Harga minyak dunia pada Rabu, 28 Januari 2026, menunjukkan pergerakan yang beragam. Minyak mentah Brent tercatat turun tipis sebesar 6 sen atau 0,1 persen menjadi 67,51 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat justru naik 4 sen atau 0,1 persen menjadi 62,43 dolar AS per barel meskipun kedua harga ini sempat melonjak sekitar 3 persen pada hari sebelumnya.
Pengaruh Badai Musim Dingin Terhadap Pasokan Minyak
Gangguan pasokan minyak akibat badai musim dingin yang hebat di Amerika Serikat menjadi pemicu utama fluktuasi harga tersebut. Produksi minyak nasional AS turun drastis hingga sekitar 15 persen atau sekitar 2 juta barel per hari. Selain itu, badai menyebabkan infrastruktur energi dan jaringan listrik di kawasan Teluk (Gulf Coast) lumpuh total, sehingga menghambat seluruh aktivitas ekspor minyak mentah dan LNG pada akhir pekan lalu.
Menurut Toshitaka Tazawa, analis Fujitomi Securities, "Dampak gelombang dingin di AS dan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Kazakhstan mendukung harga, tetapi begitu kekhawatiran pasokan mereda, tekanan jual kemungkinan akan kembali." Ia menambahkan bahwa harga WTI diprediksi stabil sekitar 60 dolar AS per barel karena ada keseimbangan antara potensi kelebihan stok global dan risiko konflik geopolitik.
Situasi Produksi dan Ketegangan Geopolitik
Selain gangguan di AS, ladang minyak di Tengiz, Kazakhstan, juga masih menghadapi pemulihan yang lambat pasca insiden kebakaran dan gangguan listrik. Produksi normal diperkirakan belum menyentuh 50 persen sampai awal Februari 2026. Namun, terminal Laut Hitam milik perusahaan CPC sudah kembali beroperasi normal setelah perbaikan fasilitas tambat selesai dilakukan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas dengan kedatangan kapal induk AS ke wilayah tersebut. Langkah ini memungkinkan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan pertahanan bahkan membuka peluang aksi militer terhadap Iran. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran pasar tentang kemungkinan gangguan pasokan minyak global lebih lanjut.
Kebijakan OPEC+ dan Perkiraan Stok Energi AS
Aliansi OPEC+ diprediksi akan mempertahankan kebijakan produksi minyak yang tidak akan dinaikkan pada bulan Maret mendatang. Keputusan resmi mengenai hal ini akan disampaikan dalam pertemuan awal Februari. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian pasokan dan permintaan global.
Sementara itu, data cadangan energi AS menunjukkan ketidakpastian. Survei Reuters memperkirakan adanya kenaikan stok minyak dan bensin. Namun, laporan terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan penurunan stok minyak mentah dan bensin, dengan peningkatan pada produk sulingan.
Pergerakan harga minyak Brent dan WTI tetap dipengaruhi oleh kompleksitas faktor-faktor cuaca ekstrem, masalah teknis di ladang minyak, serta dinamika politik global. Pemantauan terhadap kondisi ini menjadi krusial untuk memproyeksikan stabilitas pasar minyak mentah dalam beberapa waktu ke depan.
Baca selengkapnya di: www.suara.com