terjadi.
“Kita tidak boleh terlambat bersiap,” tegas para penandatangan. Pesan itu menjadi penekanan bahwa kesiapan kebijakan perlu berjalan seiring dengan laju pengembangan AI yang semakin cepat.
