Mesin sinar-X portabel untuk pertama kalinya berhasil dioperasikan di luar angkasa. Uji ini membuka peluang baru bagi layanan medis astronaut, terutama untuk misi manusia yang akan berlangsung lebih jauh dan lebih lama.
Gambar yang diambil di orbit memang belum menyamai kualitas pemindaian di Bumi. Namun, hasilnya dinilai cukup jelas untuk membantu dokter mengenali cedera penting, termasuk patah tulang.
Langkah Baru untuk Penanganan Cedera di Orbit
Selama ini, ultrasonografi atau USG menjadi salah satu alat utama untuk memeriksa kondisi tubuh astronaut di luar angkasa. Sinar-X menawarkan pilihan berbeda karena tidak memerlukan medium untuk perambatan gelombang seperti USG.
Perangkat sinar-X konvensional sulit dibawa dalam perjalanan antariksa. Ukurannya besar, memerlukan daya listrik tinggi, dapat menghasilkan gambar kurang optimal saat objek bergerak, dan berisiko rusak akibat guncangan peluncuran maupun pendaratan.
Kebutuhan alat diagnostik yang lebih ringkas menjadi semakin penting seiring rencana eksplorasi manusia ke Bulan. Rencana pembangunan pangkalan permanen di Bulan juga membuat potensi cedera astronaut perlu diperhitungkan.
Teknologi yang lebih baru memungkinkan hadirnya sinar-X portabel dengan ukuran jauh lebih kecil daripada mesin konvensional. Di Bumi, perangkat serupa telah digunakan di ajang olahraga hingga wilayah yang memiliki akses layanan kesehatan terbatas.
Dokter sekaligus Asisten Profesor Kedokteran Dirgantara Mayo Clinic, Sheyna Gifford, menyebut alat itu praktis dan mudah dioperasikan. Menurut laporan Space yang dikutip mediaindonesia.com, perangkat tersebut bahkan dapat menggunakan tenaga surya dan dijalankan oleh orang tanpa keahlian medis.
“Mesin sinar-X portabel digunakan di berbagai tempat, mulai dari Kentucky Derby, di pinggir lapangan Super Bowl, hingga di berbagai wilayah dengan sumber daya kesehatan yang terbatas di seluruh dunia,” kata Gifford.
Diuji dari Gravitasi Mikro hingga Misi Fram2
Tim Gifford lebih dulu menguji perangkat itu pada 2022 melalui penerbangan parabola. Penerbangan tersebut menciptakan kondisi gravitasi mikro yang menyerupai lingkungan di antariksa.
Dalam simulasi itu, awak penerbangan memakai mesin sinar-X untuk memotret tangan seseorang. Percobaan tersebut menjadi bukti awal bahwa perangkat dapat dioperasikan ketika tidak ada gravitasi.
| Tahap Pengujian | Waktu | Lingkungan | Hasil Utama |
|---|---|---|---|
| Penerbangan parabola | 2022 | Simulasi gravitasi mikro | Pemindaian tangan berhasil dilakukan |
| Misi Fram2 | 31 Maret 2025 | Orbit Bumi | Gambar medis digital berhasil direkam |
Uji coba di orbit dilakukan pada 31 Maret 2025 melalui Misi Fram2. Misi privat ini membawa empat astronaut pemula mengorbit Bumi selama 3,5 hari menggunakan wahana SpaceX Crew Dragon.
Keempat astronaut hanya menjalani pelatihan sekitar empat jam untuk mengoperasikan alat tersebut. Selama penerbangan, mereka mengambil gambar sinar-X jam tangan pintar, tangan, perut, panggul, dan dada.
Seluruh pemindaian disimpan dalam format digital. Metode ini memungkinkan hasil diperiksa langsung tanpa proses pencetakan atau pencucian film seperti sistem sinar-X konvensional.
Kualitas Belum Setara Bumi, tetapi Sudah Berguna
Setelah misi selesai, tiga pakar medis membandingkan hasil gambar dari orbit dengan pemindaian yang dibuat di Bumi sebelum peluncuran. Penilaian dilakukan secara independen untuk melihat seberapa layak gambar tersebut dipakai dalam kebutuhan medis.
Hasil pemindaian dari Bumi masih memiliki kualitas lebih baik. Meski begitu, gambar yang dihasilkan di orbit sudah cukup memadai untuk membantu proses diagnosis berbagai cedera.
Gifford menilai perangkat yang tersedia secara komersial berpeluang bertahan melewati pengujian sebelum peluncuran. Ia juga meyakini alat itu tetap bisa dipakai oleh astronaut yang hanya mendapat pelatihan minimal.
Keberhasilan ini belum menghapus semua keterbatasan pemeriksaan medis di luar angkasa. Namun, sinar-X portabel memberi opsi diagnostik tambahan ketika bantuan medis langsung dari Bumi tidak tersedia.







