Iran Tetapkan Tarif Selat Hormuz, Bitcoin Malah Terkapar Saat Dunia Mengamati Kurang Signifikan

Iran kini memberlakukan tarif transit di Selat Hormuz dan mewajibkan kapal komersial membayarnya dengan Bitcoin. Kebijakan itu muncul saat harga Bitcoin justru melemah, dari sekitar USD 73.000 pada Sabtu menjadi kisaran USD 71.000 pada Minggu, 12 April 2026.

Langkah Tehran menunjukkan bagaimana aset kripto dipakai bukan hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai alat transaksi lintas batas di tengah tekanan sanksi internasional. Meski begitu, reaksi pasar tidak selalu sejalan dengan narasi adopsi tersebut karena sentimen harga Bitcoin masih dipengaruhi banyak faktor global.

Tarif baru di jalur pelayaran paling strategis

Selat Hormuz tetap menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Iran kini mewajibkan kapal komersial yang melintas membayar tarif sebesar 1 dolar AS per barel minyak, atau sekitar Rp17.122 per barel.

Kebijakan ini disampaikan melalui keterangan Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran. Ia menegaskan bahwa Iran ingin menjaga aktivitas ekonominya tetap berjalan meski menghadapi sanksi dari negara-negara Barat.

Bitcoin dipilih untuk menghindari sistem keuangan Barat

Iran menggunakan Bitcoin karena aset digital itu tidak bergantung pada bank koresponden, sistem pembayaran konvensional, atau dolar AS. Menurut Hosseini, penggunaan kripto menjadi cara untuk beroperasi di luar jangkauan otoritas Amerika Serikat.

“Penggunaan Bitcoin merupakan upaya untuk memanfaatkan sistem keuangan yang berada di luar kendali dan jangkauan pemerintah Amerika Serikat,” ujar Hosseini. Ia menjelaskan bahwa strategi ini dirancang untuk membantu Iran menghindari sanksi internasional lewat jalur keuangan alternatif.

Skema pembayaran dibuat berlapis dan terverifikasi

Iran tidak membuka pembayaran ini secara sembarangan. Operator kapal harus mengirim detail muatan melalui email kepada otoritas terkait sebelum memasuki area Selat Hormuz.

Setelah data diverifikasi, otoritas menghitung tarif dan meminta pembayaran dikirim ke dompet Bitcoin yang telah ditentukan. Kapal baru boleh melanjutkan pelayaran setelah transaksi terkonfirmasi di jaringan blockchain.

  1. Operator kapal mengirim data muatan lebih dulu.
  2. Otoritas Iran memverifikasi informasi tersebut.
  3. Tarif transit dihitung sesuai volume minyak.
  4. Pembayaran dilakukan dalam Bitcoin.
  5. Pelayaran dilanjutkan setelah transaksi masuk blockchain.

Pengawasan muatan juga menjadi alat keamanan

Selain soal pungutan, Iran memakai proses verifikasi digital ini untuk memantau muatan kapal secara lebih ketat. Otoritas setempat ingin memastikan tidak ada penyelundupan senjata yang melewati perairan strategis tersebut.

Dengan pendekatan ini, Iran berupaya menjaga kendali atas wilayahnya tanpa harus melakukan blokade fisik yang berisiko memicu eskalasi lebih luas. Komoditas energi seperti minyak tetap diizinkan lewat selama kewajiban pembayaran dipenuhi.

Harga Bitcoin malah terkoreksi

Di pasar kripto, kabar penggunaan Bitcoin oleh Iran tidak langsung mendorong reli harga. Pada saat kebijakan itu menjadi sorotan, Bitcoin justru bergerak turun dari kisaran USD 73.000 menjadi sekitar USD 71.000.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa adopsi Bitcoin oleh sebuah negara tidak otomatis menjadi katalis jangka pendek bagi harga. Pasar kripto masih dipengaruhi sentimen makro, ekspektasi suku bunga, aliran dana institusi, dan aksi ambil untung trader.

Faktor yang ikut menekan sentimen pasar

Koreksi harga Bitcoin pada saat yang sama bisa dibaca sebagai tanda bahwa pasar sedang berhati-hati. Investor biasanya merespons aset berisiko secara cepat ketika ada ketidakpastian geopolitik atau perubahan ekspektasi likuiditas global.

Dalam konteks seperti ini, kabar tentang Iran justru lebih menegaskan fungsi utilitas Bitcoin sebagai alat transaksi, bukan semata-mata pendorong harga. Pasar sering membedakan antara penggunaan nyata dan pergerakan spekulatif, sehingga keduanya tidak selalu bergerak searah.

Apa arti kebijakan ini bagi pasar kripto

Secara jangka panjang, langkah Iran bisa memperkuat narasi bahwa Bitcoin makin relevan sebagai instrumen pembayaran lintas negara. Namun, untuk pergerakan harga harian, faktor permintaan dan penawaran di bursa tetap menjadi penentu utama.

Situasi ini juga memperlihatkan bahwa adopsi institusional atau negara tidak selalu langsung mendorong harga naik. Pada saat yang sama, kebijakan Iran menambah contoh bahwa aset digital kini masuk ke ranah geopolitik, perdagangan energi, dan keamanan maritim.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version