Rp 28 Triliun Kabur dari Indonesia, Ketegangan Global Membalik Arus Modal di Awal 2026

Bank Indonesia mencatat modal asing keluar dari pasar keuangan domestik pada Kuartal I 2026. Total arus keluar itu mencapai 1,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 28 triliun, dan kondisi tersebut terjadi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tekanan utama datang dari gejolak geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mendorong investor global lebih memilih aset aman, termasuk pasar uang AS, sehingga dana portofolio beralih dari pasar negara berkembang.

Tekanan pasar global memicu outflow

Dalam konferensi pers yang dikutip dari Money, Perry menjelaskan bahwa investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat net outflows sebesar 1,7 miliar dollar AS. Angka ini menggambarkan bahwa aliran dana asing ke Indonesia tertekan pada awal tahun karena investor menahan risiko di tengah situasi global yang belum stabil.

Perpindahan modal ke aset aman menjadi pola yang umum saat pasar menghadapi ketidakpastian tinggi. Dalam situasi seperti itu, pasar keuangan domestik biasanya ikut terdampak karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada instrumen berisiko.

Arus dana mulai kembali masuk pada April

Meski sempat keluar pada kuartal pertama, data BI menunjukkan pergerakan modal asing mulai membaik pada awal Kuartal II 2026. Sepanjang 1-20 April, modal asing tercatat kembali masuk ke Indonesia sebesar 1,9 miliar dollar AS.

Arus masuk tersebut terutama mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI dan Surat Berharga Negara atau SBN. BI menyebut daya tarik kedua instrumen itu didorong oleh imbal hasil yang semakin kompetitif bagi investor portofolio asing.

BI memperkuat instrumen moneter

Perry mengatakan BI akan terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga aliran masuk modal. Langkah itu diarahkan agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga ketika pasar global masih bergerak sensitif terhadap sentimen eksternal.

Ia juga menegaskan bahwa struktur suku bunga instrumen moneter diperkuat untuk menarik investasi portofolio asing. Dengan strategi itu, BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar keuangan dan kebutuhan pembiayaan domestik.

Hingga 21 April 2026, posisi SRBI tercatat mencapai Rp 885,41 triliun. Dari total itu, kepemilikan nonresiden berada di angka Rp 165,98 triliun atau sekitar 18,75 persen dari total outstanding.

Pembelian SBN jadi bagian dari sinergi kebijakan

Selain mengelola instrumen moneter, BI juga melakukan pembelian SBN untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Langkah ini disebut sebagai bentuk sinergi kebijakan moneter dan fiskal pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi.

Nilai pembelian SBN oleh BI hingga 21 April 2026 mencapai Rp 111,54 triliun. Dari jumlah tersebut, pembelian di pasar sekunder tercatat sebesar Rp 56,53 triliun.

Perry menegaskan bahwa pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar. Ia menyebut langkah itu dilakukan secara terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian serta mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa keluar-masuknya modal asing masih sangat ditentukan oleh arah sentimen global. Di sisi lain, kombinasi penguatan instrumen moneter, daya tarik imbal hasil, dan dukungan likuiditas menjadi faktor penting bagi Indonesia untuk menjaga agar arus modal kembali stabil di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.

Berita Terkait

Back to top button