Dalam upaya memperkuat infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, PT Ketrosden Triasmitra Tbk (“Triasmitra”) meluncurkan proyek ambisius SKKL Rising 8 yang bertujuan menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura melalui kabel laut super cepat. Proyek ini diharapkan tidak hanya mendongkrak konektivitas antara ketiga lokasi, tetapi juga memberikan sumbangsih signifikan terhadap pertumbuhan bisnis Triasmitra.
Dalam laporan keuangan yang disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025, Triasmitra mencatat pertumbuhan yang menggembirakan. Total pendapatan perusahaan mencapai Rp 556 miliar, meningkat 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Kami mengalami peningkatan yang lebih pesat di tahun 2024," ungkap Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi Patria. Pertumbuhan ini didorong oleh penjualan infrastruktur kabel laut SKKL Rising 8 yang melibatkan tiga pelanggan Off-Taker.
Strategi dan Proyek Utama
SKKL Rising 8 merupakan salah satu fokus utama perusahaan untuk memperkuat performa di masa depan. Kabel laut ini memiliki panjang 1.128,5 km, menggunakan sistem Repeater berkapasitas 25 terabita per pasangan serat optik, dan memanfaatkan teknologi dari Alcatel Submarine Network (ASN) serta kabel dari Norddeutsche Seekabelwerke (NSW). Proyek ini juga melibatkan kerjasama dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).
Triasmitra sudah mendapatkan izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta menyatakan bahwa Izin Membangun dari Direktorat Jenderal Hubla diproyeksikan keluar pada Juni 2025. "Kami ingin memastikan proyek ini berjalan sesuai jadwal," tambah Titus. Selain SKKL Rising 8, perusahaan juga menyiapkan kapal CLV Bentang Bahari untuk penggelaran kabel yang direncanakan berlangsung pada kuartal keempat 2025.
Komitmen terhadap Kualitas Layanan
Manajemen Triasmitra menekankan kualitas layanan sebagai prioritas utama. Penurunan waktu Mean Time to Repair (MTTR), peningkatan Core Availability, dan reduksi insiden fiber cut menjadi indikasi positif dari upaya perusahaan dalam mempertahankan standar layanan. "Kami mendapatkan kepercayaan tidak hanya dari XL Axiata, tetapi juga dari Fiberstar," tambah Titus.
Target Pertumbuhan
Triasmitra memiliki target pertumbuhan yang optimis, memproyeksikan peningkatan sebesar 22 persen pada tahun 2025, setara Rp 679 miliar. Persepsi positif ini berrenang pada kinerja segmen Developer yang akan memaksimalkan penjualan jalur kabel baik laut maupun darat yang sudah maupun sedang dibangun.
Ekspansi Jangka Panjang
Proyek lain yang juga menjadi sorotan adalah SKKL Indonesia Tengah, yang akan dikerjakan dalam dua tahap dengan panjang total 2.597 km, menghubungkan Sanur di Bali hingga Luwuk di Sulawesi Tengah. Tahap pertama, yang mencakup Sanur hingga Makassar, direncanakan mulai dikerjakan pada 2026, sementara tahap kedua dijadwalkan pada 2027. “Surat rekomendasi untuk survei laut sudah kami dapatkan, dan kami siap melaksanakan survei setelah proyek SKKL Rising 8 rampung,” kata Direktur Keuangan Triasmitra, Vidcy Octory.
Mendorong Konektivitas Nasional
Dengan proyek-proyek besar seperti SKKL Rising 8 dan SKKL Indonesia Tengah, Triasmitra bertekad untuk meningkatkan konektivitas nasional ke level yang lebih tinggi. Penggunaan kapal Bentang Bahari dalam penggelaran kabel laut juga diharapkan tidak hanya menyelesaikan tugas secara tepat waktu, tetapi juga beroperasi secara komersil penuh pada tahun 2026.
Melalui langkah-langkah strategis ini, Triasmitra menunjukkan komitmennya dalam memperkuat infrastruktur telekomunikasi Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor. Dengan dukungan teknologi dan inovasi, perusahaan ini siap menjadi pionir dalam mempercepat perkembangan jaringan telekomunikasi di era digital.
