Laba Anjlok 67,55 Persen, Alamtri Tetap Tebar Dividen Final Rp3,39 Triliun

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memutuskan pembagian dividen tunai final senilai US$197,5 juta atau setara Rp3,39 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 di Jakarta pada Jumat (17/4). Keputusan ini melengkapi distribusi laba bersih tahun buku 2025 yang hampir seluruhnya dibagikan kepada pemegang saham.

Manajemen ADRO mengalokasikan 99,96 persen dari laba bersih sebesar US$447,69 juta sebagai dividen tunai. Sebelumnya, perusahaan sudah menyalurkan dividen interim sebesar US$250 juta pada 15 Januari 2026, sehingga total dividen yang dibagikan mencapai US$447,5 juta.

Pembagian hampir seluruh laba bersih

Dalam keputusan RUPST, perseroan menyisakan US$194,22 ribu atau sekitar 0,04 persen sebagai saldo laba. Langkah ini menunjukkan kebijakan distribusi keuntungan yang agresif, meski kinerja fundamental perusahaan mengalami tekanan sepanjang tahun buku 2025.

Pernyataan perusahaan menegaskan bahwa sisa laba final tersebut akan diberikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai. Skema ini menjadi perhatian pasar karena nilai pembagiannya besar dan nyaris setara dengan total laba bersih yang berhasil dicetak perusahaan.

Laba dan pendapatan turun, tetapi dividen tetap besar

Dari sisi kinerja, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADRO turun 67,55 persen secara tahunan menjadi US$447,69 juta atau sekitar Rp7,59 triliun. Penurunan laba ini sejalan dengan melemahnya pendapatan usaha yang terkoreksi 9,86 persen menjadi US$1,87 miliar dari sebelumnya US$2,07 miliar.

Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi emiten milik konglomerat Garibaldi “Boy” Thohir itu dalam menjaga performa usaha. Meski demikian, perusahaan tetap memilih membagikan porsi laba yang sangat besar kepada investor melalui dividen interim dan dividen final.

Kontributor utama pendapatan perseroan

Berdasarkan laporan keuangan, sektor jasa pertambangan menjadi penopang terbesar pendapatan ADRO dengan kontribusi US$1 miliar. Segmen perdagangan batu bara menyusul dengan sumbangan US$968,8 juta, sementara pos pendapatan lainnya tercatat sebesar US$60,52 juta.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan juga turun 2,67 persen menjadi US$1,23 miliar. Penurunan beban ini membantu menjaga ruang keuntungan, meski belum mampu mengimbangi pelemahan top line perusahaan sepanjang periode berjalan.

Posisi aset masih tumbuh tipis

Di tengah tekanan laba dan pendapatan, total aset ADRO tetap mencatat kenaikan tipis 1,71 persen menjadi US$6,81 miliar hingga akhir 2025. Kondisi ini memberi gambaran bahwa struktur neraca perusahaan masih terjaga, meski laju pertumbuhan bisnis melambat.

Perseroan kini disebut terus fokus mengoptimalkan kinerja lini jasa pertambangan dan perdagangan untuk menjaga stabilitas keuangan. Arah itu penting mengingat pembagian dividen jumbo dilakukan saat profitabilitas sedang menurun tajam.

Bagi investor, keputusan RUPST ini menegaskan komitmen ADRO dalam memberikan imbal hasil dari laba perusahaan. Dengan dividen interim dan dividen final yang sudah ditetapkan, hampir seluruh laba bersih tahun buku 2025 akhirnya kembali ke pemegang saham.

Berita Terkait

Back to top button