Benih Unggul Jadi Benteng Pasokan Hortikultura, Ewindo Kejar Produktivitas Petani Di Tengah Biaya Melonjak

PT East West Seed Indonesia (Ewindo) memperkuat pengembangan benih unggul adaptif untuk menjaga pasokan hortikultura nasional di tengah tekanan perubahan iklim. Langkah ini juga diarahkan untuk membantu petani menghadapi biaya produksi yang makin berat dan menjaga aliran sayuran tetap lancar dari lahan ke pasar.

Fokus utama Ewindo adalah memastikan benih berkualitas selalu tersedia agar rantai pasok tidak terganggu. Hal ini menjadi penting karena sayuran termasuk komoditas yang cepat rusak dan harus segera sampai ke konsumen dalam kondisi segar.

Menjaga pasokan tetap kontinuitas

Managing Director Ewindo, Glenn Pardede, menegaskan bahwa kestabilan pasokan menjadi kunci utama dalam bisnis hortikultura. Ia menilai, sayur tidak bisa disimpan lama sehingga ketersediaan benih harus dijaga sejak awal produksi.

“Yang diperlukan itu kontinuitas suplai, karena sayur tidak bisa disimpan lama, harus selalu fresh. Maka benih harus selalu tersedia agar pasokan terjaga sampai ke konsumen,” ujar Glenn Pardede.

Pernyataan itu menyoroti posisi benih sebagai titik awal dari rantai pasok hortikultura. Jika benih tidak tersedia atau tidak sesuai kebutuhan lahan, produksi bisa tersendat dan berimbas pada stok di pasar.

Produktivitas petani menjadi perhatian

Ewindo juga menempatkan peningkatan hasil panen sebagai sasaran penting dari pengembangan varietas unggul. Berdasarkan riset internal perusahaan, penggunaan teknologi benih terbaru dinilai mampu memberi dampak nyata terhadap output petani.

Glenn menyebut benih berkualitas unggul dapat meningkatkan hasil panen sekitar 20 sampai 50 persen. Menurut dia, selisih produktivitas itu membuat petani membutuhkan benih yang lebih baik agar hasil produksi bisa lebih optimal.

Di sisi lain, ketahanan produksi dalam hortikultura ikut ditentukan oleh kemampuan benih menyesuaikan kondisi lapangan. Varietas yang tepat bukan hanya mendorong panen lebih tinggi, tetapi juga membantu petani menjaga efisiensi usaha tanam.

Tekanan biaya produksi makin berat

Situasi pertanian pada 2026 disebut semakin menantang karena pengaruh El Nino dan kenaikan harga input produksi. Glenn mengungkapkan harga pupuk dan pestisida naik sekitar 40 persen, sedangkan harga plastik melesat lebih dari 100 persen.

Kenaikan biaya ini membuat beban operasional petani lokal semakin besar. Dalam kondisi seperti itu, benih unggul menjadi salah satu cara untuk menahan tekanan biaya melalui hasil panen yang lebih baik dan lebih adaptif terhadap kondisi lahan.

“Harga pupuk dan pestisida sudah naik sekitar 40 persen, plastik bahkan di atas 100 persen. Ini membuat biaya tanam semakin berat bagi petani,” kata Glenn Pardede.

Benih harus sesuai dengan karakter lahan

Ewindo merespons tantangan tersebut dengan mengembangkan varietas yang dirancang secara genetik untuk lokasi tanam tertentu. Pendekatan ini penting karena kebutuhan tanaman di dataran rendah dan dataran tinggi tidak selalu sama.

Glenn menjelaskan bahwa, meski jenis tanamannya sama, karakter ketahanannya bisa berbeda sesuai wilayah. Pada cabai misalnya, varietas untuk dataran rendah harus lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan varietas untuk dataran tinggi.

“Untuk varietas unggul, yang penting itu harus adaptif. Untuk tanaman cabe misalnya, walaupun dia sama, tapi secara genetik dia berbeda,” ujar Glenn Pardede. Pendekatan berbasis adaptasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat perbedaan kondisi lingkungan.

Edukasi budidaya ikut diperluas

Selain memperkuat riset benih, Ewindo juga memperluas jangkauan edukasi melalui kolaborasi dengan sektor akademis dan digitalisasi pembelajaran. Program ini mencakup pengenalan budidaya pertanian di lingkungan perkotaan serta di institusi pendidikan.

Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung pemahaman masyarakat mengenai pangan sehat dan praktik budidaya yang benar. Menurut Glenn, benih unggul baru akan memberi hasil maksimal jika petani juga memahami teknik tanam yang tepat.

“Kami percaya benih unggul harus diikuti praktik budidaya yang benar. Karena produk bagus tidak akan optimal kalau petani tidak memahami cara tanam yang tepat,” tegas Glenn Pardede.

Upaya pengembangan benih unggul, penyesuaian varietas terhadap kondisi lahan, dan penguatan edukasi budidaya menunjukkan bahwa sektor hortikultura membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Dalam situasi biaya produksi yang naik dan iklim yang makin sulit diprediksi, ketersediaan benih adaptif tetap menjadi salah satu penopang utama agar pasokan hortikultura nasional terjaga.

Exit mobile version