Lonjakan Penyaluran Kredit Dorong Pertumbuhan Uang Beredar Desember Ini

Bank Indonesia melaporkan bahwa uang beredar dalam arti luas (M2) mengalami kenaikan signifikan pada Desember 2025. Bank sentral mencatat pertumbuhan M2 mencapai 9,6 persen year on year (yoy) atau sebesar Rp10.133,1 triliun.

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat di angka 8,3 persen yoy. Kenaikan M2 didorong oleh dua faktor utama, yakni meningkatnya tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat serta pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih tinggi.

Pertumbuhan Uang Beredar (M2)

Komponen uang beredar sempit (M1) tumbuh sebesar 14,0 persen yoy, sementara uang kuasi (savings dan deposito berjangka) bertumbuh 5,5 persen yoy. Kenaikan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat mencapai 13,6 persen yoy, lebih baik dari bulan November yang hanya 8,7 persen yoy.

Penyaluran Kredit yang Semakin Meningkat

Penyaluran kredit bank umum pada Desember 2025 tercatat tumbuh 9,3 persen yoy. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada November 2025 yaitu sebesar 7,9 persen yoy. Kredit yang dimaksud hanya mencakup pinjaman langsung (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan lain yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga atau tagihan akseptasi.

Selain itu, kredit yang disalurkan juga tidak mencakup pinjaman oleh kantor bank yang berkedudukan di luar negeri maupun kredit yang diberikan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.

Aktiva Luar Negeri dan Uang Primer yang Meningkat

Aktiva luar negeri bersih bank umum tumbuh 8,9 persen yoy pada Desember 2025, sedikit menurun dibandingkan November yang 9,7 persen yoy. Sementara itu, uang primer (M0) yang sudah disesuaikan (adjusted) tumbuh signifikan sebesar 16,8 persen yoy atau mencapai Rp2.367,8 triliun. Ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 13,3 persen yoy.

Pertumbuhan M0 adjusted ini didorong oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia sebesar 35,1 persen yoy dan juga peningkatan uang kartal yang beredar sebesar 12,9 persen yoy. Perhitungan M0 sudah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter yang disesuaikan.

Faktor-faktor Pendukung Pertumbuhan Likuiditas

  1. Tagihan bersih ke pemerintah pusat yang meningkat karena pengelolaan fiskal dan keuangan negara.
  2. Pertumbuhan kredit yang cukup kuat menandakan permintaan pembiayaan dari sektor usaha dan konsumen juga meningkat.
  3. Kenaikan giro dan uang kartal yang beredar menunjukkan likuiditas di perbankan semakin longgar.

Bank Indonesia terus memantau perkembangan likuiditas dan penyaluran kredit agar mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pertumbuhan uang beredar dan kredit yang sehat bisa menjadi indikator positif bagi stabilitas moneter dan pemulihan ekonomi nasional.

Data terbaru ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian moneter dan kebijakan fiskal berjalan sejalan guna menjaga keseimbangan antara likuiditas dan tekanan inflasi. Ekonom dan pelaku pasar diharapkan memperhatikan tren ini sebagai sinyal fundamental ekonomi yang semakin kuat di akhir 2025.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button